Prakiraan Cuaca NTT
Cuaca Maumere Hari Ini Kamis 28 Agustus 2025: Cerah Berawan, Suhu Capai 33 Derajat Celcius
BMKG NTT memprakirkan cuaca Maumere, Kabupaten Sikka, Kamis (28/8/2025) cerah berawan dengan suhu berkisar 21-33 derajat celcius.
Penulis: Cristin Adal | Editor: Cristin Adal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Prakiraan-Cuaca-di-Flores-Hari-Ini-Selasa-6-Desember-2022.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- BMKG NTT memprakirkan cuaca Maumere, Kabupaten Sikka, Kamis (28/8/2025) cerah berawan.
Cuaca pagi cerah berawan, cuaca siang berawan, cuaca malam cerah berawan, dan cuaca dini cerah berawan.
Sementar suhu berkisar 21-33 derajat celcius dengan kecepatan angin 28 kilometer per jam.
Pada Kamis (28/8/2025) cuaca semua wilayah di NTT Sebagian besar cerah berawan pada pagi hari, siang hari berawan dan dini hari cerah. Untuk suhu terdingin 14-27 derajat celcius melanda wilayah Bajawa dan Ruteng.
Baca juga: Cuaca 27 Agustus-1 September 2025, BMKG: Waspada Potensi Hujan Signifikan di Musim Kemarau
Potensi hujan nihil untuk semua wilayah. Namun, BMKG mengimbau waspada angin kencang di wilayah Sabu Raijua.
BMKG mengingatkan angin kencang yang sifatnya kering berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah NTT.
Pada skala global, Dipole Mode Index (DMI) −0,91 menunjukkan IOD negatif lemah yang cenderung meningkatkan pasokan uap air ke Indonesia bagian barat.
NINO3.4 −0,22 (netral) dan SOI +2,0 (netral) tidak memberikan penguatan pembentukan awan yang berarti.
Baca juga: BMKG Ingatkan Warga Manggarai Waspada Kebakaran Hutan di Musim Kemarau
Madden Julian Oscillation (MJO) fase 3 saat ini mendukung konveksi di Indonesia bagian barat dan tengah, dengan sinyal yang lebih signifikan di Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Laut Flores, dan Laut Banda bagian barat.
Dalam beberapa hari ke depan MJO diperkirakan menguat dan bergeser ke fase 4, yakni semakin mendekati wilayah Indonesia.
Pada skala regional, potensi hujan diperkuat oleh gelombang Kelvin, Rossby Ekuator, dan Mixed Rossby Gravity (MRG) yang aktif di Sumatra, Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua. Selain itu, gelombang berfrekuensi rendah (low frequency) persisten di Lampung, sebagian Jawa dan Kalimantan, serta sebagian besar Indonesia timur.
Kondisi ini sejalan dengan anomali OLR negatif dan SST yang lebih hangat di sejumlah perairan, sehingga mampu meningkatkan peluang pembentukan awan hujan.
Berita TribunFlores.Com Lainnya di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.