Minggu, 31 Mei 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Belajar dari Kebun "Lingko" Manggarai, Cara Merebut Kembali Ruang Sosial di Era Digital

Dr. Lian memperkenalkan filosofi Lingko atau Lodok, yang populer dengan sebutan filosofi jaring laba-laba khas masyarakat Manggarai.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Belajar dari Kebun "Lingko" Manggarai, Cara Merebut Kembali Ruang Sosial di Era Digital
TRIBUNFLORES.COM/HO-UNIKA ST PAULUS RUTENG
KONFERENSI - Akademisi Dr. Lian Jemali, S.Fil., M.Th., saat menyampaikan presentasi ilmiah berjudul “Reclaiming the Communal Space: Drawing Inspiration from The Manggarai Spiderweb Philosophy in the Age of Globalized Digital Learning”, Sabtu (30/5/2026). Dalam paparannya, ia menawarkan filosofi kearifan lokal budaya Manggarai sebagai solusi mengatasi dampak negatif era digital. 

Ringkasan Berita:
  • Salah satu pemikiran yang mencuri perhatian datang dari Dr. Lian Jemali, S.Fil., M.Th. Dalam presentasinya yang bertajuk “Reclaiming the Communal Space: Drawing Inspiration from The Manggarai Spiderweb Philosophy in the Age of Globalized Digital Learning”, Sabtu (30/5/2026), Dr. Lian menawarkan formula unik: mengatasi dampak negatif teknologi global dengan merawat kearifan lokal. 

 

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Konferensi International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC) ke-6 yang digelar Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng menjadi panggung refleksi kritis terhadap arah pendidikan di era modern.

Dalam forum yang berlangsung pada 29–30 Mei 2026 tersebut, para akademisi menyoroti tantangan nyata digitalisasi yang kian mengikis ruang sosial generasi muda.

Salah satu pemikiran yang mencuri perhatian datang dari Dr. Lian Jemali, S.Fil., M.Th. Dalam presentasinya yang bertajuk “Reclaiming the Communal Space: Drawing Inspiration from The Manggarai Spiderweb Philosophy in the Age of Globalized Digital Learning”, Sabtu (30/5/2026), Dr. Lian menawarkan formula unik: mengatasi dampak negatif teknologi global dengan merawat kearifan lokal.

Baca juga: Maximus Tamur Dorong Pembelajaran Matematika yang Humanis dan Berbasis Budaya di Era AI

Sisi Gelap Digitalisasi Pendidikan

Dr. Lian tidak menampik bahwa pembelajaran digital global membawa angin segar berupa akses informasi tanpa batas dan kemudahan konektivitas lintas negara. Namun, di balik kemudahan itu, ada harga mahal yang harus dibayar.

"Ada kebutuhan mendesak untuk merebut kembali dan memulihkan ruang komunal anak-anak," ujar Dr. Lian di hadapan peserta konferensi.

Ia memaparkan, penetrasi teknologi yang tidak diimbangi dengan benteng karakter telah memicu berbagai patologi digital. Mulai dari gejala isolasi diri, keterasingan sosial, kecanduan konten digital, hingga fenomena psikologis seperti Fear of Missing Out (FoMO) dan budaya pamer (flexing) di media sosial.

Menurut Dr. Lian, dunia pendidikan tidak boleh bersikap permisif atau sekadar berorientasi pada kecanggihan teknologi. Sekolah, guru, dan orang tua harus berkolaborasi menghadirkan kembali ruang interaksi yang harmonis agar teknologi tetap digunakan secara bertanggung jawab.

Baca juga: Saat AI Ubah Cara Belajar, Rektor Unika Ruteng Ingatkan Hal Ini di Konferensi ICHELAC 6

Filosofi Jaring Laba-Laba dan Tradisi Lonto Leok

Sebagai penawar atas isolasi digital tersebut, Dr. Lian memperkenalkan filosofi Lingko atau Lodok, yang populer dengan sebutan filosofi jaring laba-laba khas masyarakat Manggarai.

Dalam budaya lokal, jaring laba-laba bukan sekadar pola pembagian lahan komunal, melainkan simbol sakral keterhubungan. Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia, alam, leluhur, dan Tuhan adalah satu kesatuan jaringan kehidupan yang saling bergantung. Keseimbangan hidup hanya tercapai jika semua unsur ini berada dalam harmoni.

"Interkoneksi digital global seharusnya tidak memecah belah atau mengisolasi manusia. Sebaliknya, teknologi harus mengikat mereka dalam tatanan hidup bersama yang seimbang," tuturnya.

Tak hanya itu, ia juga menyodorkan tradisi Lonto Leok, yakni kebiasaan masyarakat Manggarai berkumpul dan duduk melingkar untuk bermusyawarah. Budaya ini sarat akan nilai kesetaraan, keterbukan, kesediaan mendengarkan, dan pencarian konsensus bersama.

Membangun Ekosistem yang Humanis

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved