Kamis, 11 Juni 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Opini Mahasiswa Unika Ruteng: Pendidikan Harus Mengubah Hidup, Bukan Sekadar Mencetak Nilai

Di banyak sekolah, keberhasilan pendidikan masih sering diukur dari angka-angka di rapor, nilai ujian, atau tingkat

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Opini Mahasiswa Unika Ruteng: Pendidikan Harus Mengubah Hidup, Bukan Sekadar Mencetak Nilai
TRIBUNFLORES.COM/HO-ORDIANA
Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Ordiana Putri Kasi Manggut 
Ringkasan Berita:
  • Pendidikan harus mengubah hidup, bukan sekadar mengejar nilai akademik.
  • Pembelajaran perlu relevan dengan kehidupan nyata dan didukung peran guru yang kuat.
  • Pemerataan akses, pendidikan vokasi, dan teknologi menjadi kunci peningkatan mutu pendidikan.
 
 

Oleh: Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Ordiana Putri Kasi Manggut

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Pendidikan seharusnya menjadi jalan bagi setiap anak untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Namun, hingga hari ini, saya masih sering bertanya: apakah sistem pendidikan yang kita jalankan benar-benar menyiapkan generasi muda untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya?

Di banyak sekolah, keberhasilan pendidikan masih sering diukur dari angka-angka di rapor, nilai ujian, atau tingkat kelulusan. Padahal, pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan prestasi akademik.

Pendidikan harus mampu membentuk karakter, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, serta membekali peserta didik dengan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, salah satu tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah kurikulum yang belum sepenuhnya terhubung dengan realitas lokal masyarakat. Banyak siswa yang hidup di lingkungan pesisir, pertanian, atau pedesaan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka. Namun, proses pembelajaran di sekolah sering kali berlangsung secara abstrak dan kurang mengaitkan materi dengan kondisi nyata yang mereka hadapi.

 

Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng Kritik Pendekatan Infrastruktur dalam Digitalisasi Pendidikan

 

 

Padahal, pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika siswa dapat melihat hubungan antara apa yang dipelajari di kelas dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, pelajaran sains dapat dikaitkan dengan penelitian kualitas air sungai di sekitar desa, sementara matematika dapat diajarkan melalui pengolahan data hasil panen atau tangkapan nelayan. Pendekatan seperti ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga membantu siswa memahami manfaat ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Dalam proses tersebut, peran guru menjadi sangat penting. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan pengetahuan dan membangun karakter. Karena itu, guru perlu mendapatkan dukungan yang memadai, baik melalui pelatihan berkelanjutan, akses terhadap sumber belajar yang relevan, maupun ruang untuk mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan kontekstual.

Sayangnya, sistem pendidikan masih sering menempatkan nilai ujian sebagai ukuran utama keberhasilan. Akibatnya, proses belajar cenderung berorientasi pada pencapaian angka, bukan pada pemahaman yang mendalam. Guru dan siswa sama-sama terdorong untuk mengejar hasil akhir, sementara proses pembentukan karakter dan keterampilan hidup sering kali terabaikan.

Padahal, di era yang terus berubah seperti saat ini, kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, berempati, dan menjaga integritas menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari melalui berbagai kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif.

Perkembangan teknologi juga membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Kehadiran internet, platform digital, dan kecerdasan buatan membuka akses yang lebih luas terhadap sumber belajar. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tidak semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Kesenjangan akses internet, keterbatasan perangkat, hingga kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi masih menjadi persoalan nyata, terutama di daerah terpencil. Karena itu, digitalisasi pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai pengadaan perangkat teknologi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan teknologi dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Selain sekolah, keluarga dan komunitas juga memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan. Pendidikan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada guru dan sekolah. Orang tua, tokoh masyarakat, pemuka adat, petani, nelayan, maupun pelaku usaha lokal dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi anak-anak.

Kolaborasi antara sekolah dan masyarakat akan menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya dan relevan. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan dari buku, tetapi juga belajar langsung dari kehidupan dan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Di sisi lain, pendidikan vokasi dan keterampilan hidup juga perlu mendapatkan perhatian yang sama dengan pendidikan akademik. Selama ini masih terdapat anggapan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pilihan kedua dibandingkan jalur akademik. Padahal, pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dunia usaha.

Pemerataan akses pendidikan berkualitas juga harus menjadi prioritas. Ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan masih terlihat jelas, baik dari sisi fasilitas, kualitas tenaga pendidik, maupun kesempatan belajar. Investasi pendidikan di daerah-daerah yang masih tertinggal merupakan langkah penting untuk mewujudkan pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Selain itu, sistem evaluasi pendidikan perlu diperbarui agar tidak hanya mengukur kemampuan menghafal. Penilaian berbasis proyek, portofolio, dan kinerja dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kemampuan siswa, termasuk kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan sosial mereka.

Pada akhirnya, perubahan pendidikan membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua pihak. Pemerintah, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat harus memiliki visi yang sama tentang pendidikan yang ingin diwujudkan.

Saya percaya pendidikan harus mampu mengubah hidup, bukan hanya mencetak nilai. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menghargai pengalaman lokal, membentuk karakter, mengembangkan keterampilan hidup, serta mempersiapkan generasi muda menjadi pribadi yang mampu menghadapi tantangan zaman dan memberi kontribusi bagi masyarakatnya.

Jika kita sungguh-sungguh ingin mentransformasi pendidikan Indonesia, maka fokus utama harus kembali kepada manusia. Pendidikan harus menjadi ruang untuk bertumbuh, belajar, dan menemukan makna hidup, bukan sekadar tempat mengejar angka-angka di atas kertas.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved