Berita NTT
Estimasi BI Perwakilan NTT, Kebutuhan Uang Selama Nataru Rp 1,6 Sampai Rp 1,9 Triliun
Bank Indonesia Perwakilan NTT mengestimasi kebutuhan uang tertinggi terjadi perayaan Natal dan Tahun Baru 2021 Rp 1,6 triliun-Rp 1,9 triliun.
Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Irfan Hoi
TRIBUN FLORES.COM,KUPANG-Bank Indonesia (BI) menyediakan berapa pun nominal yang dibutuhkan Provinsi NTT dalam pemulihan perekonomian.
"Kita sangat siap. Rata-rata kebutuhan itu paling banyak pada perayaan Natal dan Tahun baru, sekitar Rp 1,6-Rp 1,9 triliun," kata Kepala BI Kpw NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, Rabu 20 Oktober 2021.
BI menjalin kerjasama dengan bank di daerah untuk membuka sembilan kas titipan, sehingga menjangkau seluruh NTT. Diantaranya Atambua, Alor, Lembata, Waingapu, Waikabubak, Ende, Maumere, Ruteng dan Labuan Bajo.
"Kerjasama ini untuk menjangkau 1.192 pulau, sehingga uang yang beredar merupakan uang layak dan uang yang tidak layak dapat ditarik kemudian diganti," katanya.
Baca juga: KTH Ngada Terima Hibah Sarana Pengembangan Hasil Hutan, Wagub NTT Ingatkan Jangan Jadi Besi Tua
BI juga menerapkan claim money atau uang dengan tingkat kelusuhan. Artinya, jika ada ada uang yang lusuh maka akan sangat kotor.
"Jadi uang yang tidak layak edar akan ditarik dan uang yang layak edar akan diberikan kepada masyarakat," kata Nyoman.
Selanjutnya BI melakukan estimasi kebutuhan uang (EKU), variabelnya semua aktivitas yakni pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk dan inflasi. Semua indikator ini dihitung kebutuhan uang sampai lima tahun kedepan.
Hal ini untuk mencerminkan perekonomian kita akan mengalami peningkatan seiring pertumbuhan aktivitas perekonomian. Inilah beberapa hal yang telah kita lakukan dalam rangka implementasi pengelolaan uang Rupiah," jelas Nyoman.
Baca juga: Ritual Adat dan Tarian Caci Sambut Rombongan DPD Hanura NTT
Sampai triwulan ketiga atau dari Januari sampai akhir September 2021, outflow mencapai Rp 3,919 triliun atau terjadi kontraksi sebesar 13,31 persen.
“Kita tahu, baru bulan Maret masih terjadi Pandemi Covid-19 dan di bulan-bulan terakhir diberlakukan PPKM darura, sehingga terjadi kontraksi,” tegas Ariawan Atmaja.
Sedangkan untuk inflow, jelas Nyoman sampai Triwulan ketiga bulan September 2021 tercapai Rp 5,915 triliun atau terjadi pertumbuhan 4,76 persen.
“Walaupun ada PPKM dan sebagainya, kita mulai ada perbaikan terhadap transaksi cash kita, terutama yang di perbankan dan perdagangan yang memang sebagian ada transaksi cashnya,” ujar Nyoman.
Baca juga: Diduga Gelapkan Sepeda Motor, Mantan Karyawati Bank NTT Diamankan Polisi
Nyoman juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTT pada bulan Februari 2021 alami peningkatan 4,22 persen.
“Peningkatan pertumbuhan ekonomi ini memberikan indikasi pemulihan kita yakni on the track,” papar Nyomana.
Untuk memasuki triwulan keempat BI akan mendorong terus peningkatan ekonomi, meskipun masih dalam kondisi PPKM Darurat.
“Walaupun kondisi PPKM Darurat, tapi pemerintah dan gugus tugas memberikan sedikit kelonggaran ini dapat memberikan perbaikan-perbaikan ekonomi, apalagi program kita sudah mulai membaik,” pungkas Nyoman.