Berita TTU
Hari Ini Kardinal Ignatius Suharyo Akan Tahbiskan Gereja Lurasik
Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, dijadwalkan menahbiskan Gereja Santa Maria Goreti Paroki Santo Petrus dan Santo Paulus Lurasik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/GEREJA-LURASIK.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kardinal Ignatius Suharyo dijadwalkan menahbiskan Gereja Santa Maria Goreti Paroki Santo Petrus dan Santo Paulus Lurasik, TTU, pada 15 Desember 2025.
- Ia akan didampingi Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku serta para uskup se‑Region Nusra, perwakilan Timor Leste, para imam, biarawan-biarawati, donatur, pemerintah daerah, dan umat sekitar.
- Pembangunan gereja baru ini diselesaikan hanya dalam 3,5 bulan, setelah gereja lama dibongkar pada 1 Agustus 2025.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA- Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, dijadwalkan menahbiskan Gereja Santa Maria Goreti Paroki Santo Petrus dan Santo Paulus Lurasik, Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), pada Senin, 15 Desember 2025.
Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Atambua, Romo Inosensius Nahak, Pr, mengatakan Kardinal Ignatius akan tiba di Lurasik pada Senin siang dan langsung mengikuti rangkaian kegiatan pentahbisan gereja pada sore hari.
“Bapak Kardinal akan tiba pada Senin siang dan pada pukul 17.00 WITA akan dilanjutkan dengan perayaan pentahbisan gereja. Seluruh persiapan telah dilakukan bersama panitia, umat, dan para donatur,” ujar Romo Ino, yang juga Pastor Rekan di Paroki Lurasik. Minggu (14/12/2025).
Menurutnya, dalam peresmian tersebut Kardinal Ignatius akan didampingi Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr. Panitia juga mengundang para Uskup se-Region Nusra, perwakilan Keuskupan Timor Leste, Keuskupan Agung Kupang, para imam, biarawan-biarawati, para donatur, Gubernur NTT, para bupati di wilayah Keuskupan Atambua, serta umat paroki sekitar.
Baca juga: Pemda TTU Kembangkan Literasi Berbasis Inklusi Sosial
Romo Ino menyampaikan rasa syukur atas rampungnya pembangunan gereja dalam waktu yang sangat singkat.
“Kami sangat bersyukur karena pembangunan gereja ini dapat diselesaikan hanya dalam 3,5 bulan, berkat kerja keras semua pihak, para donatur, umat, serta dukungan TNI/Polri yang beberapa kali turut membantu,” ungkapnya.
Gereja lama Paroki Lurasik mulai dibongkar pada 1 Agustus 2025, dan pembangunan gereja baru dimulai 15 Agustus 2025. Gereja ini dibangun dengan konsep ekologis, menyatu dengan alam karena dikelilingi kawasan hutan.
Bangunan gereja berukuran 26 x 48 meter, dihiasi 56 patung religius, serta menggunakan material khusus seperti batu marmer.
Ketua Panitia Pembangunan, Yulius T. Layansari, menjelaskan bahwa persiapan pembangunan telah dimulai sejak tahun 2024, dengan pembentukan panitia dan penggalangan dana umat secara bertahap.
“Pengumpulan dana umat dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama umat dibebani Rp 500 ribu per KK, begitu juga tahap kedua dan berjalan hampir satu tahun. Hingga kini, sekitar 95 persen umat telah menyelesaikan kewajibannya,” jelas Yulius.
Ia mengakui dengan dana yang ada tersebut tentunya belum bisa membangun gereja semegah ini.
"Tuhan memberikan jalan lewat para donatur khususnya Bapa Andreas Sofiandi. Dimana pada Juni 2025, ketika Rm. Inosensius Nahak, Pr bertemu dengan Bp. Andreas Sofiandi dalam kegiatan bakti sosial operasi mata di Teluk Dalam, Nias. Romo Ino menyampaikan kondisi gereja Lurasik. Seiringnya waktu Bp. Andreas Sofiandi menyatakan kesediaannya membiayai pembangunan gereja baru melalui Himpunan Bersatu Teguh," jelasnya.
Ia juga mengakui selama proses pembangunan terdapat dinamika dan perbedaan pendapat, namun semuanya dilalui dengan semangat kebersamaan.
“Perbedaan pendapat itu hal biasa. Yang terpenting, gereja ini akhirnya berdiri dan menjadi kebanggaan umat Paroki Santo Petrus dan Santo Paulus Lurasik,” katanya.
Yulius berharap perayaan pentahbisan gereja menjadi momentum iman dan persatuan umat Katolik.
“Semoga peresmian gereja ini membawa sukacita, kebanggaan, dan semakin memperkuat iman umat, khususnya umat di Paroki Lurasik,” pungkasnya.
Sejarah Singkat Gereja Santa Maria Goreti Lurasik
Paroki Biboki Utara dibentuk pada tahun 1983 berdasarkan Surat Keputusan Uskup Atambua Mgr. Antonius Pain Ratu, dengan menunjuk Pater Jerry Lanigan SVD, misionaris asal Irlandia, sebagai pastor paroki pertama.
Pada 25 Februari 1985, nama Paroki Biboki Utara resmi berubah menjadi Paroki Santo Petrus dan Santo Paulus Lurasik. Pembangunan gereja pertama dimulai pada 1988 dan diselesaikan secara swadaya umat selama tujuh tahun. Gereja tersebut ditahbiskan pada 21 Juli 1995 dengan nama Gereja Santa Maria Goreti.
Seiring berjalannya waktu dan pergantian para pastor paroki, kondisi bangunan gereja semakin menurun. Saat Rm. Urbanus Hala, Pr ditunjuk sebagai pastor paroki pada 2021, bangunan gereja dinilai sudah tidak layak digunakan. Keterbatasan dana membuat rencana pembangunan ulang belum dapat direalisasikan.
Titik terang muncul pada Juni 2025, ketika Rm. Inosensius Nahak, Pr bertemu dengan Bp. Andreas Sofiandi dalam kegiatan bakti sosial operasi mata di Teluk Dalam, Nias. Setelah melihat langsung kondisi gereja pada 7 Juli 2025, Bp. Andreas Sofiandi menyatakan kesediaannya membiayai pembangunan gereja baru melalui Himpunan Bersatu Teguh.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr, bersama Bupati Belu Willybrodus Lay, SH. Gereja lama dirobohkan pada 1 Agustus 2025, dan pembangunan gereja baru diselesaikan dalam waktu 3,5 bulan, untuk kemudian ditahbiskan oleh Kardinal Ignatius Suharyo pada 15 Desember 2025. (gus)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.