Natal dan Tahun Baru

Umat Katolik di Fata Atu Ende Flores Bertaruh Nyawa Lewati Sungai Demi Merayakan Natal

Warga desa Fataatu Timur, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Flores, NTT bertaruh nyawa menerjang derasnya arus sungai Lowolaka untuk merayakan Natal.

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Laus Markus Goti
TRIBUNFLORES.COM/HO-ISAK ABEL DO
Warga sebrangi sungai Lowolaka untuk rayakan Natal di Gereja Paroki Persiapan Santo Mateus Lowumbangga, Ende, Flores Nusa Tenggara Timur, Sabtu 24 Desember 2022. 

TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Warga desa Fataatu Timur, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) bertaruh nyawa menerjang derasnya arus sungai Lowolaka demi merayakan misa malam Natal, Sabtu 24 Desember 2022.

Sungai Lowolaka yang lebarnya mencapai 90 meter membelah wilayah Desa Fataatu Timur. Tidak ada akses jembatan di sungai tersebut. Warga pun tidak punya pilihan lain, karena tidak ada jalan alternatif.

Pada musim penghujan seperti di bulan Desember ini, sungai Lowolaka seringkali meluap dan arusnya bisa mendadak sangat deras. Kondisi ini, menyebabkan aktivitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan keagamaan terhambat.

Pada perayaan malam Natal Sabtu 24 Desember 2022, anak - anak hingga orang tua, nekat menerjang sungai Lowolaka. Anak - anak dibantu oleh orang dewasa untuk menyeberangi sungai. Mereka pun harus merayakan Natal dalam kondisi basah kuyup.

Baca juga: Bocah Pedalaman Ende Berlari Bawa Meter Ukur, Boy : Mau Bangun Jembatan di Sungai Lowolaka

 

Mereka merayakan Misa Malam Natal di Gereja Paroki Kuasi Santo Mateus Lowumbangga, masih dalam wilayah Desa Fataatu Timur. Lowumbangga merupakan pusat aktivitas dan fasilitas publik di Fataatu Timur.

Terkait tidak adanya akses jembatan, Isak Abel Do, Kepala Desa Fata Atu Timur, menerangkan, pihaknya sudah berulang kali melalui Musrenbang hingga ke tingkat kabupaten, namun hingga saat ini belum ada kepastian dari pihak pemerintah Kabupaten Ende.

Isak menceritakan, pada 1999 silam, Sungai Lowolaka pernah meluap dan merusak rumah warga, sehingga pada 2013 - 2015 mulai dilakukan normalisasi sungai.

Namun, Normalisasi tak cukup berhasil. Saat banjir datang, air meluap melewati tanggul penahan.

Ada dari pihak Balai Jalan Nasional yang datang melakukan survey untuk membangun jembatan, namun sampai saat ini, belum ada kabar lagi.

Baca juga: Cerita Pastor di Pedalaman Ende, Lihat Siswa Bertaruh Nyawa Melintas Sungai Lowolaka

 

Desa Fataatu Timur, dihuni oleh 247 Kepala Keluarga (KK) dan 1.118 jiwa. Meraka bertahan hidup dengan bertani dan beternak.

Komoditas pertanian yang warga dihasilkan, antara lain, beras, sayuran, pisang kelapa, jambu mete, kakao. Sementara itu komoditas peternakan antara lain, sapi, ayam dan kambing.

Dia menerangkan, arus sungai Lowolaka susah diprediksi, kadang tenang tetapi bisa  tiba - tiba menjadi sangat deras. Ketinggian air pun berubah - ubah, bergantung pada curah hujan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved