Kamis, 21 Mei 2026

Tragedi Gempa dan Tsunami Flores

Melihat Pulau Babi Yang Ditinggalkan Pasca Gempa dan Tsunami 1992

Pesona Pulau Babi Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kini menjadi kenangan. Meski dikelilingi laut bening, ikan berwarna warni dan terumbu

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Arnol Welianto | Editor: Ricko Wawo
zoom-inlihat foto Melihat Pulau Babi Yang Ditinggalkan Pasca Gempa dan Tsunami 1992
TRIBUNFLORES.COM/HO-OM KUMIS TATOIS
PULAU BABI- Pulau Babi di Kabupaten SIKKA yang menjadi pusat gempa pada 1992 silam. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM,Arnold Welianto

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Pesona Pulau Babi Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kini menjadi kenangan. Meski dikelilingi laut bening, ikan berwarna warni dan terumbu karang, warganya enggan kembali ke pulau yang mengapung di laut Flores itu setelah tsunami yang menewaskan lebih dari 300 jiwa pada tahun 1992.

Bencana Tsunami 12 Desember 1992 menjadikan warga di Palau Babi tak berani untuk tinggal di pulau yang begitu indah dengan jarak 5 kilometer dari utara pulau Flores. 

Di Pulau Babi hanya terdapat gubuk-gubuk sederhana yang digunakan untuk persinggahan sementara bagi warga Pulau Babi yang ingin melihat kembali kampung halaman mereka. 

Baca juga: Cerita Kepanikan Warga Sikka Saat Gempa dan Tsunami di Flores, Buat Pondok dari Daun Kelapa

 

Pasca peristiwa itu, warga di Pulau Babi diungsikan ke Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, dan hingga kini, warga masih menetap dengan mata pencaharian rata-rata sebagai nelayan. 

Meski demikian, beberapa warga lainnya tetap kembali ke Pulau Babi untuk berkebun, memberi makan ternak dan mencari ikan. 

Kepala Desa Nangahale Sahanudin menjelaskan terdapat 95 kepala keluarga yang merupakan warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura yang selalu kembali di Pulau Babi, namun mereka tidak menetap. 

"Setelah melihat hewan ternak, cari ikan, mereka langsung kembali ke Nangahale, " Ujarannya Jumat 12 Desember 2025.

Kata dia, warga masih trauma namun sesekali warga kembali ke Pulau Babi untuk melihat kenangan waktu itu karena Pulau berdiameter 2,5 Kilometer itu memiliki kenangan tersendiri. 

Beberapa waktu lalu, Tim Tribunflores.com bersama Kepala Desa Nangahale, Sahanudin menyempatkan diri berangkat ke Pulau Babi melewati pesisir pantai wilayah Nebe. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dan berlabuh di Pulau Babi. 

Di Pulau itu, hanya tersisa puing-puing rumah warga yang tersapu Tsunami, rumah hanya tersisa tiang, fondasi, sedangkan beberapa kuburan pun rata dengan tanah. 

Gempa dan tsunami yang melanda wilayah Flores khususnya Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 12 Desember 1992 mengisahkan cerita pahit peristiwa kelam itu.

Kekuatan gempa dan tsunami kala itu sempat menenggelamkan Pulau Babi yang berada di wilayah pantai utara Kabupaten Sikka. Pulau Babi disebutkan menjadi pusat gempa.

Peristiwa alam itu menewaskan kurang lebih 2.000 orang warga Kabupaten Sikka. Namun, duka tsunami itu mulai terhapus. Pulau Babi yang dulu dinyatakan hilang, kini menjadi Taman Wisata Alam Laut (TWAL) yang dikenal dengan nama Teluk Maumere.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved