Jumat, 5 Juni 2026

Prakiraan Cuaca

Wilayah Indonesia saat Ini Alami Hari Tanpa Hujan, Musim Kemaru Datang Bertahap 

28,6% wilayah zona musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, yang didominasi oleh wilayah di selatan Indonesia.

Tayang:
Penulis: Cristin Adal | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Wilayah Indonesia saat Ini Alami Hari Tanpa Hujan, Musim Kemaru Datang Bertahap 
TRIBUNFLORES.COM/CHRISTIN ADAL
CUACA - Cuaca cerah berawan di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (29/5/2026). BMKG mengungkapkan analisis perkembangan musim kemarau menunjukkan bahwa sebanyak 28,6% wilayah zona musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. 

Ringkasan Berita:
  • BMKG menyebut wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori bervariasi, dari sangat pendek hingga sangat panjang. 
  • Analisis perkembangan musim kemarau menunjukkan 28,6 persen wilayah zona musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, yang didominasi oleh wilayah di selatan Indonesia.
  • Aktifnya Monsun Australia yang berperan dalam membawa massa udara kering di sebagian wilayah Indonesia.  

 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori bervariasi, dari sangat pendek hingga sangat panjang. Sebagian wilayah Indonesia (47,96 % ) berada dalam HTH kategori sangat pendek (1 – 5 hari).

Analisis perkembangan musim kemarau menunjukkan 28,6 % wilayah zona musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, yang didominasi oleh wilayah di selatan Indonesia. Hal ini dikarenakan aktifnya Monsun Australia yang berperan dalam membawa massa udara kering di sebagian wilayah Indonesia. 

Kondisi ini berdampak pada berkurangnya pembentukan awan, terutama pada pagi hingga siang hari, sehingga penyinaran matahari ke permukaan menjadi lebih optimal. 

Meskipun beberapa wilayah sudah memasuki musim kemarau, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih teramati di sejumlah daerah, khususnya di wilayah Indonesia bagian utara. 

Baca juga: BMKG Sebut Sebagian Wilayah Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau dan Periode Peralihan Musim

Hujan signifikan di wilayah-wilayah tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Secara spasial, aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin terpantau aktif di sebagian wilayah Pulau Sumatra, Pulau Jawa, serta Pulau Kalimantan bagian barat dan selatan. 

Pada periode yang sama, anomali OLR bernilai negatif di bagian barat Indonesia yang mengindikasikan potensi tutupan awan konvektif signifikan. Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di Teluk Cendrawasih dan utara Papua turut mempengaruhi pola aliran massa udara di sekitarnya dan berkontribusi terhadap peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah sekitarnya.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Analisis indikator iklim global terkini menunjukkan El Niño Condition di Samudra Pasifik. Hal ini terlihat dari indeks Niño 3.4 sebesar +0,69 dan nilai SOI sebesar -16,0. Kondisi ini umumnya berdampak pada pengurangan potensi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Meskipun demikian, dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.

Dalam sepekan ke depan, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi berada pada fase 7 (Western Pacific) hingga fase 8 (Western Hemisphere and Africa), sehingga kurang berpengaruh terhadap wilayah Indonesia. Meskipun demikian, filter spasial pengaruh konvektif MJO masih diprediksi aktif di Pulau Papua bagian tengah hingga timur. 

Baca juga: BMKG Ungkap Penyebab Hujan Lebat Masih Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia Meski El Nino Menguat

Gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Indonesia, bergerak dari Indonesia bagian barat menuju ke timur. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke arah barat diprediksi aktif di wilayah Sumatra bagian utara. 

Sirkulasi siklonik juga berpotensi terbentuk di Samudra Pasifik utara Papua dan membentuk daerah konvergensi dan konfluensi memanjang dari Papua Pegunungan hingga Papua Tengah, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya, Samudra Pasifik utara Papua, dan sekitar sistem tersebut.

Tidak hanya fenomena regional, labilitas atmosfer yang kuat juga berpotensi mendukung proses konvektif pada skala lokal, yang terdapat di Aceh, Kep. Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Aktivitas MJO, gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, dan labilitas atmosfer yang kuat tersebut perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 5 – 7 Juni 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Maluku, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved