Kasus ASF di Nagekeo
Cegah ASF, Dinas Peternakan Nagekeo Larang Bawa Babi dari Daerah Terinfeksi Demam Babi Afrika
Penyakit ini, yang hingga kini belum ditemukan vaksin atau obat yang dapat mencegah maupun mengobati, berpotensi menyebar ke wilayah Nagekeo.
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, MBAY - Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo resmi mengeluarkan pengumuman resmi terkait merebaknya kasus kematian ternak babi akibat Penyakit African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Kabupaten Sikka pada awal tahun 2025.
Kasus serupa juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Nagekeo, meski masih dalam tahap pemeriksaan.
Penyakit ini, yang hingga kini belum ditemukan vaksin atau obat yang dapat mencegah maupun mengobati, berpotensi menyebar ke wilayah Nagekeo.
Dalam pengumuman yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Senin, 20 Januari 2025 itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Ir. Klementina Dawo, mengingatkan masyarakat dan peternak babi untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah pencegahan yang ketat.
Baca juga: Belum Ada Kasus Virus ASF pada Ternak Babi di Ende, Dinas Pertanian Antisipasi dengan Biosecurity
Adapun beberapa poin penting yang disampaikan dalam pengumuman tersebut.
Dijelaskan, pwnyakit ASF memiliki gejala klinis yang sangat mencolok, seperti demam tinggi, depresi, anoreksia (tidak mau makan), perdarahan pada kulit (terutama pada telinga, perut, dan kaki), keguguran pada induk bunting, sianosis (kebiruan pada kulit), muntah, diare, serta kematian dalam waktu 6-13 hari setelah gejala muncul. Angka kematian ternak babi akibat ASF dapat mencapai 100 persen.
Ditekankan pula bahwa ASF bukan penyakit zoonosis, artinya tidak menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran tentang bahaya bagi kesehatan manusia.
Sebagai langkah pencegahan utama, Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo menegaskan pentingnya penolakan terhadap pemasukan ternak babi dan produk babi, baik yang segar maupun yang telah diolah (seperti se’i, dendeng, dan roti babi), dari wilayah yang terinfeksi.
Peternak juga diminta untuk tidak membeli atau menjual ternak babi yang terindikasi sakit.
Peternak diminta untuk meningkatkan pengawasan di kandang dengan membatasi akses hanya untuk peternak atau petugas kandang yang memiliki kewenangan.
Langkah ini penting untuk mengurangi risiko penyebaran virus ASF.
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak babi, peternak disarankan memberikan pakan yang baik dan vitamin.
Selain itu, kata Ir Klementina, penting untuk tidak memberikan makanan dari limbah olahan babi kepada ternak babi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/BABI-alah-satu-hewan-ternak-milik-warga-Kabupaten-Nagekeo-Januari-2025.jpg)