Festival Tedo Tembu Wesa Wela 2024
Menjaga Sakralnya Nilai Tradisi So Bhoka Au di Desa Pemo, Kelimutu Ende, NTT
Ritual So Bhoka Au atau bakar tunas bambu aur masih terpelihara hingga kini di Kampung Pemo, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu,Ende, NTT.
Penulis: Cristin Adal | Editor: Cristin Adal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/RITUAL-ADAT-Masyarakat-adat-Desa-Pemo-menggelar-ritual-Joka-Ju-dari-hasil-So-Bhoka-Au.jpg)
TRIBUNFLORES. COM, ENDE- Ritual So Bhoka Au atau bakar tunas bambu aur masih terpelihara hingga kini di Kampung Pemo, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ritual So Bhoka Au merupakan tradisi untuk menentukan tanggal ritual Nggua Bapu Joka Ju atau tolak bala sebelum musim tanam di Kampung Pemo. Hal ini mengingat, masyarakat adat Kampung Pemo sebagian besar menggantukan hidup pada sektor pertanian.
Tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat Kampung Pemo, mereka meyakini bahwa hasil yang berlimpah dan kehidupan yang baik adalah berkat Tuhan, leluhur, dan alam. Sehingga ritus ini tidak pernah dilewatkan dan selalu dilakukan setiap tanggal 1 Oktober pada pukul 06.00 Wita di Kopo Gana.
Tradisi ini pun hanya dilakukan lembaga adat, para Mosalaki Kampung Pemo yang berjumlah 11 orang dan Aji Ana (keluarga Mosalaki). Dalam ritus bakar tunas bambu aur sebagai elemen utama. Melalui tunas bambu aur ini Mosalaki memohon petunjuk Tuhan, leluhur dan alam agar memberikan tanda kapan dimulainya ritual Nggua Bapu Joka Ju.
Baca juga: Ritual So Bhoka Au, Festival Tedo Tembu Wesa Wela di Pemo Kelimutu Ende Siap Digelar 20 Oktober 2024
Stevanus Setu (76), Mosalaki Pu’u Kampung Pemo mengatakan, ritus ini mereka teruskan dari nenek moyang atau leluhur Kampung Pemo. Mosalaki Kampung Pemo memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga ulayat dan menjaga tradisi.
Bagi Stevanus, ritus ini tidak sekadar tradisi tahunan tetapi sebagai wujud tanggung jawab untuk anak cucu atau generasi penerus Kampung Pemo. Tata ritual, elemen ritual dan tempat ritual masih sama. Begitu pun suasana sakral yang terus dijaga.
Seperti tahun ini ritual So Bhoka Au dilaksanakan, Selasa 1 Oktober 2024 tak berbeda dari tahun sebelumnya. Sebelum ritus dan masuk ke Kopo Gana, para Mosalaki wajib mengenanakan busana adat kebesarannya mulai dari Ragi (sarung untuk laki-laki), Luka (selendang), dan Lesu (pengikat kepala). Aji Ana hanya mengenakan Ragi. Mereka tak mengenakan alas kaki.
Sebelas Mosalaki berkumpul, mereka kemudian berjalan menuju Kopo Gana, tempat pelaksanaan ritual adat So Bhako Au yang berada di halaman rumah adat Mosalaki Wara Kamba atau di ujung timur kampung ini.
Baca juga: Harmoni Alam dan Ritual Nggua Bapu Joka Ju dalam Pesta Adat Sambut Musim Tanam di Desa Pemo Ende
Di Kopo Gana, sebelas mosalaki duduk mengelilingi meszbah batu melaksanakan ritual adat So Bhoka Au. Suasana khusyuk dan masyakarakat Kampung Pemo dilarang membuat bunyi-bunyian selema ritus berlangsung.
Kemudian, Mosalaki Pu'u memanjatkan permohonan kepada Tuhan, leluhur, dan alam agar ritual So Bhoka Au berjalan lancar. Kemudian Mosalaki Wera Kamba mulai melakukan pembakaran tunas bambu tersebut.
Pada saat proses bakar bambu, para mosalaki mulai menentukan angka dari angka yang tertinggi yaitu angka 20 dan diikuti angka ganjil ke bawahnya hingga angka tiga. Jika tahun sebelumnya, tanggal Joka Ju jatuh pada tanggal 23 Oktober, tahun ini Joka Ju dimulai tanggal 20 Oktober.
Saat disebutkan angka 20 bambu meletus, para mosalaki memeriksa bambu tersebut dan letusan bambu itu tegak lurus dari ujung hingga pangkal. Hasil ini sebagai tanda 20 hari ke depan, akan dilaksanakan ritual adat Joka Ju.