Jumat, 10 April 2026

Harga BBM di NTT

Wagub NTT Minta Penggunaan Energi Harus Lebih Efisien dan Tidak Boros

Ancaman krisis global akibat konflik di Timur Tengah mendorong Pemerintah Provinsi NTT mengambil langkah antisipatif. 

Tayang:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Wagub NTT Minta Penggunaan Energi Harus Lebih Efisien dan Tidak Boros
POS-KUPANG.COM/DOK. PRIBADI
SAMBUTAN - Wagub NTT Johni Asadoma ketika memberi sambutan dalam acara halal bihalal Pemprov NTT. Johni menyerukan hemat energi dan bangun kemandirian pangan di NTT. Selasa, (31/3/2026).  

Ringkasan Berita:
  • Masyarakat diminta menggunakan energi secara efisien dan menekan pengeluaran tidak penting.
  • Manfaatkan lahan kosong untuk menanam sayur, buah, dan komoditas pangan sebagai cadangan rumah tangga.
  • Pemerintah provinsi fokus pada program berdampak langsung, menunda proyek fisik non-urgen, dan ajak masyarakat menjaga solidaritas sosial.

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Ancaman krisis global akibat konflik di Timur Tengah mendorong Pemerintah Provinsi NTT mengambil langkah antisipatif. 

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengajak masyarakat menerapkan pola hidup hemat energi sekaligus memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.

Gejolak geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai mulai berdampak pada perekonomian global, termasuk potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Situasi ini harus kita sikapi dengan kesiapan. Penggunaan energi harus lebih efisien dan tidak boros,”ujar Johni saat menghadiri halal bihalal lingkup Pemprov NTT di Kupang, Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Wagub NTT Soroti BBM Global, Minta ASN Adaptasi dan Disiplin

Jaga Stabilitas Harga

Mantan Kapolda NTT itu mengungkapkan, lonjakan harga BBM di sejumlah negara sudah terjadi secara signifikan, termasuk di Australia. Meski Indonesia masih mampu menjaga stabilitas harga, risiko kenaikan tetap ada jika konflik berkepanjangan.

Selain penghematan energi, ia menekankan pentingnya kemandirian pangan. Masyarakat diminta memanfaatkan lahan kosong untuk menanam komoditas pangan seperti sayur dan buah sebagai cadangan kebutuhan rumah tangga.

“Kita patut bersyukur Indonesia sudah mandiri dalam produksi beras dan jagung. Di Sulamu, Kabupaten Kupang, kita berhasil panen 5.000 ton jagung dari lahan 1.000 hektar,” kata Purnawirawan Polri itu. 

Menurutnya, kolaborasi antara TNI dan Polri dalam program pertanian mulai menunjukkan hasil nyata, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dalam menghadapi potensi krisis, kata dia, masyarakat agar bisa menghemat penggunaan BBM dan energi secara menyeluruh. Bahkan, opsi penggunaan kayu bakar sebagai alternatif memasak disebut perlu dipertimbangkan jika kondisi semakin sulit.

Selain itu, publik diminta menekan pengeluaran yang tidak mendesak dan fokus pada kebutuhan pokok.

“Belanja harus diprioritaskan. Yang tidak penting sebaiknya ditunda,” tambah dia.

Dari sisi kebijakan, ujar dia, Pemprov NTT akan melakukan penyesuaian anggaran dengan memprioritaskan program yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik. Sementara itu, proyek fisik non-urgen akan ditunda.

Johni juga mengajak masyarakat menjaga solidaritas sosial serta memperkuat toleransi antar warga di tengah situasi global yang tidak menentu.

Dia berharap upaya diplomasi yang dilakukan negara-negara seperti Arab Saudi dan Mesir dapat segera meredakan konflik.

“Selain berdoa, kita harus memperkuat kemandirian. Hemat energi dan kuatkan pangan adalah kunci menghadapi situasi ini,” katanya. (fan) 

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved