Berita Manggarai
Petani Hortikultura di Manggarai Minta Perhatian dari Pemerintah Akses Modal dan Bantuan Bibit
Potensi pertanian Hortikultura di wilayah itu terbilang cukup menjanjikan, sebab merupakan pasokan utama sayuran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Petani-minta-perhatian.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM,Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM,RUTENG - Geliat pertanian hortikultura di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah setempat.
Potensi pertanian Hortikultura di wilayah itu terbilang cukup menjanjikan, sebab merupakan pasokan utama sayuran segar bagi wilayah pariwisata seper premium Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Demikian diutarakan oleh Mama Kristina warga asal Ka Sama, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT, saat ditemui TRIBUNFLORES.COM, di lahan miliknya pada Senin 6 Maret 2023.
Selama ini mama Kristina merasa tidak mendapatkan dukungan dari Pemerintah setempat terutama dalam memberikan bantuan, baik berupa bibit maupun mulsa dari Dinas terkait.
Baca juga: Stiker Coklit Tidak Ditulis Nama Pemilih Ditemukan Bawaslu Manggarai
"Dari kami petani di Manggarai Flores, alangkah baiknya bapa Bupati perhatikan kami, kami membutuhkan bibit brokoli dan mulsa," ungkapnya
Kendati selama ini ada kelompok tani (Poktan) yang menghimpun mereka, namun tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah dalam mendukung usaha yang mereka geluti.
Selain itu, Kristina juga memohon kepada pemerintah setempat untuk memberi mereka bantuan dalam bentuk modal dalam mendukung usaha mereka .
"Kami sangat kesulitan mendapatkan modal, kerena uang terbatas, kami tidak bisa menanam banyak karena kebutuhan beli bibit, perawatan juga butuh modal banyak, " lanjut Dia
Mama Kristian bersama suami Tobias Jehabut berusaha di atas lahan 1/2 hektar dengan beberapa jenis tanaman umur pendek. Lahan yang mereka garap ini merupakan milik orang lain yang diberi izin untuk mereka berusaha.
Dalam prosesnya selama ini, mama kristina dan suami kerap mengalami kendala dalam mendukung usaha yang mereka geluti. Akses modal usaha untuk membeli bibit, obat dan mulsa cukup susah bagi mereka.
Dalam menjalani usaha ini, mama Kristina menyampaikan, membutuhkan modal yang cukup banyak, sebut saja harga mulsa untuk satu petak mencapai delapan ratus ribu rupiah sekali tanam.
"Mulsa kami beli sendiri sekitar delapan ratus ribu rupiah satu rol. Selain itu harga bibit juga cukup mahal, " katanya ibu empat anak ini
Selain itu, persoalan yang kerap ditemukan keluarga ini, dari hasil panen juga tidak menentu dengan dihantui oleh gagal panen. Untuk itu kata Dia, untuk mencapai hasil yang baik membutuhkan perawatan ekstra termasuk persiapan obat pembasmi hama.