Kamis, 7 Mei 2026

Berita Internasional

350 Tahun Jajah Indonesia, Mengapa Baru Sekarang Belanda Minta Maaf? Begini Respons Kemlu RI 

Indonesia pernah merasakan kekejaman selama 350 Tahun penjajahan Belanda. Puluhan tahun berlalu, mengapa baru sekarang Belanda minta maaf?

Tayang:
Editor: Adiana Ahmad
zoom-inlihat foto 350 Tahun Jajah Indonesia, Mengapa Baru Sekarang Belanda Minta Maaf? Begini Respons Kemlu RI 
Serambi Indonesia
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte - 350 Tahun Jajah Indonesia, Mengapa Baru Sekarang Belanda Minta Maaf? Begini Respons Kemlu RI  

350 Tahun Jajah Indonesia, Mengapa Baru Sekarang Belanda Minta Maaf? Begini Respons Kemlu RI 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Indonesia pernah merasakan kekejaman selama 350 penjajahan Belanda.

Sudah berlalu puluhan tahun, tiba-tiba Pemerintah Belanda melalui Perdana Menteri Mark Rutte menyampaikan permintaan maaf atas kekejaman Belanda di masa lampau.

Selama 350 Tahun jajah Indonesia, mengapa baru sekarang Belanda minta maaf?

Apakah Belanda baru menyadari kesalahannya di masa lampau?

Baca juga: Amerika Gembar-Gembor Rusia Siap Serang Ukraina, Presiden Zelensky Malah Ajak Putin Bertemu

Terhadap permintaan maaf Perdana Menteri Belanda tersebut, Kemenlu RI pun memberikan respon.

Pemerintah lewat Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu RI) menyatakan masih akan mempelajari dokumen hasil penelitian yang membuat Perdana Menteri (PM) Belanda meminta maaf beberapa waktu lalu.

Hal ini menyusul dipublikasikannya hasil penelitian besar tentang kekerasan militer Belanda berjudul “Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950”, yang dipublikasikan pada Rabu (16/2/2022).

Studi empat tahun oleh tiga institut ilmu pengetahuan Belanda itu menyimpulkan bahwa pemerintah dan pemimpin militer Belanda telah dengan sengaja melakukan pembiaran atas penggunaan kekerasan ekstrem yang dilancarkan secara sistematis dan meluas oleh personel militer Belanda selama Perang Kemerdekaan Indonesia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia (Jubir Kemlu RI) Teuku Faizasyah mengatakan pemerintah Indonesia masih mempelajari dokumen tersebut agar bisa memaknai secara utuh statement yang disampaikan PM Rutte.

Baca juga: BPJS Kesehatan Disebut Jadi Syarat Jual Beli Tanah, Ini Kata Pengamat

“Pemerintah Indonesia mengikuti dari dekat publikasi hasil penelitian sejarah “Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950” yang dilakukan oleh tiga lembaga peneliti Belanda (KITLV, NIMH dan NIOD) dan beberapa peneliti Indonesia," kata Faizasyah.

"Kami tengah mempelajari dokumen tersebut agar bisa memaknai secara utuh statement yang disampaikan PM Rutte tersebut,” lanjutnya lewat keterangan hari Sabtu (20/2/2022).

Dalam sebuah video, PM Rutte mengatakan banyak warga Indonesia telah menderita atau masih menderita, akibat apa yang terjadi di masa itu.

Ia menyebut hasil penelitian yang baru keluar menusuk dan konfrontatif.

"Hari ini, atas nama pemerintah Belanda, saya menyampaikan permintaan maaf terdalam saya kepada rakyat Indonesia atas kekerasan sistematis dan ekstrem dari pihak Belanda pada tahun-tahun itu," kata Perdana Menteri Mark Rutte dalam konferensi pers, dikutip dari AFP.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved