Unika Santu Paulus Ruteng
Mahasiswa Unika Ruteng : Buku atau Handphone, Dilema Generasi Digital Dalam Membaca
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sering menjadi perhatian dalam berbagai pembahasan mengenai literasi. Salah satu faktor handphone
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Kuirinus-Gebrilians-Elwang-Mahasiswa-Unika-Santu-Paulus-Ruteng.jpg)
Nama : Kuirinus Gebrilians Elwang
Kelas : PBI 2025 D
Jurusan : Pendidikan Bahasa Inggris
TRIBUNFLORESCOM,RUTENG-Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sering menjadi perhatian dalam berbagai pembahasan mengenai literasi.
Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut adalah meningkatnya penggunaan handphone dalam kehidupan sehari-hari. Kemudahan akses media sosial, hiburan digital, dan berbagai aplikasi membuat banyak orang lebih tertarik menggunakan handphone daripada membaca buku.
Menurut saya, meskipun handphone dapat menjadi sumber informasi yang praktis, buku tetap memiliki nilai yang tidak dapat tergantikan dalam membangun kebiasaan membaca yang berkualitas dan meningkatkan pemahaman secara lebih mendalam.
Saat ini, banyak anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa lebih sering menghabiskan waktu menggunakan handphone untuk bermain media sosial, menonton video, atau bermain game.
Baca juga: Jejak Laut Purba di Perut Gua Batu Cermin Labuan Bajo Manggarai Barat NTT
Padahal, membaca buku memiliki banyak manfaat, seperti menambah wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta memperkaya kosakata. Buku juga membantu seseorang memahami suatu informasi secara lebih mendalam karena proses membacanya dilakukan dengan lebih fokus.
Di sisi lain, membaca melalui handphone memang menawarkan kemudahan karena dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.
Namun, penggunaan handphone sering kali menimbulkan gangguan yang dapat mengurangi konsentrasi. Ketika sedang membaca, notifikasi pesan, media sosial, atau aplikasi lainnya dapat mengalihkan perhatian sehingga proses memahami isi bacaan menjadi kurang maksimal. Akibatnya, seseorang lebih mudah kehilangan fokus dan tidak menyerap informasi dengan baik.
Selain itu, membaca buku memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan membaca melalui layar handphone. Membalik halaman demi halaman, merasakan tekstur kertas, dan menikmati suasana membaca tanpa gangguan menjadi nilai tambah yang dimiliki buku.
Pengalaman tersebut dapat meningkatkan kenyamanan dan membuat kegiatan membaca menjadi lebih bermakna.
Berdasarkan hal tersebut, saya berpendapat bahwa buku tetap memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas literasi masyarakat. Handphone sebaiknya digunakan sebagai sarana pendukung untuk memperoleh informasi, bukan menggantikan kebiasaan membaca buku.
Oleh karena itu, kita perlu mulai meluangkan waktu untuk membaca buku dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Semakin banyak kita membaca, semakin luas pengetahuan yang kita miliki dan semakin bijaksana pula kita dalam berpikir serta mengambil keputusan. Salam literasi.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News