Berita Sikka
Berkah Taman Jagung Manis Petani Waigete Bertarung Melawan Hama
Hari mulai senja, Senin 7 November 2022. Para petani belum beranjak dari sawahanya di Desa Egon, Kecamatan Waigete,Kabupaten Sikka, Pulau Flores.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/JAGUNG-REBUS-WAIGETE.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kebelen
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Senja hari Senin 7 November 2022. Hutan rintik turun membasahi tanaman petani di Desa Egon, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Tanaman tampak lebih segar.
Sinar matahari makin redup. Para petani belum beranjak dari kebunnya. Mereka menyiangi rumput, menggemburkan tanah dan menghalau hama tanaman yang hinggap di daun. Satu dari sekian petani yang sibuk di kebunnya, Didaus Diwa (55).
"Pagi sebelum pukul 08.00 sudah tiba di petak. Kalau matahari sudah tinggi kami pulang makan. Agak sore lanjut kerja sambil dagang jagung rebus," ujar Didaus Diwa, Senin 7 November 2022.
Didaus mengisahkan berkah menanam jagung manis. Namun kadangkala, menanam tanaman itu menjadi arena pertarungan antara petani dan banyaknya jenis hama. Ulat, wereng, belalang masih menjadi momok yang menakutkan hingga petani terancam gagal panen.
Baca juga: Unik, Momen Gerhana Bulan Total Warga Sikka Bunyikan Tiang Listrik hingga Cubit Telinga Hewan
Setelah hama ditaklukan menggunakan obat kimia yang mahal, Didaus dihadapkan dengan kemelut harga jual yang pasang surut. Didaus dan istrinya Melisia Redo (46) memutuskan membuka usaha jagung rebus yang harganya dinilai selaras dengan perjuangan petani Rp 10 ribu untuk tiga jagung.
"Kurang lebih sudah delapan tahun jualan jagung rebus. Harganya Rp 10 ribu untuk tiga jagung. Kalau jual ke papalele harganya Rp 10 ribu lima jagung," katanya sambil menghidangkan empat potong jagung rebus kepada wartawan.
Didaus termotivasi menjual jagung rebus karena lokasi kebunnya cukup strategis, yaitu berada tepat di pinggir Jalan Trans Lintas Flores Maumere-Larantuka. Hal ini tentu memudahkan pengunjung untuk mendatangi tempatnya.
Lokasi perkebunan bertajuk wisata dengan gugusan bukit berwarna hijau biasa dijadikan lokasi persinggahan bagi para pelancong saat menjajal wilayah Flores.
Baca juga: Pohon Tumbang di Jalan Trans Pulau Flores di Wairterang Sikka
Selain itu, ragam jenis tanaman perkebunan yang tumbuh subur sangat cocok dijadikan tempat foto. Didaus mengaku banyak kaum muda sering berselfie ria di tempatnya.
Namun, tuturnya, prospek usaha jagung rebus sering mati suri lantaran banyaknya pedagang yang menawarkan dagangan serupa. Persaingan antar petani cun pedagang mempengaruhi omset harian.
"Banyak yang jual makanya pemasukan sepi, sementara jumlah pembeli tidak bertambah, paling mereka yang capeh lalu singgah," katanya.
Di lokasi, terdapat puluhan pedagang jagung dan sayuran. Setiap pukul 07.30 Wita sampai 18.00 Wita, dagangan sudah berjejer di tiap-tiap lapak, sembari menjalankan aktivitas sebagai petani.
Baca juga: Relawan Ganjar Milenial Sikka Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Maumere
Melisia Redo (46), istri Didaus Diwa memaparkan, pemasukan harian berkisar Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu. Hasil itu dimanfaatkan untuk menyokong ekonomi keluarga, termasuk biaya sekolah anak bungsunya yang masih duduk di bangku SD.
"Lebih ramai hari minggu, itu bisa dapat sampai Rp 100 ribu perhari. Jagung yang tidak laku nanti kami makan di rumah," katanya.