Berita NTT

Mengenal Budaya "Kosu" di NTT, Bekal Bagi Pengantin Jalani Rumah Tangga Baru

Tarian ini sebagai ungkapan kegembiraan, suka cita keluarga besar sambil mengelilingi mempelai laki-laki dan mempelai perempuan.

Editor: Gordy Donovan
POS-KUPANG.COM
TARIAN - Tarian Kosu kepada pasangan pengantin di Amarasi, Juli 2022. 

TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Pernikahan akan menjadi awal perjalanan sebuah rumah tangga baru, khusus di Amarasi ada sebuah tradisi memberikan bekal bagi pengantin baru.

Bekal tersebut bukan berupa barang tapi berupa uang yang akan diselipkan di sebatang lidi kelapa, bambu, sebatang kayu atau peralatan lainnya lalu dicucukan ke kepala pengantin sambil diiringi lagu dan tarian.

Bagi orang Amarasi, tarian kosu dengan ciri khas menari berdiri di tempat menggerakkan tangan mengikuti alunan musik Amarasi sebagai awal pembuka pada acara resepsi pesta pernikahan.

Kebanyakan tarian kosu dengan menyelipkan uang sebagai bekal tersebut di sanggul mempelai wanita.

Baca juga: Rakor Bersama Biro Organisasi Setda Provinsi NTT, Ombudsman NTT Dorong Kepatuhan Pelayanan Publik

 

Biasanya jumlah uang bervariasi nilainya. Ada yang menggunakan uang lima ribu rupiah sampai dengan ratusan ribu rupiah. Uang tersebut dijadikan sebagai modal awal bagi keluarga baru untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga atau investasi lainnya

Tarian ini sebagai ungkapan kegembiraan, suka cita keluarga besar sambil mengelilingi mempelai laki-laki dan mempelai perempuan.

Tarian ini mejadi populer baik bagi kalangan muda-muda maupun orang tua.Tarian ini sampai sekarang masih populer dan dikenal seluruh lapisan masyarakat Amarasi.

Umumnya mempelai perempuan setelah nikah adat, nikah Gereja dan acara turun fam (marga) wajib ikut mempelai laki-laki membentuk rumah tangga baru di tempat asal mempelai laki-laki.

Uang yang dihimpun melalui tarian kosu dapat digunakan di tempat yang baru dimana mereka tinggal.

Baca juga: Baru 12 Daerah Ikut Turnamen Sepak Takraw Poprov PSTI NTT  

"Kosu bukan cuma ajang pamer tapi sebagai bentuk penghargaan bagi kedua mempelai," ujar Adrianus Tnunay salah satu Tokoh Masyarakat Adat Buraen saat acara adat peminangan di salah satu warga di Buraen.

Maka tak heran dimanapun berada masyarakat amarasi yang melakukan acara adat pernikahan akan melakukan tradisi mereka dengan menari Kosu.

Kini terkadang maknanya sudah mulai bergeser dan sering dilakukan bila ada acara suka baik hajatan syukuran Wisduda maupun acara lainnya.(*)


Berita NTT lainnya

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved