Jumat, 22 Mei 2026

Universita Nusa Nipa

Bangun Ruang Aman bagi  Kesehatan Mental Anak, Orang Tua dan Pendidik Harus Peka

Komunikasi dua arah dan penyediaan ruang aman bagi anak untuk bercerita menjadi langkah preventif yang mendasar.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Bangun Ruang Aman bagi  Kesehatan Mental Anak, Orang Tua dan Pendidik Harus Peka
TRIBUNFLORES. COM/HO-HANAWI
KESEHATAN MENTAL- Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Nusa Nipa Maumere melakukan edukasi publik mendalam mendorong deteksi dini dan kolaborasi lintas sektor. Dalam diskusi yang digelar pada Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan psikolog klinis Epifania Margaretha Ladapase dan Kepala Sekolah SDI Wairklau Maria Dua Nona. 

Ringkasan Berita:
  • Fenomena tindakan ekstrem seperti bunuh diri pada anak dan remaja sering kali dipicu oleh akumulasi tekanan psikologis dan minimnya dukungan emosional. Pengalaman negatif yang berulang, terutama perundungan , menjadi faktor risiko utama yang sering terabaikan.
  • Orangtua dan pendidik perlu peka terhadap perubahan perilaku anak.  Pentingnya kehadiran emosional orangtua. 
  • Komunikasi dua arah dan penyediaan ruang aman bagi anak untuk bercerita menjadi langkah preventif yang mendasar

 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Nusa Nipa, Maumere, Nusa Tenggara Timur, menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak di lingkungan sekolah dan keluarga.

Edukasi publik dilakukan melalui diskusi mendalam untuk mendorong deteksi dini dan kolaborasi lintas sektor.

Dalam diskusi yang digelar pada Jumat (6/2/2026), persoalan kesehatan mental anak dibahas dari sudut pandang klinis dan praktis lapangan.

Kegiatan ini menghadirkan psikolog klinis Epifania Margaretha Ladapase dan Kepala Sekolah SDI Wairklau Maria Dua Nona.

 

Baca juga: Sekolah Akui Sumbangan Pendidikan Rp 1,2 Juta per Siswa, YBR Telah Bayar Sebagian

 

 

Epifania menjelaskan, fenomena tindakan ekstrem seperti bunuh diri pada anak dan remaja sering kali dipicu oleh akumulasi tekanan psikologis dan minimnya dukungan emosional. 

Pengalaman negatif yang berulang, terutama perundungan (bullying), menjadi faktor risiko utama yang sering terabaikan.

"Orangtua dan pendidik perlu peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti emosi yang drastis, menarik diri dari lingkungan, hingga penurunan prestasi akademik," ujar Epifania.

Ia menekankan pentingnya kehadiran emosional orangtua. Komunikasi dua arah dan penyediaan ruang aman bagi anak untuk bercerita menjadi langkah preventif yang mendasar. Jika perubahan perilaku mulai mengganggu fungsi sehari-hari dalam jangka waktu lama, intervensi tenaga profesional atau psikolog sangat diperlukan.

 

Baca juga: Siswa SD di Ngada Meninggal Tak Wajar, ILUNI UI NTT Sebut Negara Absen dan Gagal

 

Realitas di sekolah

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved