Sabtu, 13 Juni 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Bahasa Indonesia dan Dialek Daerah: Kajian Mahasiswa Unika Ruteng tentang Identitas Budaya

Namun, dalam praktiknya, penggunaan Bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dialek daerah. Dialek merupakan

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Bahasa Indonesia dan Dialek Daerah: Kajian Mahasiswa Unika Ruteng tentang Identitas Budaya
TRIBUNFLORES.COM/HO-JESIKA
Karolina Jesika Iman, Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. 
Ringkasan Berita:
  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di Ruteng dipengaruhi kuat oleh dialek lokal.
  • Dialek Manggarai sering tercampur dalam percakapan sehari-hari dan memengaruhi kebakuan bahasa.
  • Dialek tetap perlu dilestarikan, tetapi penggunaan Bahasa Indonesia baku harus disesuaikan dengan konteks.
 
 

Oleh: Karolina Jesika Iman, Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris 

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Bahasa merupakan alat utama manusia dalam berkomunikasi dan menyampaikan gagasan. Di Indonesia, keberagaman bahasa daerah menjadi kekayaan budaya yang tidak ternilai. Dalam konteks ini, Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa persatuan yang menyatukan berbagai perbedaan tersebut.

Namun, dalam praktiknya, penggunaan Bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dialek daerah. Dialek merupakan ciri khas yang tumbuh dan berkembang di suatu wilayah, sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Di satu sisi, dialek memperkaya keragaman bahasa.

Namun di sisi lain, ia juga dapat memengaruhi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan baku.

Kota Ruteng di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu contoh daerah dengan dialek yang sangat khas. Masyarakatnya kerap mencampurkan Bahasa Indonesia dengan kosakata lokal yang telah disingkat atau diserap dari bahasa daerah lain. Misalnya, kata “saya” menjadi “sa”, “sebentar” menjadi “sentar”, “pergi” menjadi “pi”, dan “tidak ada” menjadi “trada”.

 

Baca juga: Hadir Lebih Dekat, Imigrasi Labuan Bajo Gelar "Immigration Social Program" di SLBN Komodo

 

 

Dalam percakapan sehari-hari, kalimat seperti “Sa sentar mau pi pasar”, “Sa trada uang”, atau “Kamu su pernah ke sana?” menjadi hal yang umum digunakan.

Intonasi dan struktur kalimat tersebut mencerminkan kekhasan dialek Ruteng yang kuat. Bahkan, dalam situasi santai, penggunaan Bahasa Indonesia baku sering dianggap terlalu formal dan tidak lazim di lingkungan setempat.

Meski demikian, dialek bukanlah sesuatu yang perlu dihilangkan. Dialek adalah bagian dari budaya yang harus dihargai dan dilestarikan. Persoalannya bukan pada keberadaan dialek itu sendiri, melainkan pada kemampuan penutur untuk menempatkan bahasa sesuai konteks.

Karena itu, diperlukan kesadaran untuk membedakan penggunaan bahasa formal dan informal. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia baku dalam situasi resmi, serta memperbanyak literasi melalui buku, berita, dan artikel agar pemahaman terhadap struktur bahasa semakin baik.

Dengan demikian, keberadaan dialek tetap dapat dipertahankan sebagai identitas budaya, tanpa mengurangi fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang baku dan efektif dalam komunikasi nasional.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved