Sabtu, 9 Mei 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Pengukuhan 2 Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng, Gubernur NTT Soroti Peran Ilmu dan Budaya

Dua Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng dikukuhkan, yakni Prof. Maksimus Regus dan Prof. Sabina Ndiung.

Tayang:
Penulis: Robert Ropo | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Pengukuhan 2 Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng, Gubernur NTT Soroti Peran Ilmu dan Budaya
TRIBUNFLORES. COM/ROBERT ROPO
TERIMA SECARA ADAT - Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt bersama rombongan diterima secara adat dalam Pengukuhan Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng, Jumat 8 Mei 2026.  

 

Ringkasan Berita:
  • Dua Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng dikukuhkan, yakni Prof. Maksimus Regus dan Prof. Sabina Ndiung, sebagai capaian akademik penting bagi NTT.
  • Gubernur NTT menegaskan NTT sebagai wilayah “pinggiran” yang mampu melahirkan pemikir berdaya saing nasional dan global.
  • Pendidikan dan ilmu pengetahuan ditekankan sebagai hasil integrasi nilai iman, budaya lokal, dan kecerdasan logis untuk pembangunan manusia.
 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Pengukuhan dua Guru Besar di Unika Santu Paulus Ruteng menjadi penanda perjalanan intelektual Nusa Tenggara Timur (NTT) dari wilayah yang sering disebut pinggiran, namun mampu melahirkan pemikiran yang berdaya saing nasional bahkan global.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam sambutannya saat menghadiri pengukuhan Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng yang berlangsung di Aula GUT lantai 5 kampus tersebut, Jumat (8/5/2026).

Gubernur Melki menyampaikan proficiat kepada dua putra-putri terbaik NTT yang dikukuhkan sebagai Guru Besar, yakni Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si. (bidang keahlian Sosiologi Agama/Multikulturalisme) dan Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd. (bidang keahlian Pembelajaran Matematika Pendidikan Dasar/Asesmen Pembelajaran Matematika Pendidikan Dasar).

Baca juga: Kepala LLDIKTI Wilayah XV Kukuhkan 2 Guru Besar Unika St Paulus Ruteng

Perjalanan Intelektual NTT

Menurutnya, pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian akademik personal, melainkan penanda penting perjalanan intelektual NTT. Dari wilayah yang sering dianggap pinggiran, lahir pemikiran-pemikiran yang berdaya saing nasional bahkan global.

Gubernur Melki menilai tema yang diangkat dalam sidang ilmiah, yaitu “Menavigasi Ketidakpastian: Integrasi Nilai Iman dan Kecerdasan Logis yang Menggembirakan”, sangat relevan dengan kondisi zaman saat ini.

“Kita hidup dalam era yang ditandai oleh ketidakpastian, perubahan sosial yang cepat, disrupsi teknologi, krisis nilai, serta tantangan pendidikan dan kebudayaan. Namun di tengah ketidakpastian itu, kita diingatkan bahwa ada dua kekuatan besar yang dapat menjadi penuntun, yaitu iman yang memberi makna dan kecerdasan logis yang memberi arah. Keduanya, bila diintegrasikan secara harmonis, bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan yang membebaskan dan menggembirakan manusia,” ungkapnya.

Gubernur Melki juga memberikan apresiasi kepada Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si., sebagai sosok intelektual yang tidak hanya menggeluti dunia akademik, tetapi juga membaca realitas sosial dengan kepekaan nurani. 

Dalam kajian sosiologi agama dan multikulturalisme, ia menghadirkan perspektif penting bagi Indonesia, khususnya NTT, bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan sumber kekuatan sosial dan fondasi kebangsaan.

Baca juga: Unika Santu Paulus Ruteng Catat Sejarah Akademik, Lahirkan Lagi 2 Guru Besar

Sebagai akademisi, ia juga konsisten menerjemahkan nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja ke dalam bahasa publik yang relevan dengan konteks Indonesia dan budaya lokal. Tulisan serta refleksinya mengenai relasi agama, demokrasi, kemanusiaan, dan keadilan sosial memberi kontribusi penting bagi kehidupan kebangsaan.

"Pemikiran beliau tentang Gereja sebagai kekuatan sosial profetik mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada teori. Ilmu harus hadir dalam kehidupan nyata, membela martabat manusia, memperjuangkan keadilan sosial, serta memberi perhatian kepada masyarakat kecil dan kelompok pinggiran,"ujarnya.

Menurut Gubernur Melki, gagasan tersebut sangat strategis dalam konteks pembangunan NTT, yang tidak hanya bersifat teknokratis dan top-down, tetapi juga harus mendengar suara desa, komunitas adat, dan masyarakat akar rumput.

"Di sinilah Prof. Maksimus Regus menghadirkan sintesis yang kuat antara iman, ilmu, dan keberpihakan sosial. Namun, di balik ketajaman intelektual itu, beliau dikenal sebagai pribadi yang hangat dan rendah hati. Dalam khazanah kebijaksanaan Latin dikenal ungkapan fortiter in re, suaviter in modo teguh dalam prinsip, namun lembut dalam cara,"ujarnya.

Gubernur Melki juga memberikan apresiasi kepada Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd., yang dinilainya memberikan kontribusi penting dalam dunia pendidikan, khususnya melalui pengembangan etnopedagogi dan etnomatematika berbasis budaya lokal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved