Berita Nagekeo
Lonceng Kenangan dan Jalan Perutusan, Alumni Seminari Mataloko Dikukuhkan di Mbay Nagekeo
Pengurus Ikatan Alumni Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko dikukuhkan dalam misa khidmat di Kapela St. Maria Dolorosa Mbay
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/MISA-PENGUKUHAN-Pengurus-Ikatan-Alumni-Seminari-St-Yohanes-Berkhmans-mataloko.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pengurus Ikatan Alumni Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko dikukuhkan dalam misa khidmat di Kapela St. Maria Dolorosa Penginanga, dipimpin Fery Dedhu.
- Alumni diingatkan bahwa jabatan adalah panggilan untuk melayani, bukan kehormatan, serta diminta tetap setia dan menjadi suara kebaikan di masyarakat.
- Organisasi alumni didorong untuk memperkuat persatuan, memberdayakan potensi, dan berkontribusi bagi gereja, masyarakat, serta almamater menjelang 100 tahun seminari.
TRIBUNFLORES.COM, MBAY - Sore itu, langit seperti ikut menunduk hening di atas tanah Lape Penginanga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Angin yang berembus pelan dengan sedikit hawa panas yang membuat peluh membawa gema masa lalu tentang lonceng yang pernah dipukul bersama, doa-doa yang pernah dilantunkan dalam sunyi, dan langkah-langkah muda yang dulu ditempa dalam disiplin iman di Seminari St Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko.
Di altar yang serupa, di Kapela Stasi St Maria Dolorosa Penginanga, Kamis (30/4), Lape, ratusan alumni yang menyimpan banyak jejak panggilan lintas generasi berkumpul.
Dari angkatan 1965 hingga 2018, mereka datang sebagian menggandeng istri dan anak, sebagian lagi membawa kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Baca juga: 11 Tahun Mengabdi, Guru SD di Sikka NTT Digaji Rp150 Ribu per Bulan, Jalan Kaki 6 Kilometer
Diawali Misa Kudus
Acara pengukuhan pengurus Ikatan Alumni Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko diawali dengan misa kudus yang berlangsung khidmat. Sepuluh imam konselebran yang juga alumni seminari berdiri di sekitar altar, dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Ende, Romo Fery Dedhu.
Di antara mereka hadir sosok-sosok yang tak asing bagi sejarah panjang seminari itu, Romo Preases Rd. Stefanus Wolo, Romo Vikep Mbay Aster Lado, Romo Paulus Bongu, serta imam tertua yang telah menapaki 46 tahun perjalanan imamatnya.
Sehari sebelumnya, para alumni yang tergabung dalam Alsemat telah lebih dahulu menyatu dalam ritus adat sebuah penanda bahwa iman dan budaya tetap berjalan beriringan, saling menghidupi.
Ketika misa berlangsung, suasana berubah menjadi lautan rasa. Paduan suara yang dilantunkan para alumni menggema, mengalir, dan kadang menggelegar, seolah menembus dinding-dinding kenangan. Iringan organ dari Tan Lape mengikat semuanya dalam harmoni yang nyaris sempurna. Decak kagum mengalir dari para alumni yang menghadiri misa serta tepuk tangan pecah setelah lagu post komunio ini bukan untuk mengganggu kekhusyukan, melainkan sebagai ekspresi kagum yang tak terbendung memgingatkan akan semangat ketika ditempa di Mataloko.
Di hadapan altar, dengan penumpangan tangan dari sepuluh konselebran, para pengurus dikukuhkan. Mereka mengucapkan janji, bukan sekadar sebagai formalitas organisasi, tetapi sebagai ikrar batin sebuah kesediaan untuk kembali berjalan dalam jalan panggilan.
Perjumpaan dan Kenangan
Dalam homilinya, Romo Fery Dedhu menegaskan bahwa perayaan itu adalah perjumpaan antara kenangan dan perutusan.
“Ini bukan sekadar hari pengukuhan, ini adalah peristiwa rahmat sebuah panggilan yang pernah bersemi, kini hidup kembali.” katanya.
Ia mengingatkan bahwa jabatan bukanlah mahkota kehormatan, melainkan salib.
“Bukan untuk ketenaran pribadi, tetapi peluang untuk menyembah Tuhan dan melayani sesama. Kristus datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun dalam. Mengendap. Menyentuh.