Jumat, 5 Juni 2026

Berita Sikka

29 Tahun Lalu Baba Akong Diolok Tanam Mangrove Kini Jadi Hutan Wisata dan Riset

Pasca gempa bumi dan tsunami melululantahkan Kota Maumere dan sebagian wilayah di Pulaiu Flores, tanggal 12 Desember 1992 menyadarkan Baba Akong.

Tayang:
Penulis: Egy Moa | Editor: Egy Moa
zoom-inlihat foto 29 Tahun Lalu Baba Akong Diolok Tanam Mangrove Kini Jadi Hutan Wisata dan Riset
TRIBUN FLORES.COM/EUGENIUS MOA
Antonius Gusto Raiyon (baju merah) bersama Kadis Soial Kabupaten Sikka,Drs.Rudolfus Ali menanam anakan mangrov di pesisir pantai Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda,Pulau Flores,Rabu 21 September 2022. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Pasca gempa bumi dan tsunami melululantahkan Kota Maumere dan sebagian wilayah di Pulaiu Flores, tanggal 12 Desember 1992. Korban manusia dan harta terbanyak karena gelombang tsunami yang muncul bagai air bah.

Bencana itu menjadi permenungan almarhum Viktor Emanuel Raiyon yang lebih dikenal sapaan Baba Akong. Berdomisili di Ndete, Desa Rerorja, Kecamatan Magepanda pesisir pantai utara Laut Flores wilayah itu relatif nyaman dari sapuan tsunami. Namun ketakutan tetap menghantui Baba Akong.

Informasi dari mulut ke mulut menyatakan beberapa lokasi di pantai utara yang selamat dari amukan tsunami karena dibentengi tanaman pohon bakau.

Memulai pertama kali menanam mangrove, Baba Akong diolok-olok oleh tetangga dan warga sekitar. Beberapa yang lainnya memrotes Baba Akong berdarah Tionghoa kenapa tidak berdagang saja.

Baca juga: Kasus Siswi Buang Bayi di Maumere, Ini Penjelasan Dokter Puskesmas Boganatar di Talibura Sikka

TANAMAN MANGROV
Tanaman mangrov di pantai Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Pulau Flores, Rabu 21 September 2022.

“Saya juga tidak mau ikut tanaman bakau. Banyak orang olok-olok dia. Mereka protes kenapa dia tanam bakau? Nenek moyang Adam dan Hawa tidak ajarkan tanam bakau. Tidak dimakan,” kenang Anselina Nona, istri Baba Akong, kepada TribunFlores.com, Rabu siang 21 September 2022 di Reroroja.

Tak hanya warga sekitar memrotes, Anselina Nona pun tak setuju suaminya menanam bakau. Empat hari berturut, Baba Akong sendirian ke pantai memulai penanaman. Barulah di hari yang kelima wanita asal Sikka menenami Baba Akong menanam bakau.

Usaha mandiri tak kenal lelah yang dilakukan Baba Akong membuka  mata banyak orang. Bermula dari sebuah sayembara atau semacam kompetisi lingkungan yang diselenggarakan oleh STFK Santo Paulus Ledalero menominasikan Baba Akong. Tahun 2008, namanya melejit  tampil di acara Kick Andy asuhan wartawan senior Andy Noya di Metro TV, kemudian juga  ke Trans TV.

“Saya ikuti damping Baba Akong ke Jakarta tampil di Kick Andy,”kisah ibu enam anak,13 cucu dan dua cicit ini.

Baca juga: Bulan Kitab Suci Nasional 2022 di Sikka, SMK St.Thomas Maumere Gelar Lomba Baca Kitab Suci

JEMBATAN BAMBU
Jembatan bambu sepanjang 300-an meter di tengah hutan mangro di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Pulau Flores.

Pada tahun 2008 itu juga, Baba Akong mendapat penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan dari Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar. Apreasiasi kembali menghampirinya pada 2009 dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menghargai karyanya pada kategori Perintis Lingkungan diserahkan di Istana Negara.

Anselina tersadar dan bangga tak ada taranya. Dari tangan suaminya setiap hari berpeluh dan berlumpur, dia mewariskan hutan mangrove yang menjadi salah tujuan wisata pantai dan tempat penelitian.

Baba Akong telah berpulang 6 Maret 2019 ketika hari raya Rabu Abu, pembukaan Bulan Puasa bagi umat Katolik sejagat. Tanpa pesan apapun, ia pergi selamanya dalam usia 72 tahun setelah beberapa kali berobat jantung ke rumah sakit di Jawa, namun tidak mengalami kesembuhan permanen.

“Sama sekali tidak ada pesan.Dia sepertinya sudah tahu hari kematianya. Pada hari itu, dia tidur lurus dan tanganya dikatupkan ke dada,”kenang Anselina lagi.

Baca juga: Bacaan Injil Katolik Hari Ini Jumat 23 September 2022, Lengkap Mazmur Tanggapan

Baba Akong mewariskan harta hutan mangrov seluas 60-an Ha merupakan hutan mangrove terluas di NTT. Kawasan ini menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Tak hanya jutan pohon mangrove, aneka burung hutan dan kera hidup di sana.

Kelompok Pengelola

Putra sulung Baba Akong, Antonius Guido Raiyon mengatakan pelestarian kawasan hutan mangrove seluas 60-an ha terus mendapat atensi pemerintah. Tahun 2020, pemerintah pusat mengalokasikan sekitar Rp 100 juta untuk penanamam mangrov seluas 2,5 Ha. Dana itu digunakan pengadaan anakan mangrove, ajir, transportasi dan upah kerja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved