Unika Santu Paulus Ruteng
Pandangan Mahasiswa Unika Ruteng Tentang AI Bukan Ancaman Tapi Peluang
Kefinlanius Hardiyono Jenali, mahasiswa Prodi PBSI Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Santu Paulus Ruteng Manggarai NTT bicara soal AI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Unika-Santu-Paulus-Ruteng-Pandangan-Mahahasiswa.jpg)
Ringkasan Berita:Kefinlanius Hardiyono Jenali, mahasiswa Prodi PBSI Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Santu Paulus Ruteng Manggarai NTT bicara soal AI.
TRIBUNFLORES.COM,RUTENG-Kefinlanius Hardiyono Jenali, mahasiswa Prodi PBSI Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Santu Paulus Ruteng Manggarai NTT bicara soal AI.
Menurut mahasiswa PBSI Unika Ruteng ini, AI bukan ancaman melainkan peluang besar bagi Kita.
"Semua Belakangan ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi topik yang tak pernah sepi diperbincangkan. Sebagian orang memandangnya dengan rasa takut dan khawatir pekerjaan akan hilang, privasi terancam, atau dunia menjadi semakin tidak manusiawi. Namun, jika kita mau melihat lebih jernih, AI justru hadir sebagai peluang besar yang bisa mengubah hidup kita menjadi lebih baik," paparnya kepada TRIBUNFLORES.COM di Ruteng, Senin, 8 Juni 2026 pagi.
Ia menjelaskan, AI membantu manusia bekerja lebih cerdas dan AI tidak dirancang untuk menggantikan manusia melainkan untuk membantu manusia bekerja lebih efisien.
Baca juga: Pandangan Nofriani Stasia Maman Mahasiswa Unika Ruteng Tentang Keluarga Sekolah Pertama
Di dunia medis, AI mampu mendeteksi penyakit seperti kanker lebih cepat dan akurat dibandingkan metode konvensional.
Di dunia pendidikan, AI bisa menyesuaikan materi belajar sesuai kemampuan tiap siswa. Di dunia bisnis, AI membantu menganalisis data dalam hitungan detik yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari.
"Ini bukan penggantian. Ini adalah kolaborasi. Membuka akses yang lebih merata. Salah satu hal yang paling saya kagumi dari AI adalah kemampuannya meratakan akses. Dulu, mendapatkan informasi berkualitas, bimbingan belajar, atau layanan profesional adalah hak mereka yang mampu secara finansial. Kini, dengan AI, siapa pun — terlepas dari latar belakang ekonominya — bisa mengakses pengetahuan dan bantuan yang sama. Ini adalah demokratisasi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya," ujarnya.
Tantangan Ada, Tapi Bisa Diatasi Tentu.
Ia menuturkan, dirinya tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Penyalahgunaan AI, bias algoritma, dan isu privasi adalah hal nyata yang perlu ditangani. Namun, tantangan ini bukan alasan untuk menolak teknologi — melainkan panggilan bagi kita untuk menggunakannya secara bertanggung jawab, dengan regulasi yang tepat dan literasi digital yang kuat.
Kesimpulan AI adalah cerminan dari kemampuan terbaik manusia dalam berinovasi. Alih-alih ditakuti, ia seharusnya disambut dengan pikiran terbuka dan kesiapan untuk beradaptasi.
Mereka yang mampuberdampingan dengan AI hari ini, adalah mereka yang akan memimpin masa depan esok hari. Pertanyaannya bukan lagi “apakah kita siap menerima AI?” melainkan “apakah kita siap tertinggal jika tidak ?.'
Berita TRIBUNFLORES.COM lainnya di Google News
Unika Santu Paulus Ruteng
FKIP Unika Santu Paulus Ruteng
Rektor Unika Santu Paulus Ruteng
TribunFlores.com
| Pandangan Nofriani Stasia Maman Mahasiswa Unika Ruteng Tentang Keluarga Sekolah Pertama |
|
|---|
| Asa Rumah Tenun Milenial Berdayakan Janda hingga Anak-anak di Kaki Ile Boleng, Adonara NTT |
|
|---|
| Jaga Tradisi, Pernikahan Suku Bajo di Nangahale Sikka Hidupkan Lagi Tari Manca hingga Kurintigi |
|
|---|
| 24 Jam Terakhir Gunung Lewotobi 9 Kali Letusan 14 Kali Gempa Hembusan |
|
|---|