Berita Flores Timur
Napak Tilas 20 Tahun Pekka NTT: Perempuan Berjalan Tanpa Batas, Berjalan Sambil Membuat Jalan
Sejak 2 Februari 2022, Serikat Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) NTT mulai terbentuk di NTT tersebar di tiga kabupaten yaitu Alor, Lembat
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Amar Ola Keda
TRIBUNFLORES.COM,ADONARA-Sejak 2 Februari 2022, Serikat Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) NTT mulai terbentuk di NTT tersebar di tiga kabupaten yaitu Alor, Lembata dan Flores Timur.
Hingga kini, embrio Serikat Pekka tersebar di 24 kecamatan, 3 kelurahan dan 126 desa dengan total jumlah kelompok yang tersebar di NTT sebanyak 175 dengan anggota 3.250 orang.
Pengawas Federasi Pekka Indonesia, Bernadete Deran Langobelen menuturkan, Pekka mulai digagas akhir tahun 2000, dari rencana awal Komnas Perempuan yang ingin mendokumentasikan kehidupan janda di wilayah konflik untuk memperoleh akses sumber daya agar dapat mengatasi persoalan ekonomi dan trauma.
Semua upaya itu diberi nama Windows Project yang didukung dana hibah dari Japan Sosial Development Fund (JSDF) melalui Trust Fund Bank Dunia. Komnas Perempuan kemudian meminta Nani Zulminarni atau Bunda Nani yang pada saat itu menjadi ketua pusat pengembangan sumber daya wanita (PPSW) menjadi koordinator program itu.
Baca juga: Serikat Pekka Lahirkan Tiga Kades Perempuan di Flores Timur
Melalui proses refleksi dan diskusi intensif dengan berbagai pihak, Bunda Nani kemudian mengusulkan mengintegrasikan kedua gagasan awal ini, kedalam sebuah upaya pemberdayaan yang lebih komprehensif. Windows Project atau proyek untuk janda kemudian diubah tema dan judulnya menjadi lebih provokatif dan ideologis, yaitu dengan menempatkan janda lebih pada kedudukan, peran, tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
"Upaya itu diharapkan lebih mampu membuat perubahan sosial dengan mengangkat martabat janda dalam masyarakat yang mampu membuat perubahan sosial dengan mengangkat martabat janda dalam masyarakat yang sering memiliki stereotip negatif. Bunda Nani lalu mengusulkan judul program Pekka dan disepakati semua pihak," tuturnya saat acara HUT Pekka ke-20 tahun di kantor pusat Pekka Desa Hinga, Kecamatan Kelubagolit, Adonara, Flores Timur, Kamis 14 Juli 2022.
Di bulan Januari 2000, Pekka mulai dikembangkan di NTT di bawah tiga koordinator lapangan, Bernadete Deran Langobelen, Nur Aisya Jamil dan Ita Hera dengan wilayah sasaran Ile Boleng, Kelubagolit dan Larantuka. Tiga perempuan ini berjalan dari desa ke desa dengan misi mengembangkan program Pekka yang sangat bertentangan adat dan budaya Lamaholot yang kental dengan budaya patriarki.
Perempuan-perempuan yang menyandang status janda dihimpun dalam sebuah wadah kelompok, dilatih mengembangkan diri dengan kegiatan simpan pinjam, masak minyak, membuat kopra, menjual sapu lidi, daun pisang dan kopi luwak agar bisa mendapatkan uang untuk disimpan di kelompoknya agar bisa membantu temannya yang membutuhkan.
Baca juga: Dinas Koperasi Flotim Usulkan 40 Ribu UKM dapat Bantuan Produktivitas
Berkumpul bersama adalah satu kegiatan yang sangat dirindukan karena dengan berkelompok, ibu-ibu bisa menyampaikan segala suka duka dan mencari solusi untuk mengatasi persoalan mereka.
Ibu-ibu dilatih kepemimpinan dirinya dengan memimpin rapat, menyampaikan pendapat saat pertemuan rutin serta diskusi merencanakan, memaksa serta mengontrol atau mengawasi dan mengevaluasi bersama.
Dalam wadah ini, ibu-ibu potensial dipilih dan dilatih secara intensif baik di tingkat kelompok sampai ke tingkat nasional untuk membantu bergerak bersama pendamping lapang di wilayahnya maupun lintas wilayah pendampingan kelompok Pekka sesuai tahapan perkembangan program-program Pekka.
"Seiring berjalannya waktu, gerakan awal dengan pintu masuk simpan pinjam pra koperasi maka difasilitasi untuk semua kelompok yang ada mengadakan RAT perdana di tahun 2003. Dari sinilah kepercayaan diri juga orang luar terhadap Pekka mulai terlihat," katanya.
Melalui dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) bagi kelompok-kelompok Pekka yang telah melakukan RAT perdana di tingkat kelompok dibagi dalam beberapa pos yaitu, makanan sehat bagi anak-anak Pekka dan ibu-ibu usia jompo, pendidikan (diberikan bea siswa bagi anak-anak Pekka dalam bentuk seragam sekolah komplit), sarana prasarana dan Usaha Ekonomi Produksi (UEP) dana bergulir.
Baca juga: Dideportasi Warga Negara Filipina Tinggalkan Suami dan Anak di Flores Timur
Kemudian di awal tahun 2004, kekompakan dan persaudaraan tiga tungku yang difasilitasi tiga pendamping lapangan Pekka menggelar satu kegiatan untuk mempersatukan ibu-ibu dalam satu forum wilayah dengan melibatkan tiga wilayah besar yaitu Kecamatan Kelubagolit, Ile Boleng dan Larantuka bertempat di Desa Redontena, kecamatan Kelubagolit.