Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Sikka

Cerita Mus, Hidupi Keluarga dari Jualan Bambu di Pasar Alok Maumere NTT

Bambu menjadi sumber rezeki bagi Mus. ia merupakan warga asal Desa Nele Wutung.  Sehari-hari, Mus duduk di Pasar Alok, Maumere jual bambu.

Tayang:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Cerita Mus, Hidupi Keluarga dari Jualan Bambu di Pasar Alok Maumere NTT
TRIBUNFLORES.COM/REZA PAREIRA
JUAL BAMBU - Mus, seorang pedagang bambu asal Nele Wutung sedang berjualan bambu di belakang Pasar Alok, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (11/9/2025) siang. 

Laporan Reporter Magang TRIBUNFLORES.COM, Reza Pareira

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Bambu menjadi sumber rezeki bagi Mus. Mus merupakan warga asal Desa Nele Wutung. 

Sehari-hari, Mus duduk di Pasar Alok, Kota Maumere untuk menjual bambu.

Mus dapatkan bambu itu dari berbagai daerah seperti Koting, Wolomude, Watubuku, Brai hingga Nelle.

Ukuran bambu yang dijual pun beragam, mulai dari 2 meter, 2,5 meter hingga 3 meter. Ada juga bambu yang sudah diolah menjadi kandang ayam dengan harga sekitar Rp300 ribu.

Baca juga: Novy dan Angel Senang Ikut Unipa English Speech Competition

 

Untuk bambu mentah, harganya bervariasi, tergantung ukuran. Bambu dengan pohon besar dijual Rp25 ribu per batang, sementara bagian ujung pohon saja dijual Rp15 ribu per batang.

“Penghasilan setiap bulan memang tidak menentu, tapi bisa mencukupi kebutuhan,” ungkapnya saat ditemui TRIBUNFLORES.COM, Kamis (11/9/2025).

Menurut Mus, jenis bambu untuk tiang berbeda dengan bambu biasa. 

Ada jenis khusus yang disebut bambu petun yang biasa digunakan untuk tiang. 

Selain menjual bambu, ia juga bekerja membawa mobil hingga kerja kandang sebagai mata pencaharian tambahan.

Untuk kebutuhan usuk, ia biasanya menggunakan batang kelapa. Sedangkan untuk balok, Mus memilih mengambil dari Larantuka.

Alasannya, di sana penjual lebih banyak, sedangkan di Maumere jumlah penjual balok masih terbatas.

Meski begitu, tantangan lain yang sering ia hadapi adalah kondisi bambu yang rusak karena terlalu sering terkena sinar matahari. 

Hal itu membuat dirinya harus memutar otak agar bambu tetap bisa dipakai, misalnya untuk kandang ayam atau keperluan lainnya.

“Kadang bambu kalau terlalu kena panas bisa rusak, jadi saya harus cari cara supaya tetap bisa dijual,” ujarnya.

Saat ini, tempat berjualan yang ia gunakan merupakan milik pemerintah. Meski sederhana, usaha jual bambu ini sudah cukup membantu Mus untuk menghidupi keluarganya.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved