Berita Flores Timur
Mengenal Koke Bale di Adonara Flores Timur
KOKE BALE di lewo Tabi , kampung lama, menurut tutur , berubah wujud menjadi Batu usai Lewo Tabi dan Lewo sekitar seperti Bothan, diterjang bencana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Mengenal-Koke-Bale-di-Adonara-Flores-Timur.jpg)
Oleh: Kornel A. Tabi, Perantau Dawataa
TRIBUNFLORES.COM, ADONARA - Kole Bale mungkin masih asing bagi sejumlah orang. Tapi rupanya tidak bagi warga Adonara di Kabupaten Flores Timur.
Berikut ini adalah ulasan Koke Bale dari warga Adonara, Kornel A.Tabi.
Dalam pelbagai petuah, dari sumber sumber tutur generasi demi generasi, KOKE BALE dengan arsitektur dan ornament yang dibangun sebagai padanan Lango Bele Suku (Lango beleng mapane ) oleh komunitas suku Tabi di Lewo Lama Kukung Dawataa, konon menyerupai yang dibangun dulu oleh Nenek Moyang Suku Tabi, Tabi Ola Ama di kampung lama , Lewo Tabi/Dua Tabi .
KOKE BALE di lewo Tabi , kampung lama, menurut tutur, berubah wujud menjadi Batu usai Lewo Tabi dan Lewo sekitar seperti Bothan, diterjang bencana belebo lebo.
Baca juga: Lima Desa di Flores Timur Raih Penghargaan ADWI Award 2021
Warga Lewo Tabi akibat bencana itu kemudian mengungsi ke Lewo yang sekarang dinamai Lamakukung. Separuh warga sempat mengungsi sampai ke wilayah Botung Suban Koten, setelah itu kembali lagi ke Lewo Lamakukung.
Bukti KOKE Bale yang berubah wujud menjadi Batu besar, hingga saat ini masih ada di Lewo Tabi. Komunitas suku Tabi lebih menyebutnya Bale Suku.
Seremoni memulai gerihang lango beleng suku , koke bale , dan lain lain upacara adat menyangkut komunitas suku Tabi, tetap didahului di Bale Suku ini.
Kampung lama ini letaknya kurang lebih 3 kilometer dari kampung Lamakukung, di wilayah Ile Ludu Timu Klego, berbatasan dengan Ile Olak, Danibao.
Di Bale Suku ini, yang sekarang berwujud batu besar, juga saban waktu tertentu dilakukan upacara minta hujan, hode urang wai.
Baca juga: Alumni 83 SMA Surya Mandala Adonara Bersihkan Sampah di Empat Obyek Wisata
Setelah 2013, pada 1 sampai 3 September 2021 kemarin, dilangsungkan upacara tula /grihang Koke Bale. Koke Bale dengan bahan dasar pembuatan dari bambu aur, tali talian, batang pinang dan daun kelapa ini laksana dua menara kembar, dibangun di sebelah kanan depan dari rumah adat , lango belen suku Tabi.
Puncak acara Tula Koke Bale adalah rekang manuk bolang dan Dulat.
Rekang Manuk Bol,'ang , sebagai ritus penyatuan kembali laki laki Suku Tabi , Tua Muda ,besar kecil, sebagai satu kesatuan, turunan darah Tabi Ola Ama.
Laki laki Tua Muda suku Tabi di ritus ini membawa masing masing 1 atau 2 ekor ayam jantan bertaji yang gagah perkasa ke lango belen sebagai simbol keturunan Tabi Ola Ama.
Ayam jantan bertaji yang dibawa kemudian dipisahkan , beberapa untuk ritus rekang manuk bol'ang yang hanya boleh untuk Laki laki Suku Tabi dan Istri sedangkan ayam yang lain dipersembahkan untuk para edo breung, suku suku lain, anak gadis dari suku Tabi.
Adapun laki laki tua muda besar kecil Suku Tabi yang ada di tanah rantau karena bekerja, studi, atau alasan lain dan tidak ikut acara tuno manuk rekang manuk bol'ang ini pun mendapat bagian manuk bol,ang ini. (umeng re naparo).
Sebelum ritus rekang manuk bol'ang, didahului dengan Dulat. Semua laki laki suku Tabi , tua muda besar kecil didupa dengan minyak oleh Ketua Suku.
Juga istri- istri yang datang dari suku lain. Dulat tidak diikuti anak gadis suku Tabi.
Anak gadis suku tabi diyakini kelak akan keluar suku Tabi mengikuti suaminya dari Suku Lain sehingga dia tidak didulat.
Baca juga: Anggota DPRD Flores Timur Salurkan Dana Pokir Rp 300 Juta di Adonara
Selain ritus dulat ini sebagai semacam sensus,cacah jiwa laki laki suka Tabi dan istri/perempuan sudah menikah masuk ke suku Tabi, juga sebagai permohonan rejeki, harapan lebih baik ke depan karena sudah disegarkan, sekaligus ritus tolak bala, meminta terhindar dari mara bahaya dan penyakit.
Adapun ritus rekang manuk bol'ang ini dibuat setelah upacara ceremoni di Koke Bale berakhir yang ditandai dengan dilepasnya Manuk Bol'ang, yang disebut Manuk Kabaren Belaong, Ayam Jantan Bertaji Emas sebagai simbol Komunitas Suku Tabi.
Hikayat tentang Manuk Kabaren Belaong, Ayam Jantan Bertaji Emas tidak banyak ditutur kecuali adanya upacara ini.