Minggu, 31 Mei 2026

Berita Manggarai Timur

Crossway Waemusur Ambruk, Warga Terpaksa Bayar Rp 50 Ribu agar Motor Bisa Lewat

Sejak crossway tersebut putus diterjang banjir pada Rabu, 13 Mei 2026 lalu, akses masyarakat di Desa

Tayang:
Penulis: Robert Ropo | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Crossway Waemusur Ambruk, Warga Terpaksa Bayar Rp 50 Ribu agar Motor Bisa Lewat
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/ROBERT ROPO
GOTONG - Warga sedang menggotong sepeda motor untuk melintasi Sungai Waemusur, pasca amruknya crossway, Jumat 22 Mei 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Crossway Waemusur ambruk akibat banjir bandang, akses tiga desa di Manggarai Timur terganggu.
  • Warga harus membayar Rp 50 ribu untuk memikul motor menyeberangi Sungai Waemusur.
  • Masyarakat meminta pemerintah segera membangun jembatan permanen.

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, BORONG - Ambruknya Crossway Waemusur, Manggarai Timur akibat banjir bandang membuat warga di Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur, harus merogoh kocek hingga Rp 50 ribu hanya untuk menyeberangkan sepeda motor melewati derasnya Sungai Waemusur.

Sejak crossway tersebut putus diterjang banjir pada Rabu, 13 Mei 2026 lalu, akses masyarakat di Desa Bea Ngencung, Desa Lidi, dan Desa Satar Lenda menjadi terganggu.

Warga maupun pengguna jalan lintas selatan Sok–Wae Care kini bergantung pada jasa warga setempat yang menggotong motor melintasi sungai.

“Kami harus bayar Rp 50 ribu untuk pikul motor, baik dari arah Borong maupun sebaliknya. Kalau pergi pulang berarti Rp 100 ribu. Kalau tidak bayar, motor tidak bisa lewat,” ujar Atok Rabut, salah seorang pengguna jalan, kepada TRIBUNFLORES.COM, Jumat, 22 Mei 2026.

 

Baca juga: Akses Jalan Paka - Ntaur Manggarai Timur Lumpuh, Evakuasi Longsor Dihentikan Sementara

 

 

Menurut Atok, kondisi tersebut semakin memberatkan masyarakat di tengah tekanan ekonomi dan tingginya biaya hidup.

Ia berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar warga tidak terus mengalami kesulitan setiap kali banjir melanda.

“Kami berharap dibangun jembatan permanen, bukan crossway lagi. Arus sungai ini sangat deras dan sering terjadi banjir bandang,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Kepala Desa Bea Ngencung, Evaristus Imdrano. Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat di tiga desa tetap terisolasi.

“Kami berharap pemerintah segera membangun jembatan agar aktivitas masyarakat kembali normal,” ujarnya.

Sementara itu, warga terlihat harus menggotong sepeda motor satu per satu untuk menembus arus Sungai Waemusur pasca ambruknya crossway tersebut. (Rob)

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved