Demam Babi Afrika
Puluhan Ekor Babi di Manggarai Barat Mati Mendadak Diduga Terindikasi ASF
Sampel ternak babi yang mati mendadak diduga terserang Demam Babi Afrika di Manggarai Barat telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.
Penulis: Berto Kalu | Editor: Egy Moa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/TERNAK-BABI-DI-MANGGARAI-BARAT.jpg)
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Berto Kalu.
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO- Sejumlah 85 ekor ternak babi di Kabupaten Manggarai Barat dilaporkan mati mendadak sejak awal Januari 2024 dengan gejala penyakit African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Manggarai Barat, Abidin mengatakan telah mengirim sampel babi yang mati itu ke Balai Besar Veteriner (BBVet) di Bali.
"Kepastian penyebab kematian puluhan babi masih menunggu hasil pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) ASF," ujarnya, Rabu 21 Februari 2024.
Ia menambahkan, babi yang mati terindikasi ASF itu berasal dari empat kecamatan di Manggarai Barat, yakni Kecamatan Komodo, Boleng, Lembor, dan Lembor Selatan.
Baca juga: Material Longsor di Welak Manggarai Barat Akhirnya Dibersihkan Setelah Enam Hari.
"Sejauh ini baru empat kecamatan itu, belum ada laporan dari kecamatan lainnya," katanya.
Lebih lanjut dijelaskan, berdasarkan diagnosis dokter hewan Dinas Peternakan Manggarai Barat puluhan babi yang mati iru terindikasi ASF dengan gejala-gejala seperti panas, nafsu makan menurun hingga menceret.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Manggarai Barat, disebutnya, melakukan sejumlah upaya pencegahan agar kematian babi dengan gejala ASF tidak meluas ke daerah lain.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada peternak di seluruh kecamatan yang diduga terserang ASF. KIE dilakukan petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di masing-masing kecamatan.
Baca juga: Hari Keenam Longsor di Desa Gurung, Warga Tunggu Alat Berat Pemda Manggarai Barat
Selain itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Manggarai Barat juga melakukan penyemprotan dengan desinfektan di kandang babi yang mati.
"Pengumuman keliling juga dilakukan, termasuk di tempat-tempat ibadah dan sekolah," ungkapnya.
Abidin meminta masyarakat untuk tidak makan daging babi yang mati terindikasi ASF. Babi yang mati harus dikubur, tidak dibuang di sungai atau tempat umum.
"Pemotongan babi wajib dilakukan di rumah potong hewan, dan melarang peredaran daging babi beserta prodak ikutannya yang berasal dari babi sakit atau mati. Kemudian tidak memberikan sisa makanan yang berasal dari limbah prodak babi kepada babi yang lain serta memberikan pakan bernutrisi dan vitamin secara rutin," imbuhnya.
Baca juga: Jembatan Penghubung 2 Desa di Manggarai Barat Rusak Diterjang Banjir
"Yang penting diperhatikan masyarakat saat ini adalah tidak boleh ada pergerakan babi dari satu tempat ke tempat yang lain sampai kejadian ini hilang," pungkasnya. *
Berita TRIBUNFLORES .COM lainnya di Google News
ASF serang babi di Mabar
Demam babi Afrika
Demam Babi Afrika di Manggarai Barat
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mabar
TribunFlores.com hari ini
| Manajemen TribunFlores dan Pos Kupang Bertemu Keluarga Antonius Reynold da Cunha |
|
|---|
| Rektor Undana Kupang Bicara Daya Juang Bukan Sekedar Kata-kata |
|
|---|
| Nasdem Klaim Tujuh Kursi DPRD Flores Timur |
|
|---|
| Material Longsor di Welak Manggarai Barat Akhirnya Dibersihkan Setelah Enam Hari. |
|
|---|
| Terbanyak, 65 Persen Mahasiswi Undana Jalani Wisuda |
|
|---|