Berita Ende
Pemdes Aendoko Bangun Jembatan Gantung di Kali Lowolaka, Ende
Kepala Desa Aendoko, Vinsensius Agustinus Kami, mengatakan jembatan gantung merupakan program prioritas yang telah direncanakan tahun 2025.
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/BANGUN-JEMBATAN-GANTUNG-Pemerintah-Desa-Aendoko-Kecamatan-Wewaria.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pemdes Aendoko membangun jembatan gantung sepanjang 36 meter di Kali Lowolaka dengan dana Rp512 juta dari Dana Desa 2025 untuk mengatasi keterisolasian warga.
- Hambatan Proyek: Progres pembangunan mencapai 60 persen, namun cuaca buruk dan tingginya debit sungai menghambat kelanjutan konstruksi.
- Manfaat bagi Warga: Jembatan ini akan menghubungkan Desa Aendoko dan Desa Fataatu Timur, memudahkan akses transportasi bagi warga, pelajar, dan pasien darurat, terutama saat musim hujan dan banjir.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
ENDE, TRIBUNFLORES.COM – Pemerintah Desa Aendoko, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, membangun jembatan gantung sepanjang 36 meter dengan lebar 1,5 meter untuk mengatasi keterisolasian warga akibat ketiadaan akses penyeberangan di Kali Lowolaka.
Pembangunan jembatan gantung tersebut dibiayai sepenuhnya dari Dana Desa murni Tahun Anggaran 2025 dengan total pagu anggaran sebesar Rp512.000.000.
Kepala Desa Aendoko, Vinsensius Agustinus Kami, mengatakan jembatan gantung ini merupakan program prioritas desa yang telah direncanakan sejak tahun 2025.
Namun, pelaksanaan pembangunan sempat terhenti akibat cuaca buruk dan banjir yang melanda Kali Lowolaka.
Baca juga: Aksi Simpatik Polisi dan Brimob di Ende NTT Bantu Warga Seberangi Kali Lowolaka Tuai Pujian
Anggaran Desa
“Pembangunan jembatan gantung ini murni dari Desa Aendoko dengan anggaran sebesar Rp512 juta. Tahun 2025 kemarin sempat terhenti karena cuaca, sekarang dilanjutkan, tetapi kembali terkendala banjir di Kali Lowolaka,” kata Vinsensius, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini progres pembangunan telah mencapai sekitar 60 persen.
Sejumlah pekerjaan utama telah diselesaikan, khususnya pembangunan tiang dan pilar penyangga di kedua sisi sungai.
Namun, tingginya debit air sungai menghambat akses pekerja menuju lokasi proyek sehingga aktivitas konstruksi belum dapat dilanjutkan.
Jembatan gantung ini nantinya akan menghubungkan Desa Fataatu Timur dan Desa Aendoko di Kecamatan Wewaria.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk dapat dilalui kendaraan roda dua serta pejalan kaki, termasuk pelajar.
Selama ini, ketiadaan jembatan di Kali Lowolaka memaksa warga dari dua desa yakni Desa Aendoko dan Desa Fataatu Timur di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende harus menyeberangi sungai secara langsung.
Saat musim hujan dan banjir, warga terpaksa nekat menerobos kali dengan lebar sekitar 40 meter demi menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Jalur untuk ke pasar dan ke kota kecamatan satu-satunya harus lewat Kali Lowolaka. Sekarang banjir besar, kalau ada urusan ke kecamatan harus melintasi dua kali. Kami ini desa paling terakhir setelah Desa Fataatu Timur baru ke Aendoko,” ujar Vinsensius.
Kondisi ini, kata dia, sudah berlangsung sejak lama.