Kamis, 30 April 2026

Berita Ende

Kasus HIV/AIDS di Ende Capai 170 Orang, Mayoritas Penderita adalah Pria

"Upaya kita yang pertama itu melakukan skrining untuk populasi berisiko misalnya ibu hamil, pasien IMS (Infeksi

Tayang:
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Kasus HIV/AIDS di Ende Capai 170 Orang, Mayoritas Penderita adalah Pria
TRIBUNFLORES.COM/ALBERT AQUINALDO
KEPALA DINAS - Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, dr Maria Avelina Peni saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/9/2025). 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ende mencatat, sejak tahun 2005 hingga 2025, jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah itu mencapai 170 orang. 

Dari jumlah itu, 60 orang diantaranya merupakan penderita HIV/AIDS baru berdasarkan hasil pemeriksaan tahun 2025. 

Data ini disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, dr Maria Avelina Peni melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maria Agustina Tondong kepada TribunFlores.com, Rabu (3/9/2025) siang. 

Dijelaskan Agustina Tondong rata-rata penderita HIV/AIDS di Kabupaten Ende didominasi kaum pria dengan rentang usia produktif. Dari total 170 penderita HIV/AIDS di wilayah itu, sudah banyak yang meninggal dunia. 

 

Baca juga: Polisi Ikut Menari Gawi Bareng Siswa di Ndona Ende, Aksi Humanis Ini Viral di Medsos

 

 

Meski tidak dijelaskan secara gamblang angka usia secara pasti namun secara umum, usia produktif merujuk pada rentang usia 15 hingga 64 tahun. 

"Upaya kita yang pertama itu melakukan skrining untuk populasi berisiko misalnya ibu hamil, pasien IMS (Infeksi Menular Seksual), terus pasien TB karena komorbid HIV adalah TB, itu wajib skrining HIV, terus populasi beresiko lainnya seperti di Lapas terus transgender, di tempat hiburan malam," terang Agustina Tondong.

Dari total 170 penderita HIV/AIDS di wilayah itu, sudah banyak yang meninggal dunia. Namun, Dinas Kesehatan Kabupaten Ende tidak membeberkan data kematian akibat HIV/AIDS.

Untuk ibu hamil dan beberapa populasi kunci lainnya, lanjut dia, biasanya dilakukan skrining di Puskesmas. Apabila reaktif, maka dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan dan bagi yang dinyatakan positif akan diberikan obat antiretroviral (ARV).

Golongan obat antiretroviral (ARV), yang bekerja menekan perkembangan virus HIV dalam tubuh, bukan menyembuhkan HIV secara total, melainkan untuk menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat dan meningkatkan kualitas hidup penderita HIV. 

Pengobatan utama HIV adalah Terapi Antiretroviral (ART) yang perlu dikonsumsi rutin seumur hidup, bukan menghilangkan virus tetapi mencegahnya berkembang biak, menjaga daya tahan tubuh, serta mengurangi risiko komplikasi dan penularan HIV. 

"Selain skrining, sekarang di beberapa puskesmas juga sudah melakukan pengobatan, jadi ada pengobatan itu bisa di rumah sakit bisa juga di beberapa puskesmas seperti Rukun Lima, Rewarangga, Onekore, Kota Ratu dengan Nangapanda dan Maurole," jelas Agustina. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved