Kamis, 4 Juni 2026

Misa Sore Hari Minggu

Teks Misa Sore Minggu Palma 29 Maret 2026, Kisah Sengsara Tuhan

Mari simak teks misa sore Minggu 29 Maret 2026. Teks misa sorelengkap renungan harian Katolik.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Teks Misa Sore Minggu Palma 29 Maret 2026, Kisah Sengsara Tuhan
POS-KUPANG.COM/EKLESIA MEI
PERSIAPAN MISA- Mari simak teks misa sore Minggu 29 Maret 2026. Teks misa sorelengkap renungan harian Katolik. 

Sebab anjing-anjing mengerumuni aku,  gerombolan penjahat mengepung aku,  mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung;  mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubahku. (Refren) 

Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka,  dan mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku,  segeralah menolong aku! (Refren) 

Aku akan memasyhurkan nama-Mu  kepada saudara-saudaraku  dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah: kamu yang takut akan TUHAN,  pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub,  muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia,  hai segenap anak cucu Israel! (Refren) 

10. BACAAN KEDUA (Flp. 2:6-11)  

L : Bacaan dari Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Filipi  

Saudara-saudari, Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan 
dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!  

Demikianlah Sabda Tuhan.  
U  : Syukur kepada Allah.  

11. BAIT PENGANTAR INJIL (Fil. 2:8-9) 

P : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal 
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal 
P : Kristus sudah taat bagi kita; Dia taat sampai mati, 
bahkan sampai mati di kayu salib. * Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. 
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal 

12. INJIL (Mat. 27:11-54) 

P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut Matius.
Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.

Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?”
Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.”

Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran.

Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.

Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.

Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.”

Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!”

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”

Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”

Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.

Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya.

Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!”

Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.

Sesudah mengolok-olokkan Dia, mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.

Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.”

Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.

Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!”

Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.”

“Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.”

Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.

Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Ia memanggil Elia.”

Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.

Tetapi orang-orang lain berkata: “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.”

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

(Semua hening sejenak mengenangkan wafat Tuhan)

Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”

P : Demikianlah Injil Tuhan.  
U  : Terpujilah Kristus.  

13. RENUNGAN HARIAN KATOLIK

Saudara-saudari yang terkasih, kita barusan melaksanakan perarakan mengenangkan Yesus yang disambut gempita memasuki Yerusalem. Kita pun mendengarkan kisah sengsara Yesus. Ada kekontrasan antara suasana perarakan yang gegap gempita dan kisah sengsara yang berakhir dengan kematian Yesus. Mari kita renungkan satu dua poin dari bacaan-bacaan suci di hari ini.

Pertama, dedaunan dan ranting pohon menyambut Tuhan. Ada yang ironis dari penyambutan Yesus ini. Mereka menyebut “Hosanna” yang berarti “selamatkanlah kami!”, namun mereka menyambut seorang yang sederhana, yang kelihatannya bukanlah seorang raja. Ia datang menunggang keledai yang merupakan binatang yang sama sekali tidak cocok untuk lambang keperkasaan seorang raja.

Dia pun disambut dengan pakaian dan dedaunan. Bahkan ranting-ranting pohon juga dihamparkan untuk menyambut-Nya. Hal ini tentu amat berbeda dengan sambutan raja lainnya yang amat gemilang dengan panji-panji dan rombongan atau pasukan berkuda. Penyambutan ini sederhana sekali. Namun, pesannya cukup mendalam.

Dia bukanlah raja biasa, karena yang menyambut-Nya adalah seluruh alam, termasuk alam yang kelihatannya tidak ada gunanya. Penghamparan dedaunan dan ranting serentak memperlihatkan bahwa alam ciptaan pun menyambut kedatangan-Nya. Kita, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang istimewa, mesti menjadi wakil dari semua ciptaan yang memelihara kesatuan Kerajaan Allah.

Kita diminta untuk merawat bumi kita sehingga bersama mereka, kita pun bisa memuji Tuhan, Sang Pencipta kita semua. Perayaan Hari Minggu ini disebut juga dengan Minggu Palem atau Minggu Daun-daun. Hal ini serentak mengingatkan kita bahwa kita pun mesti menghargai alam agar bersama mereka, kita pun memuji Tuhan.

Kedua, Yesus, raja yang melayani. Dalam bacaan Injil, kita mendengarkan kisah sengsara Yesus. Hal ini agak kontras dengan warna di awal perayaan, yaitu suasana gegap gempita. Dalam sekejap, suasana menjadi amat berbeda. Kita memulainya dengan gembira, dan pada saat Injil, kita dibawa kepada penderitaan Tuhan.

Perayaan hari ini serentak menandai Pekan Suci, yang menghantar kita untuk masuk dalam misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Sejak dari hari ini, fokus atau perhatian kita diarahkan kepada misteri kudus ini. Kita diajak untuk merenungkan dengan sungguh-sungguh bahwa Tuhan kita adalah raja yang melayani kita.

Dia berusaha untuk menyelamatkan kita, karena Dia amat mencintai kita. Kita pun diajak untuk tidak takut menderita, terutama ketika kita berjuang demi kebaikan. Tuhan menderita demi kebaikan kita semua. Semoga kita senantiasa dihibur oleh kisah ini, ketika kita mengalami penderitaan dan kesusahan di dalam hidup kita. Tuhan memberkati.

Hening sejenak
Syahadat

P: Marilah menanggapi Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat:

Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa…

16. DOA UMAT  

P : Bersama Yesus yang taat sampai wafat, kita menghadap Bapa permohonan kita dengan memanjatkan 

P : Bagi Gereja yang menderita. Semoga Gereja yang sedang mengalami penderitaan diteguhkan dan tetap yakin bahwa sesudah cobaan akan datang pembebasan. Marilah kita mohon…. 

P : Bagi para pemimpin masyarakat. Semoga para pemimpin masyarakat tetap tabah dan teguh 
mengupayakan kesejahteraan umum dan kerukunan di tengah masyarakat. Marilah kita mohon…. 
P : Bagi saudara-saudari yang menderita. Semoga semua orang yang menderita mampu 
mempersatukan penderitaan dan kemalangan mereka dengan penderitaan Kristus demi keselamatan umat manusia. Marilah kita mohon…. 
P : Bagi kita semua yang hadir di sini. Semoga kita semua senantiasa tabah dan saling menolong untuk memikul salib hidup kita setiap hari. Marilah kita mohon…. 
P : Kita hening sejenak untuk menyerahkan doa dan permohonan pribadi kita masing-masing.  
[hening sejenak lalu lanjut]. 
P : Demikianlah ya Bapa, doa-doa permohonan yang kami sampaikan ke hadirat-Mu. Kabulkanlah demi jasa Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami. 
U : Amin 

17. KOLEKTE  

[Selanjutnya ada pengumpulan kolekte sebagai perwujudan cinta kepada Sang Sabda dan kepada sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu dihantar dan diletakkan di depan mimbar] diiringi lagu persembahan yang bernada Syukur Kepada Tuhan atau Ajakan Berbagi.  

18.  DOA PUJIAN  

[Sesudah Kolekte, Pemimpin membawakan Doa Pujian sambil berdiri di depan umat, menghadap ke altar dan umat berdiri dan setiap kali mendaraskan aklamasi bersama. 

P : Saudara-saudari terkasih, sungguh besar kasih Allah akan dunia ini. Ia telah mengaruniakan PutraNya yang Tunggal untuk menyelamatkan manusia, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya, memperoleh keselamatan. Maka marilah kita berseru: 
Sungguh besar kasih-Mu, Tuhan. 
U : Sungguh besar kasih-Mu, Tuhan. 
P : Kami memuji Engkau, ya Bapa, sebab Engkau mengutus Putra-Mu untuk menyelamatkan kami. Ia 
telah menghampakan Diri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, kecuali dalam hal dosa. Maka kami berseru:  
U : Sungguh besar kasih-Mu, Tuhan. 
P : Ia telah merendahkan Diri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib. Maka kami berseru:  
U : Sungguh besar kasih-Mu, Tuhan. 
P : Ya Bapa, Putra-Mu telah menderita bagi kami dan telah meninggalkan teladan bagi kami, supaya kami 
pun mengikuti jejak-Nya, yakni berani menderita demi kemuliaan nama-Mu dan demi kebahagiaan 
sesama. Maka kami berseru:  
U : Sungguh besar kasih-Mu, Tuhan. 
P : Dengan  demikian, ya Bapa, Engkau mempersiapkan kami, agar kami dapat merayakan Paskah 
dengan pantas, dan merasakan kegembiraan Kebangkitan Putra-Mu terkasih. Maka kami berseru:  
U : Sungguh besar kasih-Mu, Tuhan. 
P : Maka ya Bapa, dengan gembira hati, bersama seluruh umat beriman, dalam kesatuan dengan 

Bapa Suci Fransiskus, Bapa Uskup….. [nama Uskup setempat] dan Pastor Paroki kami... [nama pastor paroki setempat], kami melambungkan madah pujian bagiMu dengan berseru: 

[menyanyikan satu lagu bertemakan Puji Syukur yang sesuai] 

Menyusul Ritus Komuni. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan, yaitu (1) menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi umat diajak menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).  

19A. Cara A: DENGAN KOMUNI 

Sesudah Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan sesaat. Sesudah itu Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami sambil berdiri. 

P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari se-paroki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan. [Hening sejenak] 

20A. BAPA KAMI     

Berdiri 

P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa. 
U  : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti 
kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.  Sesudah doa Bapa Kami, dapat juga diadakan Salam damai. 

21A. SALAM DAMAI DAN KOMUNI 

Bila ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut: 

P : Marilah kita saling memberikan salam damai.  Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu 
menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata: 
P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.  
Hosti dan sibori ditunjukkan kepada umat: Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan
Nya. Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama. 
U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.  
Dengan khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata: 
P : Tubuh Kristus. 
U : Amin. 

Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni. ---------------------------------------------------------------------------------------------- 
19B. Cara B. TANPA KOMUNI 

P : Pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing. 

20B. BAPA KAMI     

Berdiri 

P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri. 
U  : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.  Dapat dilaksanakan Salam Damai.  
P : Marilah kita saling memberikan salam damai. 
Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari 
yang berada paling dekat saja. 

21B. DOA KOMUNI BATIN    

Berlutut/berdiri Pemimpin mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan 
Komuni Batin dengan rumusan ajakan sebagai berikut:  

P : Kini, mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati kita. 
P : Yesus bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:3-4).  [hening sejenak] 

P : Yesusku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan biarkan aku 
terpisah daripada-Mu. Amin. [hening sejenak] 

P : Dalam keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di 
sini bersama kita.  Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:  
P : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku.  Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.  
U  : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku.  Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.  

▪ Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga kali.  
▪ Lalu diberi saat hening secukupnya.  
▪ Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu Prapaskah.  

22. AMANAT PENGUTUSAN 

P : Saudara-saudari terkasih, Yesus pernah bersabda: 

“Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. 
Berbahagialah kamu, jika demi Aku kamu dicela dan dianiaya, dan jika kepadamu difitnahkan segala yang 
jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di surga”. Yesus sendiri telah memberi teladan bagi kita semua dengan rela menderita sengsara demi kebenaran. Ia dicela, dianiaya, dan difitnahkan segala kejahatan demi ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Sebagai murid-murid-Nya, kita pun sepantasnya meneladan Dia. Marilah kita senantiasa mohon kekuatan Allah agar tabah dan setia menghadapi berbagai 
tantangan hidup. 

23. DOA PENUTUP  

P : Marilah kita berdoa,  Ya Tuhan, kami yang telah dipuaskan oleh anugerah suci ini bersujud memohon kepada-Mu: Semoga sebagaimana berkat kematian Putra-Mu Engkau membantu kami mengharapkan apa yang kami 
imani, demikianlah pula berkat kebangkitan-Nya Engkau membantu kami mencapai apa yang kami tuju. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. 
U : Amin 

24. MOHON BERKAT TUHAN  

P : Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat Tuhan.  
[hening sejenak] 

P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal. [sambil membuat Tanda Salib pada diri sendiri]  

DALAM NAMA BAPA, DAN PUTRA, DAN ROH KUDUS.  

U : Amin.  
P : Perayaan Sabda kita ini sudah selesai.  
U  : Syukur kepada Allah.  

25. PENGUTUSAN  

P : Marilah pergi, kita diutus.  
U  : Amin.  

26. LAGU PENUTUP 

(Sumber P. Petrus Cristologus Dhogo, SVD dari Seminari Tinggi Santo Paulus Ledaler, Maumere,Flores, NTT /kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved