Unika Santu Paulus Ruteng
Unika Ruteng dan Pemkab Mabar Susun Bahan Ajar Muatan Lokal Bagi Siswa SD dan SMP
Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Unika-dan-Pemkab-Mabar.jpg)
Ringkasan Berita:Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan dan Penyusunan Bahan Ajar Muatan Lokal (Mulok) Budaya Manggarai untuk jenjang SD dan SMP, Selasa (2/6/2026).
Penulis: Selvianus Hadun
TRIBUNFLORES.COM,LABUAN BAJO- Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan dan Penyusunan Bahan Ajar Muatan Lokal (Mulok) Budaya Manggarai untuk jenjang SD dan SMP, Selasa (2/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Labuan Bajo tersebut menjadi langkah awal penyusunan kurikulum muatan lokal yang relevan dengan identitas budaya dan kebutuhan pembangunan daerah.
FGD ini mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pemerhati pendidikan, tokoh budaya, serta tim penyusun kurikulum dari Unika St. Paulus Ruteng untuk merumuskan arah pengembangan Mulok Budaya Manggarai yang kontekstual dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Unika St. Paulus Ruteng dalam pengembangan pendidikan berbasis budaya lokal.
Baca juga: Magang di SMK Karya Ruteng, Mahasiswa Teologi Unika Ruteng Belajar Menjadi Pendidik Berkarakter
Muatan Lokal Menjadi Sarana Merawat Identitas Budaya
Rektor, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic.Theol., dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan harus mampu membentuk generasi yang mengenal jati diri, mencintai budaya, memahami lingkungan, serta memiliki tanggung jawab terhadap masa depan daerahnya.
Menurutnya, muatan lokal tidak boleh dipandang sebagai mata pelajaran pelengkap dalam kurikulum sekolah.
“Muatan Lokal bukanlah sekadar mata pelajaran tambahan dalam kurikulum. Muatan Lokal adalah ruang strategis untuk mentransmisikan nilai, pengetahuan, kearifan lokal, sejarah, bahasa, seni, tradisi, serta cara hidup masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” tegas Rektor.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak Manggarai Barat perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan dunia tanpa kehilangan akar budayanya.
“Melalui Mulok, sekolah menjadi tempat di mana anak-anak Manggarai Barat belajar menjadi warga dunia tanpa kehilangan akar budayanya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Rektor melihat penyusunan kurikulum muatan lokal sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang berangkat dari pengalaman hidup, budaya, dan identitas masyarakat setempat.