Kamis, 30 April 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Hari Ini Kamis 30 April 2026, Akulah Dia

Mari simak renungan  Katolik hari ini Kamis 30 April 2026. Tema renungan katolik hari ini yaitu "Akulah Dia".

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Hari Ini Kamis 30 April 2026, Akulah Dia
TRIBUNFLORES.COM / HO-BRUDER
Br. Pio Hayon, SVD. Mari simak renungan  Katolik hari ini Kamis 30 April 2026. Tema renungan katolik hari ini yaitu "Akulah Dia". 

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.

Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus.

Santo Pius V, Paus

Antonius Ghislieri adalah nama kecil Paus Pius V (1566-1572) . Ia lahir di desa Bosko, tidak jauh dari Milano pada tahun 1504. Orangtuanya miskin sehingga tidak mampu membiayai sekolahnya. Oleh karena itu Antonio sendiri berusaha bekerja untuk membantu orangtuanya. Kerjanya setiap hari adalah menjaga domba-domba mereka di pegunungan. Tetapi atas bantuan seorang dermawan, Antonio di sekolahkan di kampung asalnya di bawah bimbingan imam-imam Dominikan. Kemudian hari Antonio masuk biara Dominikan dan ternyata menjadi seorang biarawan yang pandai dan bijaksana serta taat pada aturan-aturan ordonya, taat pada pimpinan, suka akan kemiskinan dan kemurnian.

Ia menjadi mahaguru filsafat dan teologi. Pada umur 52 tahun, ia ditabhiskan menjadi Uskup dan setahun kemudian menjadi Kardinal. Pada tahun 1565, Paus Pius IV meninggal dunia. Para kardinal berkumpul dalam konklaf untuk memilih Paus baru. Pemilihan ini tidaklah mudah. Tiga minggu telah berlalu, tetapi pemilihan belum juga berhasil menemukan seseorang untuk menduduki tahkta kePausan. Akhirnya atas nasebat Karolus Borromeus yang hadir juga dalam konklaf itu, Antonio Ghislieri terpilih menjadi Paus. Seluruh gereja bersorak gembira karena mempunyai seorang Paus baru yang saleh dan suci.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin gereja, beliau menghadapi banyak masalah. Ia berusaha mewujudkan keputusan-keputusan Konsili Trente. Tugasnya ini dijalankan dengan baik. Ia dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Hidup sebagai seorang rahib tetap dipertahankannya. Baginya, doa merupakan senjata ampuh untuk menghadapi segala rintangan dan masalah. Tempat tidurnya dialasi dengan jerami kasar. Penderitaan Kristus direnungkannya setiap hari disertai dengan doa rosario. Kemenangan umat Kristen atas angkatan laut Turki dalam perang salib di Lavanto, diperoleh berkat doa rosario dari seluruh umat Katolik di seluruh dunia.

Dalam masa kepemimpinannya, beliau menyederhanakan cara hidup kePausan di Vatikan; menginstruksikan pembaharuan cara hidup ordo-ordo dan para imam projo; membrantas korupsi yang terjadi di Roma dan negara KePausan Vatikan; menginstruksikan pendirian seminari-seminari di setiap keuskupan. Semua rencana yang dirancangnya berhasil baik. Pada tanggal 1 Mei 1572, ia meninggal dunia setelah 6 tahun menjadi pemimpin gereja sejagat.

Renungan Harian Katolik

“Akulah Dia”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Dalam Hari Kamis pekan Paskah keempat, Gereja menuntun kita melihat bahwa iman yang bertumbuh selalu membawa kita pada perutusan. Yesus tidak hanya mengajar, tetapi mengutus murid-murid-Nya untuk melanjutkan karya keselamatan. Hari ini, Injil memperlihatkan sikap yang perlu menyertai perutusan itu: kerendahan hati, menerima martabat Sabda yang diwartakan, dan menyadari bahwa orang yang menerima utusan sedang berhadapan dengan Kristus sendiri. Tema khusus hari ini terungkap dari Injil: “Menerima utusan Tuhan.”

Saudara-saudari terkasih. 

Dalam bacaan  ini (Kis 13:13-25) Paulus dalam kotbahnya mengingat perjalanan sejarah keselamatan: Allah memilih bangsa-Nya, memelihara, dan menyiapkan jalan melalui janji-janji-Nya. Penekanannya bukan pada “cerita masa lalu”, melainkan pada kebenaran bahwa Allah setia pada janji dan membawa pemenuhan keselamatan dalam diri Yesus. Dengan demikian, pewartaan selalu bersumber pada karya Allah yang nyata.
Sementara dalam Injil (Yoh 13:16-20) Yesus menegaskan bahwa murid tidak lebih daripada gurunya, dan utusan tidak lebih daripada yang mengutusnya. Siapa menerima utusan berarti menerima pengutus.

Maka, ketika murid menjalankan tugasnya, ia bukan berdiri atas namanya sendiri; ia membawa dan mewartakan apa yang berasal dari Kristus. Poin refleksi kita adalah “Cara respect”: Apa yang kita hormati saat berhadapan dengan pewartaan dan pelayanan? Permenungan kita: saat mendengar Sabda atau menerima nasihat rohani, apakah kita mendekati dengan sikap terbuka atau sekadar menghakimi karena pembawa pesan manusia? Hari ini, belajar menghormati karya Allah di balik setiap utusan. “Kecil dihadapan Kristus”:  Dalam Injil menyebut bahwa murid tidak lebih dari gurunya. Ini berarti perutusan bukan ajang pamer diri. Permenungan kita: apakah kita tergoda untuk mencari sorotan dalam pelayanan/kehidupan beriman agar kita diakui, dipuji, atau merasa “paling benar”?  “Allah setia pada janji”: di manakah kita perlu mempercayakan masa depan kita? Bacaan pertama mengajak kita melihat kepastian Allah. Permenungan kita: renungkan satu pergumulan yang belum jelas: apa yang bisa kita serahkan karena kita percaya Allah bekerja dalam sejarah dan langkah kita, bukan hanya dalam keinginan kita sendiri.

Saudara-saudari terkasih,

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved