Berita Lembata
239 Ternak Babi di Lembata Mati Sejak Mei 2024, Dua Sampel Babi Positif ASF
Sejak Mei 2024, 239 ternak babi di Lembata mati dan 2 postif virus African Swine Fever atau demam babi Afrika.
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Cristin Adal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/RATUSAN-BABI-MATI-DI-LEMBATA.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen
TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Lembata mencatat sejak Mei 2024 sebanyak 239 ternak babi mati dan dua postif virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.
Hasil ini diperoleh setelah sebelumnya mengirimkan sejumlah sampel berupa darah dan organ babi ke Laboratorium Veteriner Denpasar, Bali.
Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata, Theresia Making menyebutkan, angka kematian babi di Lembata sudah cukup tinggi.
Kejadian ternak babi yang mati terbanyak ada di Kota Lewoleba, Kecamatan Nubatukan sekaligus Ibu Kota Kabupaten Lembata.
Baca juga: Pemda Lembata Dinilai Belum Bisa Edukasi Rabies, Karhutla dan ASF
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata melarang masyarakat untuk tidak mengirim ternak babi antar wilayah ataupun mengedarkan daging babi secara bebas untuk mencegah penularan ASF.
"Larangan ini bukan hanya berlaku bagi ternak babi yang masih hidup tetapi juga produk olahan dengan bahan dasar daging babi," ujar Theresia.
Dia menjelaskan, pencegahan dilakukan dengan melarang lalu lintas pengiriman ternak babi antar kecamatan dan desa perlu dilakukan. Mengingat saat ini belum ditemukan vaksin yang bisa mengatasi ASF.
Selain itu Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata terus melakukan edukasi dan sosialisasi. Salah satunya memanfaatkan mobil pengumuman dari Dinas Kominfo Kabupaten Lembata dengan berkeliling dari desa ke desa.
Baca juga: 4 Kelurahan di Lembata Zona Merah Rabies, Petugas Kesulitan Vaksin Anjing
Pemerintah daerah juga melarang warga memotong babi yang sudah sakit atau mati dan dagingnya dijual atau dibagi-bagikan.
"Ternak babi yang sudah mati sebaiknya dikubur secara mandiri," Petugas Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata, Gregorius Dengakae.
Dia mengungkapkan pentingnya biosekuriti kandang dan disinfeksi milik warga yang beternak babi dan memperhatikan higienitas pakan ternak. Pastikan, kata dia, pakan ternak sehat dan bebas dari virus ASF.
Berita TribunFlores.Com lainnya di Google News
Ratusan Ternak Babi di Lembata Mati
Dua Sampel Babi di Lembata Positif ASF
Virus ASF Serang Babi
Virus ASF di Lembata
Demam babi Afrika
Dinas Pertanian dan Peternakan Lembata
Kejari Sikka
Bank BRI Cabang Maumere
Kredit Usaha Rakyat
| Jelang Pilkada 2024, Kapolres Sikka Jalin Silaturahmi dengan MUI Sikka |
|
|---|
| Sepihak Berhentikan Guru Paud, Camat Solor Selatan: Kades Tak Punya Dasar |
|
|---|
| Ekspor Perdana Kerang Darah dari Labuan Bajo Tembus Pasar Thailand, Capai 6 Ton Lebih |
|
|---|
| 4 Kelurahan di Lembata Zona Merah Rabies, Petugas Kesulitan Vaksin Anjing |
|
|---|
| Pemda Lembata Dinilai Belum Bisa Edukasi Rabies, Karhutla dan ASF |
|
|---|