Musim Kemarau di Manggarai
Petani di Manggarai Pasrah dengan Ancaman Gagal Panen
Kekeringan berkepanjangan berdampak ancaman gagal panen bagi warga Lingko Molo, Gendang Cara, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng
Penulis: Charles Abar | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/SAWAH-DI-MANGGARAI-1.jpg)
Sementara Kepala Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega, Manggarai, Decky Irmawan kepada, TRIBUNFLORES.COM, beberapa waktu lalu menyampaikan, kondisi saat ini memasuki masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.
Kata Decky, puncak musim hujan diprediksi akan berlangsung pada bulan Desember hingga awal tahun baru.
"Saat ini masuk masa transisi sepanjang Oktober. Kemungkinan puncak musim hujan akan berlangsung Desember hingga Ferbruari tahun depan," kata Dicky
Lambatnya musim hujan tahun ini disebabkan dampak El Nino. Walaupun memasuki November curah hujan sedang akan terjadi di Manggarai bagian tengah dan Manggarai Selatan. Sementara untuk Manggarai bagian utara agak lambat.
"Untuk wilayah Manggarai bagian tengah kecamatan Langke Rembong, Wae Ri'i hingga Ruteng Lelak dan Rahong utara , sudah mulai turun hujan. Sama dengan wilayah selatan, Satar Mese. Sementara untuk wilayah Utara agak lambat," lanjut Dicky
Pemerintah kabupaten Manggarai menyadari betul ancaman serius akibat kekeringan, akan berdampak pada melonjaknya harga beras.
Selain melonjaknya harga beras, kemarau berkepanjangan juga berdampak pada ancaman gagal panen pada lokasi lumbung beras di Manggarai.
Pemerintah hingga saat ini, terus melakukan operasi pasar murah namun belum menyasar pada tingkat desa hanya berkutat di seputaran Kota Ruteng.(Cr2).
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News