Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Katolik Hari Ini, Bertobatlah, Janganlah Ditunda-tunda
"Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Pater-Fredy-JehadinSVD.jpg)
Saudara-saudari
Lewat Injil hari ini, Tuhan ingin menyampaikan satu dua pesan untuk kita.
Pertama tentang darah orang Galilea yang dicampurkan Pilatus dengan darah kurban yang mau dipersembahkan. Menurut Yesus, dosa orang Galilea yang dibunuh itu sama sekali tidak mempengaruhi bahan persembahan.
Menurut Yesus, yang paling penting adalah pertobatan dari dalam diri sendiri. Semua persembahan kita baru punya arti kalau dipersembahkan dengan tulus dan dipersembahkan sebagai ungkapan rekonsiliasi dengan Tuhan sebagai bentuk ungkapan syukur atas kebaikan yang kita terima dari padaNya.
Lewat Injil-Nya hari ini, beberapa kali Yesus Kristus berkata: “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa.” (Lukas 13:3, 5)
Apa arti bertobat? Bertobat berarti bersedia dengan sepenuh hati untuk meninggalkan kebiasaan lama yang kurang baik di masa lalu.
Salah satu kebiasaan lama yang sangat mempengaruhi konsep orang Yahudi di zaman Yesus adalah konsep tentang dosa, di mana terlekat kuat dalam pemikiran mereka bahwa kalau orang sehat bercakap-cakap dengan orang sakit, seperti orang kusta atau orang berdosa, maka mereka akan menjadi najis, jadi kotor dan berdosa juga.
Padahal menurut Yesus, akar dosa sesungguhnya bukanlah pada relasi verbal dengan sesama, tetapi lebih pada keadaan hati dan pikiran setiap pribadi.
Hari ini sekali lagi Yesus ingatkan para pendengar, katanya: “Sangkamu, orang – orang Galilea itu lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain? Tidak kata-Ku kepadamu, Tetapi jika kamu tidak bertobat.”
Pertobatan itu datang harus dari dalam hati seseorang atas dasar kesadaraan untuk berubah. Pertobatan itu janganlah ditunda-tunda. Pertobatan itu harus di mulai sekarang juga. janganlah menanti hari esok.
Kedua, Injil mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu mengharapkan agar benih iman kita harus menghasilkan buah. Injil katakana, bahwa tuan kebun selalu datang ke kebun mencari buah pada pohon ara yang sudah ditanamnya. Tetapi ia tidak menemukannya.
Katanya: “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma? Tetapi penjaga kebun katakan: “Tuan, biarkalah dia tumbuh tahun ini lagi.
Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya.” Kita adalah pohon ara dalam ceritera ini. Sejak kita diciptakan, bibit pohon ara itu sudah ditanamkan Tuhan dalam diri kita masing-masing. Tuhan mengharapkan agar bibit pohon ara itu bertumbuh dan menghasilkan buah.
Bibit pohon ara itu adalah iman yang kita miliki. Iman itu harus diwujud-nyatakan lewat perbuatan nyata dan harus harus menghasilkan buah, Kalau tidak maka iman itu akan kering dan mati.
Kita juga adalah pengurus kebun anggur dan pohon ara dalam ceritera ini. Tuhan mengharapkan agar kita memelihara, menjaga, memberi pupuk dan menyirami pohon ara ini dengan baik agar bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah.
Baca juga: Paroki St. Yoseph Naikoten Kupang Adakan Misa Pelindung Gereja, Rd Jhon Sebut Ada Hadiah Istimewa