Berita Lembata
Muatan Lokal Basis Budaya Diajarkan di SD sampai SMP di Lembata Diapreasiasi Pegiat Budaya
Pegiat Budaya Lembata,Abdul Gafur Sarabiti mengapresiasi Dinas Pendidikan Lembata menghasilkan buku pelajaran muatan berbasis budaya
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, RICKO WAWO
TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA-Pegiat Budaya, Abdul Gafur Sarabiti mengapresiasi kerja Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata yang telah menghasilkan buku pelajaran muatan lokal berbasis budaya untuk diajarkan di tingkat SD dan SMP di Lembata.
Menurut Abdul Gafur upaya pengarusutamaan kebudayaan pada lembaga pendidikan dan kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah salah satu tujuan dari UU Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.
"Sebagai penggiat budaya, saya selalu membuka ruang kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Lembata dalam pelaksanaan kurikulum muatan lokal berbasis kebudayaan," Abdul Gafur menanggapinya ditemui di Lewoleba, Kamis, 13 Oktober 2022.
Kurikulum muatan lokal yang akan diterapkan di sekolah-sekolah di Lembata ini menjadi momentum kebangkitan kebudayaan di Lembata.
Baca juga: Pesan Penjabat Bupati di HUT Otonomi Lembata,Hentikan Polarisasi
Peran serta institusi pendidikan membuat peserta didik mengalami kebudayaan dalam proses belajar mengajar dengan kurikulum dan bahan ajar muatan lokal akan membawa perubahan besar pada karakter peserta didik, dunia pendidikan dan pembangunan di di segala sektor kehidupan orang Lembata.
Apresiasi yang sama juga datang dari peneliti Piter Pulang yang menyebut Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata telah membuat sejarah dalam dunia pendidikan di Lembata.
Menurut Piter, pemerintah daerah telah membuat satu langkah maju untuk membentuk karakter dan identitas khas Lembata dalam diri generasi muda.
Kepala Dinas Pendidikan Lembata, Anselmus Asan Olan mengatakan,gagasan membuat muatan lokal ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan merosotnya internalisasi nilai-nilai budaya di kalangan generasi muda akibat pengaruh modernisme. Pemerintah daerah pun tentu punya tanggungjawab untuk menyiapkan generasi muda Lembata yang bangga dengan identitas daerah mereka.
Baca juga: Dinas Pendidikan Lembata Wajibkan Bahasa Daerah Jadi Bahasa Pengantar Sekolah
Gagasan untuk menyusun kurikulum berbasis budaya juga jadi salah satu poin penting yang masuk dalam Rencana Kerja Pendidikan (Rakerdik) Kabupaten Lembata Tahun 2022. Sejak itu, tim dibentuk untuk mulai mengumpulkan data-data di seluruh Lembata dan menggelar Focus Group Discussion (FGD).
Anselmus mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhamadiyah Malang dan Kementerian Pendidikan yang telah membantu pemerintah daerah membuat muatan lokal berbasis budaya.
Muatan lokal yang disusun di bawah spirit Kurikulum Merdeka, tentu saja mengutamakan internalisasi nilai peserta didik dan bukan angka. Artinya, guru diberi keleluasan untuk mengukur tingkat ketercapaian pembelajaran berdasarkan tujuan pembelajarannya. Dalam hal ini, ada perubahan paradigma, kalau sebelumnya ‘mengejar angka’ sekarang ‘mengejar nilai.’
Profesor Yus Mochamad Cholily, M.Si dari Universitas Muhamadiyah Malang, mengatakan muatan lokal berbasis budaya sangat penting untuk membentuk karakter dan identitas peserta didik sebagai orang Lembata.
Baca juga: Dinas Pendidikan Lembata Wajibkan Bahasa Daerah Jadi Bahasa Pengantar Sekolah
“Saya belum pernah dengar tentang Lembata di Jawa. Orang Lembata kalau ke Jawa tidak pernah cerita tentang Lembata. Tapi mereka pergi ke Jawa dan pulang ke Lembata dan bicara tentang Jawa,” ujarnya prihatin.
Acara launching dan talkshow ini juga dihadiri langsung oleh para kepala sekolah, guru dan tokoh pendidikan yang ada di Lembata serta Dr Baharuddin, Mpd dari Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan.