Berita Kota Kupang
Terjangkit Virus ASF, 37 Ekor Babi di Kota Kupang Mati
37 ekor babi di Kota Kupang mati akibat virus ASF. Pemerintah mendata kasus itu terjadi sejak Desember 2022.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Ternak-babi-milik-warga-Kabupaten-Kupang-mati-mendadak.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - 37 ekor babi di Kota Kupang mati akibat virus ASF.
Pemerintah mendata kasus itu terjadi sejak Desember 2022.
Adapun rincian kasus kematian ternak babi berasal dari Kelurahan Lasiana 8 ekor, Oepura 1, Liliba 1, Belo 12 dan Manutapen 15 ekor.
Kepala Dinas Pertanian Kota Kupang, Obed Kadji menyebut sejak jumlah kematian 37 ekor itu, hingga kini belum ada laporan lagi terkait kejadian serupa.
Baca juga: Lakalantas Tronton Angkut Semen di NTT, 1 Korban Meninggal Dunia, 1 Masih Dirawat
"Upaya dari dinas sendiri yaitu dengan melakukan desinfektan, yang juga didapat dari Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Dinas Peternakan," kata dia, Rabu 25 Januari 2023.
Obed menjelaskan, hingga kini, pemerintah pusat sampai ke daerah, belum memiliki vaksin untuk virus ini. Akibatnya kasus yang sering terjadi ini jelas memberi rugi bagi peternak.
Ia mengaku karena ketiadaan vaksin, ketika pihaknya mendapat laporan kasus ini, paramedik dari dinas dikirim ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan. Virus ini, menurut dia menyerang dengan cepat.
Ternak babi yang terserang, sangar rentan untuk mari hanya dalam beberapa hari. Hal ini akhirnya menimbulkan ketakutan dari para peternak. Karena akan merugi dan berdampak pada perekonomian.
Baca juga: Ombudsman NTT Sebut Konflik Kepentingan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah, Ungkap 8 Modus Korupsi
"Terutama pada inflasi, di mana salah satu penyebab inflasi adalah daging babi," sambung dia.
Menurut Obed, pemerintah provinsi juga memberikan disinfektan 1.000 liter untuk disemprotkan ke kandang babi. Disinfektan dilakukan penyemprotan oleh peternak maupun tenaga paramedik dari dinas yang ia pimpin.
Dia meminta para peternak untuk menjaga kebersihan kandang, memastikan makanan yang diberikan kepada ternak, dimasak dengan baik. Paling penting, kata dia, tidak memberi makanan hasil olahan daging babi.
Dia juga mengimbau masyarakat agar jangan membeli daging babi yang dijual di pinggir jalan.
Ia beralasan, dinas sendiri tidak bisa menjamin kebersihan dan layak konsumsi daging. Obed menyarankan masyarakat membeli daging babi di pasar atau yang sudah ada sertifikat atau surat dari dinas. (Pos Kupang.Com)
Berita TRIBUNFLORES.COM lainnya di Google News