Dalam bacaan ini (2Tim. 2:8–15) menegaskan pusat pewartaan Paulus: Kristus telah dibangkitkan, dan pemberitaan itu wajib diteruskan tanpa malu. Paulus mengingatkan Timotius untuk bertekun, menanggung penderitaan demi Injil, dan menjadi pekerja yang dapat dipercaya. Fondasi iman kita adalah kebangkitan Kristusperistiwa yang menguatkan klaim Yesus sebagai Mesias yang hidup. Dalam injil (Mrk. 12:28–34), menampilkan sebuah momen reflektif: Yesus menanyakan bagaimana orang dapat menyamakan Mesias dengan anak Daud padahal Daud sendiri memanggil Mesias “Tuhan” dalam mazmur. Dengan menunjuk bait-bait Kitab Suci, Yesus menunjukkan bahwa Mesias lebih dari sekadar keturunan Daud; Dia memiliki posisi ilahi sekaligus manusiawi adalah inti misteri inkarnasi dan kerajaan-Nya. Pengakuan ini menantang cara pandang tradisional: Mesias bukan hanya penggenap silsilah, tetapi pribadi yang melampaui ekspektasi manusia. Refleksi permenungan adalah “Penggenapan janji”: Mesias sebagai penggenap janji dan kenyataan ilahi di mana Yesus menghubungkan nubuat Daud dengan hakikat Mesias yang melampaui teks kitab suci. Permenungan kita: apakah pengakuan kita terhadap Kristus hanya formal atau sudah memasuki pemahaman bahwa Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas hidup kita? “Panggilan pewartaan”: Panggilan untuk mewartakan kebangkitan tanpa malu. Paulus menempatkan kebangkitan sebagai pusat pewartaan. Permenungan kita: seberapa berani kita menyatakan Injil kebangkitan dalam perkataan dan perbuatan, terutama ketika itu menuntut pengorbanan? “Kepemimpinan”: Kepemimpinan bergaya pelayanan dan pengorbanan. Santo Bonefasius memberi contoh bahwa memimpin berarti siap menjadi saksi hingga akhir. Permenungan kita: bagaimana kita mempraktikkan pelayanan yang berani dan setia dalam peran kita sebagai imam, pemimpin komunitas, atau anggota jemaat biasa?
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, Yesus adalah Mesias yang menggenapi janji Daud sekaligus melampaui pengharapan manusia sebagai pribadi ilahi. Kedua, kebangkitan Kristus adalah inti pewartaan; kita dipanggil menyatakannya tanpa rasa malu. Ketiga, kepemimpinan Kristen menuntut kesetiaan dan kesiapan berkorban, teladan yang ditunjukkan oleh para martir seperti Santo Bonefasius. Tuhan memberkati kita. (Sumber the katolik.com/kgg).
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News