Selasa, 12 Mei 2026

Berita Manggarai

Berbentuk Lodok, Rumah Gendang Tenda Pertahankan Kultur Manggarai

Rumah Gendang Tenda di Kota Ruteng berbentuk bundar,atap mengerucut bergaya sarang laba-laba atau Lodok mempertahankan Kultur Manggarai.

Tayang:
Editor: Egy Moa
zoom-inlihat foto Berbentuk Lodok, Rumah Gendang Tenda Pertahankan Kultur Manggarai
ISTIMEWA
Perayaan syukuran pemberkatan rumah Gendang Tenda di Kelurahan Tenda, Kota Ruteng, Rabu malam 20 Oktober 2021 

Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUN FLORES.COM,RUTENG-Arsitek atau gaya bangunan rumah gendang Tenda di Kelurahan Tenda, Kecamatan Langke Rembong mempertahankan kultur Manggarai. Rumah berbentuk bundar dan atap mengerecut dengan gaya sarang laba-laba atau dalam tradisi orang Manggarai disebut Lodok.

Ketua Panitia Pembangunan Rumah Gendang Tenda, Kanisius Teobaldus Deki, mengatakan pembangunan rumah gendang memakan waktu tujuh tahun. Tinggi bangunan 21 meter dan luas bangunan 400 meter persegi.

"Gaya bangunan ini tidak menghilangkan filosofi orang Manggarai, sehingga pembangunan tidak mudah. Kami akui ada kekurangan yakni atapnya tidak pakai ijuk hanya pakai seng, rencana kami memang pakai ijuk tapi tingkat kemiringan pada atap sangat ekstrim sehingga sulit jika saat perbaikan,"ungkapnya.

Kanisius menginginkan gendang ini menjadi model situs budaya/rumah contoh bagi banyak orang dan juga diharapkan menjadi tempat wisata budaya.

Baca juga: Tujuh Tahun Gendang Tenda Dibangun, Diberkati Uskup Ruteng Mgr.Siprianus

Kanisius mengakui keterlibatan masyarakat sangat besar, selain anggaran hibah dari Kabupaten Manggarai.

"Rumah gendang ini sebagai simbol adat, sehingga menjadi milik semua orang khususnya masyarakat Gendang Tenda,"tutup Kanisius.

Rumah adat (mbaru gendang) Tenda diresmikan (we'e mbaru), Rabu 20 Oktober 2021 malam.

Pembangunan rumah gendang milik masyarakat di Kelurahan Tenda dan Kelurahan Poco Mal itu membutuhkan waktu tujuh tahun, dilakukan dengan ritual adat juga perayaan misa syukur dan pemberkatan oleh Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat, Pr.

Mgr Siprianus merasa sangat senang bisa bertemu langsung dengan semua keluarga di Tenda. Sebab dalam thabisanya menjadi Uskup, warga Tenda turut mengambil bagian secara aktif.

Baca juga: Presiden Jokowi Minta Bupati Manggarai Mengingatkannya Datang ke Manggarai

"Saya tahu dalam tahbisan kami tahun lalu ase-ka'e (kakak/adik) dari Tenda mengambil bagian secara aktif,"ungkap Mgr.Siprianus.

Mgr.Siprianus juga memberikan pesan bermakna terkait rumah gendang itu yakni secara kultural, menurut budaya Manggarai, keuskupan, UNIKA adalah bagian dari Gendang Tenda.

"Ho’o gendang mbau agu ili dami lorong adak Manggarai. Tetapi di pihak lain, sebagai pemimpin Gereja lokal, kami boleh mengatakan bahwa semua mbaru gendang termasuk Gendang Tenda adalah komunitas penting dalam sejarah terbentuk dan berkembangnya gereja lokal Keuskupan Ruteng,"ungkapnya.

Menurut Mgr.Siprianus, gendang Tenda bersama gendang-gendang lain di Keuskupan Ruteng adalah tiang-tiang penting penyanggah kehidupan Gereja lokal.

Baca juga: Peduli ODGJ, Tiga Bupati di Manggarai Raya dapat Penghargaan Menkes

Karena setiap gendang termasuk gendang Tenda sebagai bagian dari komunitas gereja tentu harus membuka dirinya terhadap gendang dan komunitas lain, terhadap Gereja universal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved