Berita Ngada
Cuaca Ekstrim Hadang Pencarian Korban Banjir Malapedho di Ngada
Cuaca ekstrim di lautan menghambat tim gabungan SAR menemukan seorang korban banjir di Kampung Malapedho Kabupaten Ngada
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Ritual-adat.jpg)
Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Tommy Mbenu Nulangi
TRIBUN FLORES.COM,BAJAWA-Hingga kini, pencarian terhadap salah satu korban banjir bandang bernama Mikhael Jeko di Kampung Malapedho, Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada belum berhasil.
Belum berhasilnya pencarian terhadap korban yang merupakan suami dari Maria Goreti Dhiu itu karena kondisi cuaca di lokasi kejadian yang ekstrim.
Koordinator Basarnas Maumere, Rizwan Dwi Putra mengungkapkan bahwa, Basarnas Maumere tidak mengalami kendala yang sangat besar khususnya peralatan dan perlengkapan.
Namun yang menjadi kendala terbesar yaitu cuaca yang sangat ekstrim di lokasi kejadian banjir bandang.
Baca juga: Beasiswa PIP Aspirasi AHP Bikin Haru Orangtua di Kabupaten Ngada
"Hujan, angin, dan gelombang di laut yang ekstrim. Karena operasi SAR ini kami gunakan dua alur,alur darat kami gunakan satu eksavator dan alur laut kami gunakan perahu karet yang kami bawa," ujarnya.
Dijelaskannya, dua tim pencarian menggunakan dua alur itu sehingga ada hari-hari dimana tim Basarnas menghentikan sementara proses pencarian karena curah hujan dan gelombang laut yang tinggi.
"Di laut kita tarik tim, karena gelombang laut dan angin yang cukup ekstrim," ujarnya.
Rizwan menambahkan berdasarkan penilaian internal proses pencarian terhadap korban sudah berjalan maksimal, karena semua titik yang diduga baik di dekat rumah korban maupun di aliran material dari banjir bandang tersebut sudah ditelusuri.
Baca juga: Keluarga Flobamora Mimika Papua Bantu Rp 30 Juta untuk Korban Banjir Malapedho di Ngada
"Bahkan di laut juga tim kami melakukan pencarian tapi hasilnya masih nihil, bahkan tim kami sudah dobel melakukan pencarian sampai tiga kali. Kalau di dekat rumahnya bahkan sudah sampai empat kali," terangnya.
Rizwan mengaku, dengan area lokasi banjir bandang yang tidak begitu luas, pencarian terhadap korban sudah berjalan maksimal. Namun pencarian korban tetap tidak membuahkan hasil.
"Bahkan selama pencarian kita sama sekali belum menemukan adanya tanda-tanda keberadaan korban. Harusnya secara logika, pencarian kalau sudah hari kelima minimal baunya sudah tercium, tapi ini tidak sama sekali," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya Kampung Malapedho Desa Inerie Kecamatan Inerie Kabupaten Ngada diterjang banjir bandang Jumat 3 September 2021.
Baca juga: Arwah Leluhur Diminta Bantuan Temukan Korban Banjir di Malapedho Ngada
Banjir bandang tersebut disebabkan oleh hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Inerie dan sekitarnya pada hari, Jumat 3 September 2031 sore hingga malam hari sekira pukul 10:00 Wita.
Akibat dari bencana tersebut, sebanyak lima rumah warga yang ada di kampung tersebut tertimbun lumpur. Banjir yang mengalir di kali Waesugi tersebut menyebabkan tiga dapur dan dua rumah induk rusak berat.