Jalan Rusak di Sikka
Kisah dari Kampung Wukur Sikka: Jalan Rusak, Tanpa Listrik, dan Risiko Melahirkan di Perjalanan
Untuk mencapai Kampung Wukur yang berjarak sekitar 3,4 kilometer dari Kampung Sikka, warga harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Penulis: Arnol Welianto | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Warga-Wukur-NTT-Sikka.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kondisi geografis yang ekstrem dan minimnya akses infrastruktur menjadi tantangan berat bagi sekitar 50 warga di Kampung Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, NTT. Hingga kini, akses jalan menuju kampung tersebut masih sulit dilalui kendaraan.
- Meski sempat ada pembukaan jalan selebar satu meter sejauh tiga kilometer melalui program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) pada 2006, dan pelebaran jalan oleh Pemkab Sikka pada 2020, kondisi jalur tersebut masih dinilai ekstrem.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Kondisi geografis yang ekstrem dan minimnya akses infrastruktur menjadi tantangan berat bagi sekitar 50 warga di Kampung Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga kini, akses jalan menuju kampung tersebut masih sulit dilalui kendaraan.
Meski sempat ada pembukaan jalan selebar satu meter sejauh tiga kilometer melalui program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) pada 2006, dan pelebaran jalan oleh Pemkab Sikka pada 2020, kondisi jalur tersebut masih dinilai ekstrem.
Untuk mencapai Kampung Wukur yang berjarak sekitar 3,4 kilometer dari Kampung Sikka, warga harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Jika menggunakan kendaraan roda dua, pengendara harus memiliki keahlian khusus dan keberanian tinggi.
Pasalnya, kondisi jalan dari ujung Kampung Sikka sangat curam, berbatu, serta diapit oleh tebing di satu sisi dan jurang di sisi lainnya. Di bagian bawah jurang, terhampar batu karang khas pantai selatan yang menambah kerawanan akses tersebut.
Baca juga: Demi Air Bersih, Pengungsi Mandiri Gunung Lewotobi di Flores Timur NTT Jalan Kaki 3 Kilometer
Kondisi ini memicu kesulitan bagi warga, terutama dalam situasi darurat. Jika ada warga yang sakit, hendak melahirkan, atau meninggal dunia, masyarakat terpaksa menggotong (menandu) yang bersangkutan sejauh tiga kilometer agar bisa mendapatkan akses transportasi di Kampung Sikka.
“Kami sudah biasa memikul orang sakit, ibu yang mau melahirkan, atau orang yang meninggal dari sini hingga ke Sikka atau sebaliknya,” ungkap Marice Klamensia (41), warga RT 12/RW 003 Dusun Wukur, Selasa, 26 Mei 2026.
Marice mencontohkan, seorang warga bernama Ignasius Manase yang menderita sesak napas harus ditandu menggunakan sarung menuju Kampung Sikka karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan dilalui kendaraan.
Hal senada disampaikan Renoldus Kustanto, seorang pemuda Kampung Wukur. Ia menuturkan bahwa kejadian ibu hamil melahirkan di tengah perjalanan menuju fasilitas kesehatan sudah sering terjadi.
Baca juga: Bupati Sikka Jalan Kaki 6 Km Tinjau Sekolah dan Temui Guru Honorer di Kampung Wairbukang Sikka NTT
“Sudah sering ibu hamil melahirkan dalam perjalanan. Anak itu salah satu yang lahir di jalan,” ungkap Renoldus.
Selain akses jalan, warga Kampung Wukur juga menghadapi kendala ketiadaan jaringan listrik dan sinyal telekomunikasi.
Warga berharap realita pahit akibat buruknya akses jalan ini segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, baik di tingkat kabupaten hingga pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News