Berita Ende
Riset UGM Temukan 14 Persen Masyarakat Ende Minum Air Mentah
Riset Fakultas Kedokteran,Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan 14 persen warga Ende minum air mentah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/ILUSTRASI-AIR-KERUH.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Irfan Hoi
TRIBUNFLOERES.COM, KUPANG- Perilaku masyarakat di Kabupaten Ende, Pulau Floers dipandang menarik secara akademis. Hasil riset Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan warga Ende mengkonsumsi air mentah.
Perwakilan FK-KMK UGM, Daniel mengungkap hasil riset ini dalam webinar Hari Air Sedunia yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI, Selasa, 22 Maret 2022. Riset yang dilakukan mengenai pengelolaan air minum rumah tangga (PAM RT) yang menjangkau hingga perilaku pendukung pencegahan stunting.
Ia mengatakan, presentasi masyarakat Ende cukup besar dalam mengelola air untuk diminum atau dengan merebus air.Namunmasih banyak juga warga yang mengkonsumsi air mentah.
Daniel telah melakukan riset di Palu, Sumba Timur sejak 2018 . Sedangkan riset di Ende baru selesai pada Desember 2021.
Baca juga: Bocah Pedalaman Ende Berlari Bawa Meter Ukur, Boy : Mau Bangun Jembatan di Sungai Lowolaka
Untuk desa-desa di Palu, kata Daniel, baru 30 persen masyarakatnya yang merebus air untuk diminum, sementara di Sumba Timur 50 persen masyarakatnya masih mengkonsumsi air mentah.
"Sedangkan Ende menariknya 90 persen telah memasak air, tetapi dari perilaku penduduk bisa dipelajari ada yang mengkonsumsi air mentah," tukasnya.
Padahal air yang dimasak di sana, sebut dia, memiliki kualitas yang baik yaitu 40 persen berbanding 26 persen atau bisa disebut sangat aman dikonsumsi.
Studi di Ende ini dilakukan dengan teknik wawancara dan inspeksi sanitasi di 3 desa, pada 425 responden dan 143 sampel air minum.
Baca juga: Sampai Bulan Maret 37 Warga Flores Timur Menderita Demam Berdarah Dengue
Ia merinci pengelolaan air minum oleh rumah tangga di Ende telah 90 persen dimasak. Sementara 86 persen mengaku tidak meminum air mentah atau dapat dikatakan 14 persen masih meminum air mentah. Sedangkan untuk konsumsi air yang dimasak sebesar 83 persen.
"Meskipun telah tinggi angka pengelolaan air di Ende dengan cara dimasak tetapi masih ada yang mengkonsumsi air mentah," sebut dia.
Apabila dilihat dari polanya, kebiasaan mengkonsumsi air mentah ini dilakukan bila berada di luar rumah seperti di ladang, sawah atau kebun karena masyarakat pada umumnya berprofesi sebagai petani. Menurut dia perlu pengaturan perilaku mengkonsumsi air yang sudah dimasak. Hal ini terkait dengan faktor psikologi yang mana berbeda di setiap wilayah termasuk di tiga lokasi studi di Ende.
PAM RT sendiri terdiri dari dua aspek yaitu pengolahan dan penyimpanan air minum yang aman. Merebus air, kata dia, memang efektif dalam membunuh kuman. Sementara ultimate goal yang diinginkan pemerintah adalah air tanpa kontaminasi dan bisa diminum langsung dari keran.
Baca juga: Kisah Petani di Ende, Panen Ubi Nuabosi yang Berukuran Kecil dan Busuk
Untuk inspeksi sanitasi yang ditemukan yaitu kondisi wadah penyimpanan airnya 92 persen sangat baik, tapi peletakan wadahnya masih 17 persen tepat di atas lantai.
Sedangkan kebersihan di sekitar wadah diketahui 40 persen ada ternak atau hewan, 23 persen ada kotoran hewan, 27 persen dekat sampah dan 72 persen lantai yang tidak bersih.