Berita Sikka
Sepi Pembeli, Pedagang Beras Pasar di Alok Maumere NTT Menjerit
Pedagang pasar alok mengeluh karena sepi pembeli. Mereka kewalahan membayar sewa kios dan bayar listrik dan kebutuhan rumah tangga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/JUAL-BERAS-Jamal-seorang-pedagang-sembako-asal-Makassar-Sulawesi-Selatan.jpg)
Laporan Reporter Magang TRIBUNFLORES. COM, Stevani Thresia
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Sejumlah pedagang beras di di Pasar Alok, Maumere di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjerit karena sepi pembeli.
Pedagang beras, Jamaludin, mengaku saat ini ia hanya pasrah dengan keadaan. Karena kios daganganya tak banyak pengujung.
"Kadang dihari pasar seperti hari selasa pun tetap sepi," ungkap Jamaludin saat ditemui TRIBUNFLORES.COM di Pasar Alok, Kamis (11/9/2025).
Pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini mengaku ia sempat kewalahan karena harus membayar uang sewa kios di pasar Alok.
Baca juga: Mengintip Lapak Tenun Ikat di Tengah Riuh Pasar Alok Maumere
"Sewa kios ini saja Rp 400 ribu sebulan, belum lagi untuk bayar sewa kontrakan rumah, listrik, dan kebutuhan pokok sehari-hari. Terkadang saya kewalahan," ungkap Jamal.
Pedagang lainnya, Martinus Gai (64) mengaku daya beli masyarakat saat ini menurun dan semakin ketatnya persaingan menjadi beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya aktivitas jual beli di pasar Alok Maumere.
Ia mengaku memperoleh beras dari suplayer dengan jumlah yang terbatas, ketika harus bersaing dengan penjual-penjual beras lain yang membanjiri pasar.
"Saya ini ambil beras tidak banyak, paling 20 karung atau sekitar 1 ton saja. Modalnya terbatas,"ujarnya.
Ia menuturkan momen yang biasanya menjadi harapan untuk mendongkrak omzet, seperti musim pesta, kini tak lagi bisa diandalkan.
"Saat musim pesta pun sekarang tidak terlalu ramai lagi, karena penjual sekarang tidak hanya satu orang, Kalau dulu kan penjualnya masih kurang,"pungkas Martinus.
Untuk diketahui untuk komoditas beras, pemerintah melalui Bulog menetapkan harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar Rp 65.000 per 5 kilogram.
Beras super dijual Rp 14.000 hingga Rp 14.500 per kilogram, sedangkan beras super Mbay dipasarkan Rp 14.500 hingga Rp15.000 per kilogram.
Berita TRIBUNFLORES.COM lainnya di Google News