Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Katolik Hari Ini Jumat 3 Oktober 2025, Bertobat Terus Menerus
Mari simak renungan Katolik hari ini Jumat 3 Oktober 2025. Tema renungan Katolik hari ini bertobat terus- menerus.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PATER-JOHN-Pater-John-Lewar-SVD.jpg)
Tidak! Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati. Barangsiapa mendengarkan kalian, ia mendengarkan Daku; dan barangsiapa menolak kalian, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
Saudari-saudara yang terkasih dalam Kristus. Kata mengecam dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya mengkritik atau mencela. Misalnya,
dalam ayat pembuka Injil hari ini disebutkan, “Sekali peristiwa Yesus mulai
mengecam kota-kota yang tidak bertobat meskipun di sana Ia melakukan paling
banyak mukjizat” (Mat 11:20a). Yesus mencela sikap orang-orang yang
menutup hati, tidak mau bertobat dan percaya, walau Yesus melakukan banyak
mukjizat.
Kota-kota yang dikecam oleh Yesus meliputi: Kota Khorazim. Kota tersebut tidak
dikenal dan hanya disebut dalam perikop ini dan dalam Injil Lukas (10:13). Kota
kedua, Kota Betsaida. Kota tersebut secara administrasi tidak termasuk wilayah
Galilea, namun dianggap sebagai Kota Galilea, karena para penduduknya
menggunakan bahasa yang sama sebagaimana digunakan oleh para penduduk
Galilea. Kota Ketiga, Kota Kapernaum. Kapernaum adalah “kota Yesus” sebab di
situlah tempat domisili Yesus selama Ia berkarya di Galilea.
Kita tidak mengenal kota-kota yang dikecam oleh Yesus. Hal ini tidak penting.
Hal yang penting adalah, memahami penyebabnya, mengapa Yesus mengecam
ketiga kota tersebut. Penginjil Matius sudah menyebutkan, yakni karena
penduduk Kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum tersebut tidak bertobat
meskipun di sana Yesus melakukan paling banyak mukjizat. Kenyataan tersebut
membantu kita untuk berefleksi sejenak tentang beberapa hal:
Pertama, menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus di hadapan umum, dan itu
dilakukan berkali-kali namun mereka tetap menolak Yesus (baca: tidak
bertobat) merupakan dosa yang sangat serius. Bagi Yesus, dosa itu lebih berat
daripada tidak mengenal Allah seperti penduduk di Kota Tirus dan Kota Sidon,
dan lebih berat daripada hidup asusila seperti dilakukan oleh para penduduk
Sodom.
Kedua, dosa penolakan terhadap Pribadi Yesus terjadi karena hati mereka
tertutup. Mereka adalah orang-orang yang keras hati sehingga tidak mampu
merasakan kuasa Allah yang bekerja dalam Diri Yesus, terutama lewat mukjizat mukjizat yang dilakukan-Nya. Dengan demikian, kecaman Yesus sangat
beralasan. Sebab, bertobat atau tidak mau bertobat sejatinya menyangkut soal
keselamatan; dan mereka tidak peduli akan hal ini.
Ketiga, penolakan para penduduk Kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum
bukanlah contoh yang baik bagi manusia segala zaman. Kita tidak perlu
mencontoh sikap mereka. Justru kita mesti melakukan hal yang sebaliknya,
yakni bagaimana kita yang lemah, rapuh dan gampang jatuh dalam dosa ini
selalu mengimbangi diri dengan keterbukaan dan kesediaan hati untuk bertobat
dan membarui diri terus-menerus. Bagaimana caranya? Gereja mengingatkan,
“Hati manusia bertobat, apabila ia melihat kepada Dia yang ditembusi dosa-dosa
kita” (Katekismus Gereja Katolik, No. 1432; Yoh 19:37).
Santo Paus Klemens dari Roma (35-97) berkata, “Marilah kita memandang
darah Kristus dan mengakui, betapa bernilai itu untuk Bapa-Nya; karena
dicurahkan demi keselamatan kita, ia membawa rahmat pertobatan untuk
seluruh dunia.” Benar, darah Kristus dicurahkan demi keselamatan kita, kaum
berdosa, yang tidak mampu menyelamatkan diri sendiri dan karena itu selalu
membutuhkan Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Hanya orang yang sombong dan
keras hati, merasa tidak membutuhkan karya keselamatan dari Kristus.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan yang berbelas kasih, agar kita selalu
membuka diri dan bersedia untuk bertobat, maka kita perlu memohon rahmat
Allah, berupa rahmat pertobat-an. Sebab, pertobatan adalah karya Allah.
Pertobatan adalah rahmat Allah. “Pertobatan itu pertama-tama adalah karya
rahmat Allah, yang membalikkan hati kita kembali kepada-Nya” (Katekismus
Gereja Katolik, No. 1432).
Salah satu upaya yang dianjurkan oleh Gereja bagi semua umat katolik adalah
penerimaan Sakramen Tobat. Pada kenyataannya, kemauan untuk mengakukan
dosa melalui sakramen tobat dilihat masih belum memadai. Rupa-rupa alasan di
balik keengganan itu. Rasa malu, belum tahu bagaimana mesti mengaku dosa,
tidak merasa bahwa dirinya berdosa, dan boleh jadi ada kesombongan
manusiawi karena keengganan mengakui kebobrokan diri.
Pengakuan dosa membutuhkan kerendahan hati untuk “menelanjangi” diri
dengan mengakui kekurangan dan kelemahan. Karena itu, pengakuan dosa
menuntut ketulusan, keberanian, dan kerendahan hati di hadapan Allah untuk
mengakui kedosaan dan menyesalinya (bdk. Bar. 1:15b-19.21-22). Yesus
sendiri mengecam keangkuhan dan ketegaran hati karena keengganan
mengakui kedosaan dan hidup berkeutamaan. Kecaman Yesus terhadap mereka
yang tidak mau bertobat merupakan penegasan dan peneguhan dalam kerangka
perutusan para murid untuk mewartakan pertobatan dalam menerima warta Kerajaan Allah (Bdk. Luk.10:16)
Apakah kita sudah mengakukan dosa-dosa? Sejauh mana kita sadari bahwa kita
telah berdosa? Apa upaya kita untuk melakukan pembaruan dalam hidup?
Doa: Tuhan Yesus, ampunilah dosa-dosaku, Berilah rahmat-Mu agar aku dapat
memperbaruai hidupku hari demi hari. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Jumat Pertama. Salam doa dan berkatku
untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan
Roh Kudus....Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News