Rabu, 22 April 2026

Flores Bicara

NDC Berdayakan Anak Muda di Kawasan Taman Nasional Komodo Jadi Pemandu Wisata

Setiap aktivitas wisata tidak hanya memberikan kenyamanan bagi pengunjung, tetapi juga tetap menjaga integritas ekosistem kawasan.

Tayang:
Penulis: Cristin Adal | Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto NDC Berdayakan Anak Muda di Kawasan Taman Nasional Komodo Jadi Pemandu Wisata
TRIBUNFLORES. COM/FLORES BICARA
BINCANG KONSERVASI- Manajemen Konservasi PT Nusa Digital Kreatif (NDC), Malkrina Ule Penga (kiri), saat memaparkan standar layanan baru di kawasan Taman Nasional Komodo dalam program "Flores Bicara" Rabu (15/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • PT Nusa Digital Kreatif (NDC), sebagai mitra strategis pemerintah, mulai menerapkan standardisasi ketat bagi para pemandu alam (naturalist guide).Ā 
  • Memastikan bahwa setiap aktivitas wisata tidak hanya memberikan kenyamanan bagi pengunjung, tetapi juga tetap menjaga integritas ekosistem di situs warisan dunia tersebut.
  • Ā Salah satu pilar utamanya adalah memastikan seluruh personel memiliki kompetensi yang tersertifikasi.

Ā 

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO-Ā Melalui penataan layanan jasa pemanduan, pengelola berupaya menyelaraskan standar profesionalisme dengan komitmen pelestarian alam serta penguatan ekonomi masyarakat lokal di dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

PT Nusa Digital Kreatif (NDC), sebagai mitra strategis pemerintah, mulai menerapkan standardisasi ketat bagi para pemandu alam (naturalist guide). Memastikan bahwa setiap aktivitas wisata tidak hanya memberikan kenyamanan bagi pengunjung, tetapi juga tetap menjaga integritas ekosistem di situs warisan dunia tersebut.

Manajemen Konservasi PT NDC, Malkrina Ule Penga, menjelaskan bahwa mandat yang diberikan oleh pemerintah bertujuan untuk menyatukan standar layanan yang sebelumnya beragam. Salah satu pilar utamanya adalah memastikan seluruh personel memiliki kompetensi yang tersertifikasi.

"Kami bertanggung jawab penuh untuk menata serta menyatukan standar layanan yang sebelumnya beragam. Dampaknya sangat positif; kini ada kualitas dan keselamatan yang terjamin serta tarif yang jelas dan transparan," ujar Malkrina dalam diskusi daring Flores Bicara, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Komitmen NDC Merawat Konservasi di Taman Nasional Komodo Terus Bergeliat

Pemberdayaan Warga Lokal

Di tengah perbincangan mengenai modernisasi layanan, aspek kemanusiaan dan keterlibatan warga asli tetap menjadi prioritas. PT NDC mencatat, sebagian besar tenaga kerja yang terserap berasal dari desa-desa di dalam kawasan TNK. Sebanyak 80 persen pemandu merupakan warga Desa Komodo, sementara 20 persen lainnya berasal dari Desa Papagarang.

Keterlibatan ini dianggap krusial agar masyarakat lokal tidak menjadi penonton di tanah sendiri. Meski demikian, profesionalisme tetap menjadi harga mati. "Pemandu kami sudah memberikan pelatihan yang diadakan langsung oleh Lembaga LSP Pariwisata Bali Internasional agar mereka mengetahui cara pemanduan yang baik dan benar," tambahnya.

Selain pemberdayaan ekonomi melalui lapangan kerja, perusahaan juga menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR) untuk menopang infrastruktur warga, seperti pembangunan jembatan di Kampung Korora dan perbaikan tanggul di Papagarang untuk mencegah abrasi pantai.

Baca juga: Aksi Nyata di Taman Nasional Komodo, NDC Angkut 80 Karung Sampah dari Pantai Loh Liang

Keamanan dan Etika Lingkungan

Dalam operasionalnya, prinsip keselamatan menjadi landasan utama. PT NDC bekerja sama dengan pihak medis untuk melatih para pemandu dalam penanganan situasi darurat (medical check-up keselamatan). Di lokasi-lokasi dengan mobilitas tinggi seperti Pulau Padar, petugas disiagakan di setiap pos pantau lengkap dengan fasilitas pendukung seperti tandu.

Malkrina menekankan bahwa edukasi kepada wisatawan menjadi kunci dalam menjaga kelestarian satwa. Wisatawan diwajibkan mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang ketat, termasuk menjaga jarak aman minimal 4 meter dari satwa Komodo.

Terkait isu lingkungan, aturan mengenai sampah kini semakin diperketat. Di Pulau Padar, misalnya, diterapkan sistem pengecekan sampah bagi setiap pendaki.

Ā "Ketika mau tracking, nanti dicek dulu membawa sampah apa. Di saat kembali, pemandu akan memeriksa lagi; sampah tersebut harus dibawa balik lagi ke kapal. Kami tidak menyediakan tempat sampah di sana agar tamu memiliki inisiatif untuk membawa pulang sampahnya," tegas Malkrina.

Menjaga Kualitas Kunjungan

Menghadapi tantangan pembatasan jumlah wisatawan, pengelola menyatakan komitmennya untuk tidak sekadar mengejar angka kunjungan. Fokus utama kini bergeser pada manajemen rute dan edukasi yang mendalam guna meminimalkan dampak negatif terhadap alam.

"Kami di sini tidak mengejar jumlah pengunjung yang banyak tanpa kendali. Kami berusaha mengelola agar tetap dalam batas aman dengan pengaturan rute, pembatasan waktu kunjungan, dan edukasi yang ketat supaya memastikan aktivitas wisata tidak meninggalkan jejak negatif," pungkasnya.

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat citra Taman Nasional Komodo di mata internasional sebagai destinasi yang profesional, aman, dan berkelanjutan.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved