Kamis, 16 April 2026

Festival Wolobobo Ngada 2024

Kampus Bambu Turetogo Ngada, Satu-satunya Ekowisata Bambu di NTT

Kampus Bambu Turetogo di Kabupaten Ngada satu-satunya destinasi ekowisata bambu di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Tayang:
Penulis: Cristin Adal | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Kampus Bambu Turetogo Ngada, Satu-satunya Ekowisata Bambu di NTT
TRIBUNFLORES.COM / GG
PASAR BAMBU - Suasana Pasar Bambu di Kampus Bambu Turetogo Desa Dadawea, Kecamatan Golewa, Ngada, NTT, Sabtu 27 Juli 2024. 

TRIBUNFLORES. COM, BAJAWA- Kampus Bambu Turetogo di Kabupaten Ngada satu-satunya destinasi ekowisata bambu di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kampus Bambu Turetogo juga dioptimalkan menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Ngada. Menawarkan sensasi ekowisata sekaligus melihat khazanah bambu dalam budaya masyarakat Ngada.

Di tempat ini bambu tak sekadar warisan budaya dan produk hasil hutan. Manfaat bambu tak lagi terbatas sebagai "barang yang terbuang menjadi uang".

Perubahan ini terjadi setelah sentuhan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari membangun sekolah lapang bambu pertama di Indonesia yang berlokasi di daerah Turetogo.

Baca juga: Pengunjung Incar Souvenir Bambu di Pasar Napu Bheto saat Festival Wolobobo Ngada 2024

 

Pasar Bambu

Seperti halnya dalam Festival Wolobobo Ngada 2024, bambu satu dari tiga tema utama di antara tema kopi dan tenun. Pasar Napu Betho yang ada di Kampus Turetogo, Desa Dadawea ini menjadi destinasi wisata yang beda dari pasar lainnya.

Di pasar ini pembeli menggunakan koin bambu sebagai alat tukar untuk membeli kuliner atau produk UMKM lainnya. Sebelumnya pembeli atau wisatawan terlebih dahulu menukar uang dengan koin bambu, satu koin Rp 2 ribu.

Aktivitas jual beli di pasar ini terpantau pada Sabtu pagi, 27 Juli 2024. Pasar yang berada dalam hutan bambu ini tampak ramai dengan wisatawan lokal maupun mancanegara. Mereka tampak sibuk menukar koin dengan kuliner. Sebagian besar dari pangan lokal dan lainnya sovenir dari bambu.

Beberapa pengunjung tampak meringkuk menahan dingin sambil menikmati hiburan musik dan atraksi tarian. Sementara itu pengunjung yang lainnya memotret panorama dan suasana di Pasar Napu Betho.

Warisan Budaya Masyarakat Ngada

Selain aktivitas jual beli, YBL memfasilitasi talkshow yang bertajuk "Bambu Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Ngada”. Kegiatan ini berlangsung di Pasar Napu Behto, Kampus Bambu Turetogo, Kecamatan Golewa, Sabtu, 28 Juli 2024 pagi.

Talkshow ini menghadirkan narsumber dari tokoh adat, anak muda, pemerintah Kecamatan Golewa, dan Pemda Ngada. Tujuannya untuk mengedukasi generasi muda di antaranya para siswa dan mahasiswa yang hadir saat itu.

Marsel Selu Ketua Adat Wogo dalam talkshow itu mengatakan, bambu menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Ngada khususnya Golewa. Material utama untuk membuat rumah adat maupun tempat tinggal sejak dulu.

"Bambu ini dari dulu digunakan untuk bangun rumah tinggal maupun untuk rumah adat sejak nenek moyang," kata Marsel Selu.

Marsel juga menjelaskan cara memotong atau memanen bambu harus dilakukan saat bulan gelap. Begitu pun dengan waktu yang tepat saat memotong bambu. Tradisi ini menurutnya sudah diwariskan sejak dulu.

"Kalau kita panen saat bulan terang (purnama) itu buku pada bambu cepat busuk atau mati. Tapi kalau potong saat bulan gelap, buku bambu itu kuat dan tidak rusak. Ini sudah dari nenek moyang kami, "ungkap Marsel.

Ekowisata Bambu

Kampus Bambu Turetog satu-satunya ekowisata bambu di Pulau Flores bahkan NTT. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, Oktavianus Botha Djawa di Pasar Bambu Turetogo, Bajawa.

Ekowisata merupakan bentuk wisata yang ada di kampus bambu ini. Mengedepankan kelestarian bambu, memberi manfaat secara ekonomi, dan mempertahankan budaya masyarakat Ngada.

Di dalam area kampus terdapat hutan bambu yang terjaga kelestariannya. Wilayah pembibitan berbagai jenis bambu, tanaman sela, porang dan tanaman pewarna tradisional.

"Kampus bambu ini potensinya luar biasa. Kampus bambu ini merupakan destinasi wisata dan masuk dalam list pariwisata di Flores, " kata Oktavianus.

Pasar Bambu Sekali Sebulan

Maria Wae salah seorang pelaku UMKM asal Mataloko yang ikut menjual pangan lokal di Pasar Napu Betho pada Sabtu, 27 Juli 2024 mengaku senang dengan adanya festival ini.

Namun aktivitas pasar bambu di Turetogo hanya sekali dalam setahun saat Festival Wolobobo Ngada. Menurut Maria, penjualan di pasar bambu baiknya bisa dijalankan sekali dalam sebulan.

"Kalau bisa jangan hanya saat festival ini saja. Baiknya dilakukan sekali dalam sebulan,"pungkasnya.


Incar Souvenir Bambu

Sebelumnya, rangkaian kegiatan Festival Wolobobo Ngada 2024 satu diantaranya adalah Pasar Napu Bheto di kampus bambu Turetogo, Desa Dadawea, Kecamatan Golowa, Kabupaten Ngada, Sabtu 27 Juli 2024.

Pasar yang dimulai sekitar pukul 08.00 Wita itu dipadati pengunjung. Mereka berburu berbagai jenis kuliner khas Ngada hingga souvenir turunan Bambu.

Ada 22 komunitas yang terlibat dalam pasar Napu Betho dengan menyiapkan berbagai macam jenis barang makanan termasuk kopi, tenun hingga sayur-sayuran segar.

Uniknya, para pengunjung menukar uang dengan koin bambu. Per koin nilainya 2000 rupiah. Koin itulah yang digunakan untuk membeli kuliner atau barang lainnya disana.

Panitia dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) saat itu menyiapkan produk turunan bambu yaitu tumbler bambu , gelas bambu, kotak tissu, keranjang buah, teh bambu dan beberapa produk lainnya.

""Ada phone holder, yang diproduksi di Rumah Produksi bersama {RPB) di labuan Bajo," ujar Mery Muda, panitia dari YBLL.

Mery menyebutkan Phone holder merupakan produk Bambu yang cukup diminati oleh beberapa pengunjung di meja sovenir bambu.

Phone holder juga produk yang ramah lingkungan dan juga bisa dipakai pada saat meeting dan kerja kerja yang berhadapan dengan HP.

Produk turunan Bambu ini merupakan upaya yang dilakukan untuk memberikan nilai tambah Bambu.
"
"Banyak yang berkunjung di meja souvenir bambu dan membeli speaker bambu, phone holder dan beberapa produk lainnya," ujarnya.

Sementara seorang pengujung, Maria Wae (28) mengaku terkesima melihat kegiatan Pasar tersebut.

Ia mengatakan suasananya sangat beda dengan Pasar pada umumnya. Karena disana transaksinya menggunakan koin bambu yang disediakan panitia.

"Saya baru pertama ikut. Ternyata asik juga, karena aktivitasnya di alam terbuka dibawa pohon bambu. Yang menarik lagi yaitu pengujung membeli barang atau kuliner dengan koin bambu," ujarnya.

Sementara itu, pelaku usaha Bravo start Mataloko, Benediktus Lagho, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan itu.

Benediktus menyarankan agar kedepan Pasar Napu Bheto diadakan disetiap venue kegiatan. Sehingga semua pengujung mengenal transaksi non tunai dengan menggunakan koin bambu.

Ia saat itu menyiapkan berbagai produk seperti kue Rano dan tenun ikat.

"Bagus kalau kegiatan seperti ini ada di venue utama Festival di taman Kartini Bajawa,"ujarnya.

Pantauan TRIBUNFLORES. COM pengujung tampak antusias disana. Mereka dihibur dengan atraksi budaya, tarian ja'i, tarian kolosal, grup musik citra bakti Ngada.

Tampak juga pengunjung mancanegara ikut membeli kuliner hingga produk turunan bambu. Kegiatan berjalan aman dan lancar hingga usai. (gg).

Berita TRIBUNFLORES. COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved