Unika Santu Paulus Ruteng
Saat AI Ubah Cara Belajar, Rektor Unika Ruteng Ingatkan Hal Ini di Konferensi ICHELAC 6
Alih-alih mengeliminasi peran manusia, teknologi justru harus diposisikan sebagai jembatan untuk memperkuat martabat manusia,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Rektor-Unika-Ruteng-Buka-ICHELAC-6-secara-daring.jpg)
Ringkasan Berita:
- Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Agustinus Manfred Habur, membuka konferensi internasional The Sixth International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC 6) secara daring, Jumat (29/5/2026).
- Manfred menjelaskan, alih-alih mengeliminasi peran manusia, teknologi justru harus diposisikan sebagai jembatan untuk memperkuat martabat manusia, mendorong inklusivitas, mengembangkan kreativitas, serta memperluas pemahaman lintas budaya.
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah lanskap komunikasi, metode belajar-mengajar, hingga interaksi sosial global. Kendati demikian, pesatnya kemajuan teknologi ini dinilai tidak boleh menggeser nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi utama pendidikan.
Hal itu ditegaskan oleh Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic.Theol., saat membuka konferensi internasional The Sixth International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC 6) secara daring, Jumat (29/5/2026).
"Pendidikan tidak boleh kehilangan wajah kemanusiaannya. Teknologi tidak boleh menggantikan belas kasih, kebijaksanaan, etika, budaya, dan dialog yang bermakna," ujar Manfred, Jumat.
Baca juga: Gubernur NTT Sebut Pengukuhan Dua Profesor di Unika Ruteng Patahkan Stigma NTT Daerah Tertinggal
AI sebagai jembatan kemanusiaan
Manfred menjelaskan, alih-alih mengeliminasi peran manusia, teknologi justru harus diposisikan sebagai jembatan untuk memperkuat martabat manusia, mendorong inklusivitas, mengembangkan kreativitas, serta memperluas pemahaman lintas budaya.
Oleh karena itu, perguruan tinggi memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan yang menguasai aspek teknis teknologi.
"Institusi pendidikan tinggi juga harus membentuk pribadi yang memiliki integritas moral, kepekaan budaya, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab sosial," katanya lagi.
Tahun ini, ICHELAC 6 mengusung tema "Humanizing Education in the Age of Artificial Intelligence: Ethical, Cultural, and Linguistic Integration for Global Learning Ecosystem".
Menurut Manfred, tema tersebut menjadi alarm pengingat bagi dunia pendidikan global mengenai pentingnya menyelaraskan inovasi teknologi dengan nilai etika, keberagaman budaya, dan kekayaan bahasa.
Baca juga: Unika Ruteng Workshop Peningkatan Mutu Jurnal Terakreditasi Sinta dan Bereputasi Internasional
Kolaborasi akademik global
Masa depan ekosistem pembelajaran global, lanjut Manfred, sangat bergantung pada kemampuan institusi dalam mengharmoniskan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah humaniora, pendidikan, bahasa, dan budaya memegang peran sentral.
Konferensi internasional seperti ICHELAC dinilai menjadi ruang akademik yang strategis untuk mendistribusikan hasil riset, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta merumuskan solusi inovatif atas tantangan sosial di era digital.
Di akhir sambutannya, Manfred berharap para akademisi, peneliti, dosen, dan mahasiswa yang hadir melalui platform Zoom Meeting tersebut dapat memanfaatkan momentum ini secara optimal.
"Saya berharap seluruh peserta dapat terlibat dalam diskusi yang bermakna, membangun jaringan kerja sama yang kuat, serta menghadirkan gagasan yang memperkaya dunia akademik maupun implementasi praktis di komunitas masing-masing," pungkasnya.
Selvianus Hadun/Unika St Paulus Ruteng/Tribun Flores
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News