Jumat, 17 April 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Hari Ini Senin 9 Maret 2026, Rendah Hati dan Terbuka

Mari simak renungan  Katolik hari ini Senin 9 Maret 2026. Tema renungan Katolik hari ini "Jangan keras hati,  bersikaplah rendah hati dan terbuka".

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Hari Ini Senin 9 Maret 2026, Rendah Hati dan Terbuka
TRIBUNFLORES.COM / GG
RENUNGAN HARIAN KATOLIK PATER JOHN LEWAR -Mari simak renungan  Katolik hari ini Senin 9 Maret 2026. Tema renungan Katolik hari ini "Jangan keras hati,  bersikaplah rendah hati dan terbuka". 
Ringkasan Berita:
  • Tema renungan Katolik hari ini "Jangan keras hati,  bersikaplah rendah hati dan terbuka".
  • Renungan Katolik hari ini ada dibagian akhir artikel ini.
  • Renungan Katolik hari ini untuk hari Senin pekan III Praspah, Perayaan fakultatif Santa Fransiska Romana, Janda, Santo Gregorius dari Nyssa, Uskup dan Bapa Gereja, Empat puluh Martir dari Sebaste, dengan warna liturgi ungu.

Oleh: Pastor John Lewar SVD

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan  Katolik hari ini Senin 9 Maret 2026.

Tema renungan Katolik hari ini "Jangan keras hati,  bersikaplah rendah hati dan terbuka".

Renungan Katolik hari ini ada dibagian akhir artikel ini.

Renungan Katolik hari ini untuk hari Senin pekan III Praspah, Perayaan fakultatif Santa Fransiska Romana, Janda, Santo Gregorius dari Nyssa, Uskup dan Bapa Gereja, Empat puluh Martir dari Sebaste, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Senin 9 Maret 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Katolik Senin 9 Maret 2026,  Yesus Ditolak di Nazaret

Bacaan Pertama 2 Raj 5:1-15a

Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia Tuhan telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi pahlawan tentara itu sakit kusta.

Sekali peristiwa orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel.

Anak itu menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya, “Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu.” Maka jawab raja Aram, “Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel.”

Lalu berangkatlah Naaman. Sebagai persembahan ia membawa sepuluh talenta perak, enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. 

Ia menyampaikan surat raja Aram itu kepada raja Israel, yang berbunyi, “Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya.”

Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata, “Allahkah aku ini, yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.”

Segera sesudah didengar oleh Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya, “Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah orang itu datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel.”

Kemudian datanglah Naaman dengan kuda dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan, “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata,

“Aku sangka, setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama Tuhan, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu, dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?”

Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya, “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.”

Maka turunlah Naaman membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah Naaman dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu.
Sesampai di sana majulah ia ke depan Elisa dan berkata, “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 42:2.3;43:3.4
Ref : Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

Seperti rusa yang merindukan sungai berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!

Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, sukacita dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!

Bait Pengantar Injil: Mzm 130:5.7

Aku menanti-nantikan Tuhan, dan mengharapkan firman-Nya, sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.

Bacaan Injil Luk 4:24-30

Ketika Yesus datang ke Nazaret, Ia berkata kepada umat di rumah ibadat, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.

Tetapi Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak janda di Israel, ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan, dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.

Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon.

Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel, tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.”

Mendengar itu, sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik  

"Jangan keras hati,  bersikaplah rendah hati dan terbuka"

Dalam Bacaan Pertama (2Raj. 5:1-15a) hari ini, kita mendengar kisah 
tentang Naaman, seorang panglima besar dari Aram. Ia terpandang, 
dihormati, memiliki kuasa, kekayaan, dan kedudukan. Namun di balik 
semua itu ia menyimpan luka yang tidak bisa disembuhkan oleh 
kekuasaan maupun kekayaan: penyakit kusta. Kisah ini mengingatkan 
kita pada kenyataan hidup manusia. Sering kali dari luar hidup seseorang 
tampak berhasil, kuat, dan terhormat, tetapi di dalamnya ada luka, 
kerapuhan, atau penderitaan yang tidak terlihat. 

Menariknya, jalan kesembuhan Naaman justru dimulai dari seorang gadis 
kecil yang tertawan, seorang yang tidak memiliki kuasa apa pun. Dari 
dialah muncul harapan. Tuhan sering bekerja melalui orang-orang yang 
sederhana, bahkan yang tidak kita perhitungkan. Dalam kehidupan 
sehari-hari kita pun sering mengalami hal yang sama. Nasihat tulus dari 
seorang anak, perhatian kecil dari seorang sahabat, atau kata-kata 
sederhana dari orang yang mungkin kita anggap biasa saja, kadang justru 
menjadi cara Tuhan menyentuh hidup kita. Ketika akhirnya Naaman 
datang kepada nabi Elisa, ia mengharapkan sesuatu yang spektakuler. Ia 
membayangkan nabi itu akan keluar, berdoa dengan gerakan yang 
mengagumkan, dan menyembuhkan dia secara dramatis. Tetapi yang 
terjadi justru sangat sederhana: ia hanya diminta mandi tujuh kali di 
sungai Yordan.

Naaman marah. Ia kecewa. Ia merasa cara itu terlalu sederhana, terlalu biasa, bahkan mungkin terasa merendahkan martabatnya sebagai panglima besar. Di sinilah kita melihat sisi 
manusiawi yang sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Kita 
sering menginginkan Tuhan bekerja secara luar biasa dalam hidup kita. 
Kita berharap solusi besar, tanda yang spektakuler, perubahan yang 
instan. Padahal sering kali Tuhan bekerja melalui hal-hal yang sangat 
sederhana: kesabaran dalam keluarga, kerendahan hati untuk meminta 
maaf, keberanian untuk memulai kembali, atau kesetiaan melakukan 
kebaikan kecil setiap hari. Kesembuhan Naaman baru terjadi ketika ia 
mau merendahkan dirinya. Ia akhirnya menuruti perintah yang sederhana 
itu. Ia turun ke sungai Yordan, membenamkan diri tujuh kali, dan saat 
itulah tubuhnya dipulihkan seperti tubuh seorang anak kecil. Kesembuhan 
itu bukan hanya kesembuhan fisik. Itu juga kesembuhan hati. Dari 
seorang panglima yang penuh kebanggaan, ia berubah menjadi seorang 
yang rendah hati dan akhirnya mengakui bahwa yang baik dan benar ada 
pada Tuhan.  

Dalam Injil Lukas( 4:24-30) hari ini, Yesus juga mengingatkan sesuatu 
yang sulit diterima oleh banyak orang. Ia mengatakan bahwa pada zaman 
nabi Elisa banyak orang kusta di Israel, tetapi hanya Naaman, orang 
asing dari Siria, yang disembuhkan. Yesus juga menyebut seorang janda 
dari Sarfat, yang bukan berasal dari bangsa Israel. Yesus sedang 
menyampaikan pesan yang sangat dalam: rahmat Tuhan tidak dibatasi 
oleh kelompok, asal-usul, atau kebanggaan manusia. Tuhan melihat hati 
yang terbuka, bukan identitas luar. Orang-orang di Nazaret marah karena 
mereka merasa memiliki kedekatan dengan Yesus. Mereka adalah orang 
sekampung-Nya. Mereka merasa berhak menerima mukjizat lebih dahulu. 
Tetapi justru sikap merasa “paling dekat” itu membuat hati mereka 
tertutup. Hal ini juga bisa terjadi dalam kehidupan iman kita sekarang. 
Kadang kita merasa sudah lama menjadi orang beriman, sudah sering 
berdoa, sudah aktif dalam kehidupan Gereja. Tanpa sadar kita mulai 
merasa “pantas” menerima berkat Tuhan. Namun iman sejati bukan soal 
merasa paling dekat dengan Tuhan, melainkan memiliki hati yang tetap 
rendah hati dan terbuka. 

Kisah Naaman dan sabda Yesus hari ini mengajak kita melihat diri kita 
sendiri. Apakah kita mau menerima cara Tuhan bekerja yang sederhana 
dalam hidup kita? Apakah kita bersedia merendahkan hati, belajar dari 
siapa saja, bahkan dari orang yang tidak kita duga? Sering kali justru 
dalam kesederhanaan itulah Tuhan menyembuhkan kita: menyembuhkan 
luka batin, memulihkan hubungan yang retak, memberi kekuatan untuk 
melanjutkan hidup, dan mengembalikan harapan yang sempat hilang. 
Di masa Prapaskah ini, kita diajak untuk menanggalkan kesombongan 
hati dan kembali pada sikap iman yang sederhana: percaya, taat, dan 
rendah hati di hadapan Tuhan. Karena ketika hati kita terbuka seperti itu, 
rahmat Tuhan selalu menemukan jalan untuk masuk dan mengubah 
hidup kita.  

Doa:

Tuhan, dalam kesibukan dan pergumulan hidup kami, bantulah kami 
mengenali cara-Mu yang sederhana namun nyata. Semoga kami tidak 
keras hati, tetapi mau percaya dan taat pada kehendak-Mu, sehingga 
hidup kami dipulihkan dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.  

Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Senin, hari ke 17 Masa Prapaskah. 
Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: 
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin . (Sumber: the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved