Berita NTT
Kemenangan dari Selatan NKRI, SDN Papela NTT Harumkan Nama Indonesia Lewat Program Ecolitera
Di tengah riuh tepuk tangan dan lampu panggung yang terang, seorang perempuan dari ujung selatan Indonesia berdiri dengan suara bergetar.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/ECOLITERA-Potret-inovasi-Ecolitera-sampah-bercerita-dari-SDN-Papela.jpg)
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti
TRIBUNFLORES.COM, BA'A - Di tengah riuh tepuk tangan dan lampu panggung yang terang, seorang perempuan dari ujung selatan Indonesia berdiri dengan suara bergetar. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca.
"Aduh segemetaran ini. Kami dari kampung yang terpencil sampai Jakarta ini luar biasa," ucapnya lirih, disambut haru oleh seluruh hadirin.
Ia adalah Istini, Kepala UPTD SDN Papela, sekolah dasar kecil dari Desa Papela, Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Baca juga: Dosen Undana Latih Kader Posyandu Olah Biskuit SEJAGAT Atasi Masalah Kekurangan Gizi di Rote Ndao
Di panggung megah AIA Healthiest Schools 2025 di Jakarta, Jumat (30/5/2025), SDN Papela dinobatkan sebagai Juara 1 Nasional kategori Sekolah Dasar, mengalahkan lebih dari 3.000 sekolah dari seluruh Indonesia.
Namun kemenangan ini bukan sekadar tentang piala atau hadiah. Ini adalah kisah tentang harapan yang tumbuh dari keterbatasan, tentang semangat yang tak kenal lelah di pelosok negeri.
Ecolitera: Inovasi dari Pelosok
Kunci keberhasilan SDN Papela terletak pada program inovatif mereka Ecolitera atau Sampah Bercerita, sebuah gerakan yang memadukan kesadaran lingkungan dan literasi di tengah kondisi minim fasilitas.
Berawal dari keprihatinan terhadap tumpukan sampah dan rendahnya minat baca siswa, lahirlah empat pilar utama Ecolitera yakni Ecope, Literasi Kemasan, Pengolahan Ekoenzim dan Kebun Belajar Sekolah.
Siswa belajar menukar sampah dengan alat tulis, membaca label kemasan untuk memahami produk, dan mengolah sisa makanan menjadi cairan pembersih alami yang ramah lingkungan.
Di tengah segala keterbatasan, SDN Papela menciptakan laboratorium hidup, sebuah kebun sekolah yang mereka rawat bersama. Dari tanah yang kering, tumbuh harapan baru.
Bagi Istini, kemenangan ini bukan milik dirinya seorang.
"Ini kemenangan gotong royong. Milik semua guru, murid, orangtua dan seluruh warga Papela," ujarnya, Jumat (4/7/2025).
Program ini tak lahir sendirian. Dukungan datang dari berbagai pihak, Dinas Pendidikan dan Pertanian Rote Ndao, komunitas Bantu Guru Belajar Lagi (BGBL) dan semangat warga desa yang percaya bahwa pendidikan bisa menjadi jalan keluar dari keterbatasan.