Tahbisan Diakon Ritapiret
Tahbisan Diakon Ritapiret, Mgr Maksimus Regus: Hari Ini Kita Hadapi Era "Hidup Tidak Baik-Baik Saja"
Mgr. Maksimus mengajak umat melihat realitas zaman saat ini yang oleh para pemikir sosial disebut sebagai era precariousness.
Penulis: Cristin Adal | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Kothab-Uskup-Labuan-Bajo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menahbiskan 16 calon diakon dari enam keuskupan wilayah Nusa Tenggara dan Bali di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, Maumere, pada Kamis (11/6/2026).
- Dalam khotbahnya, Uskup merumuskan empat dimensi identitas diakon, yakni kesadaran pada kerapuhan dunia, kesetiaan dalam perkara kecil, kerahiman, dan kesaksian hidup sederhana di tengah tantangan zaman seperti godaan judi dan pinjaman online.
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mengingatkan pentingnya esensi kesederhanaan hidup bagi para pelayan altar dalam khotbah tahbisan diakon di Saint Peter's Hall, Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, Maumere, Flores, Kamis (11/6/2026) sore.
Dalam upacara sakral yang dihadiri umat dan rohaniwan dari berbagai keuskupan tersebut, Mgr. Maksimus melantik 16 putra terbaik dari wilayah Nusa Tenggara dan Bali menjadi diakon baru. Para diakon baru ini berasal dari Keuskupan Agung Ende (5 orang), Keuskupan Ruteng (4 orang), Keuskupan Larantuka (3 orang), Keuskupan Maumere (2 orang), Keuskupan Labuan Bajo (1 orang), dan Keuskupan Denpasar (1 orang).
Mengusung tema "Bertumbuh dalam Kesetiaan dan Berkembang dalam Pewartaan", Uskup memberikan refleksi mendalam yang kontekstual, kritis, namun disisipi humor segar. Mgr. Maksimus Regus, menyampaikan khotbah bernas yang memotret realitas sosial sekaligus menyentil kehidupan pastoral secara jenaka. Di awal khotbahnya, Mgr. Maksimus sempat berseloroh mengenai durasi.
"Khotbah tidak boleh lebih dari 8 menit. Harus diingat ini catatan untuk para imam, bukan untuk para uskup. Untuk para uskup boleh lebih. Pokoknya kamu dengar saja, saya omong apa kamu dengar," ujarnya disambut senyum umat.
Baca juga: Tahbiskan 16 Diakon di Seminari Ritapiret, Uskup Labuan Bajo: Jangan Jadi Pelayan di Atas Luka
Era Precariousness: Gempuran Pinjol, Judol, dan MBG
Mgr. Maksimus mengajak umat melihat realitas zaman saat ini yang oleh para pemikir sosial disebut sebagai era precariousness atau gelombang ketidakpastian.
"Kalau bapak-mama buka TikTok, maka akan muncul setiap kali seruan 'hidup kita tidak baik-baik saja'. Situasi ekonomi kurang baik, krisis ekologis, hingga kekacauan iklim. Banyak yang rapuh: hati, harapan, cinta, dan iman," kata Uskup.
Secara blak-blakan, Uskup juga menyentil fenomena sosial yang sedang melanda masyarakat.
"Muka kita juga banyak yang rapuh, mungkin menunggu datangnya MBG (Makan Bergizi Gratis) yang tidak kunjung hadir. Dompet kita juga rapuh karena menahan gempuran godaan pinjol (pinjaman online) dan judol (judi online). Anda bisa menambahkannya sendiri," kelakarnya.
Namun, Uskup menegaskan bahwa kerapuhan tidak boleh hanya dipahami sebagai kelemahan, melainkan kondisi dasar manusia agar saling bergantung, berempati, dan membangun solidaritas. Sesuai visi mendiang Paus Fransiskus, kerapuhan adalah lokus pelayanan, di mana Gereja harus hadir sebagai "rumah sakit lapangan" di tengah luka-luka dunia.
Baca juga: Mengenang 20 Tahun Wafatnya Santo Yohanes Paulus II, Paus Kedua yang Kunjungi Indonesia
4 Dimensi Hidup Diakon Baru
Kepada 16 diakon baru yang disebutnya masih "polos, lugu, bau kencur, unyu-unyu, dan belum kenal kerasnya dunia persilatan pastoral", Mgr. Maksimus merumuskan 4 dimensi pelayanan (tetrapolar) yang harus dihidupi:
1. Kesadaran pada Kerapuhan
Diakon tidak diutus ke dunia yang sempurna, melainkan ke dunia yang goyah. "Diakon yang efektif adalah yang berani masuk ke dalam kerapuhan manusia dan menyadari dirinya sendiri juga rapuh. Hadirlah di tempat yang seharusnya Anda hadir. Jangan mengalami kekacauan geografis pastoral; hadir di rumah itu-itu terus," sentil Uskup.
2. Kesetiaan (In Minimis Fidelis)
Kesetiaan diuji dalam guncangan badai dan perkara-perkara kecil harian (in minimis fidelis). Uskup mengingatkan para diakon baru untuk tahu diri. "Jangan sampai pada minggu pertama Anda sudah rebut posisi sebagai vikaris parokial, apalagi pastor paroki. Itu kalian mau kena kutik dari bapak-bapak rumah (pastor paroki)," ujarnya.
Mengutip mistikus Thomas de Kempis dalam buku The Imitation of Christ, Uskup mengingatkan, "Jika kamu mencari yang lain di luar salib Kristus dalam hidupmu, maka kamu sedang ditipu."
3. Kerahiman (Mercy)
Kerahiman adalah inti identitas yang harus nampak dalam tindakan belas kasih yang menyembuhkan. Terkait sikap "tangan terbuka", Uskup membagikan cerita jenaka tentang seorang pastor paroki saat malam Paskah.